Sebagian Pokok-Pokok 'Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah - Komparasi Antara Klaim dan Realitas



Beberapa kalangan menyebut komunitas muslim Indonesia terbangun di atas madzhab ”Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah”. Sama halnya dengan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, Singapura, atau Thailand Selatan. Bersamaan dengan itu, terjadilah friksi dimana sebagian kelompok dikeluarkan oleh yang lainnya dari lingkup madzhab Ahlus-Sunnah. Tentu saja, urusan keluar-mengeluarkan itu tidak akan banyak berarti karena Ahlus-Sunnah bukanlah perusahaan yang dipimpin oleh seorang direktur sehingga berhak mengeluarkan karyawan sekehendak dirinya. Madzhab Ahlus-Sunnah punya kaidah dan aturan yang telah dikenal semenjak jaman generasi awal Islam. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengajak Pembaca untuk membandingkan antara pengakuan dan hakekat yang ada dalam madzhab Ahlus-Sunnah. Tapi,.... sebelum menginjak pada inti tulisan, ada baiknya kita ketahui apa itu makna Ahlus-Sunnah.
Tentang Ahlus-Sunnah
Penamaan Ahlus-Sunnah telah ada sejak generasi pertama Islam. Ketika menafsirkan firman Allah ta’ala :
يَوْمَ تَبْيَضّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدّ وُجُوهٌ فَأَمّا الّذِينَ اسْوَدّتْ وُجُوهُهُمْ أَكْفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُواْ الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu." (QS. Ali ‘Imran : 106); Ibnu ‘Abbas berkata :
حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة, وتسود وجوه أهل البدعة والفرقة
“Adapun orang yang putih wajahnya, mereka adalah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah; adapun orang yang hitam wajahnya, mereka adalah Ahlul-Bid’ah dan sesat”  [lihat Tafsir Ibnu Katsir  3/139; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1421].
Kemudian istilah ini menjadi sangat masyhur di era selanjutnya akibat munculnya berbagai penyimpangan dalam agama. Di antara ulama terdahulu yang menyebut istilah Ahlus-Sunnah di antaranya :
1.    Al-Hasan (Al-Bashri) rahimahullah berkata :
يا أهل السنة ترفقوا رحمكم الله فإنكم من أقل الناس
“Wahai Ahlus-Sunnah, berlaku baik/lembutlah ! Semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian. Karena sesungguhnya kalian adalah golongan yang paling sedikit dari kalangan manusia” [Syarh Ushuuli I’tiqaad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh Al-Laalikai 1/57, tahqiq : Ahmad bin Mas’ud bin Hamdan, Cet. 2/1411].
2.    Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah berkata :
إني أخبر بموت الرجل من أهل السنة وكأني أفقد بعض أعضائي
“Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus-Sunnah, seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku” [idem, hal. 60].
3.    Malik bin Anas rahimahullah berkata :
أهل السنة الذين ليس لهم لقب يعرفون به، لا جهمي ولا قدري ولا رافضي
Ahlus-Sunnah adalah orang-orang yang tidak mempunyai laqab/gelar tertentu yang mereka dikenal dengannya. (Mereka) bukanlah Jahmiy, bukan Qadariy, dan bukan pula Rafidliy” [Al-Intiqaa’ oleh Ibnu ‘Abdil-Barr, hal. 35].
4.    Al-Waki’ (guru Al-Imam Asy-Syafi’i) rahimahullah berkata :
أهل السنة يقولون : الإيمان : قول وعمل ، والمرجئة يقولون : الإيمان قول ، والجهمية يقولون : الإيمان : المعرفة
Ahlus-Sunnah mengatakan : Iman itu perkataan dan perbuatan. Murji’ah mengatakan : Iman itu perkataan saja. Adapun Jahmiyyah, mereka mengatakan : Iman itu hanya ma’rifat saja” [Asy-Syari’ah oleh Al-Imam Al-Ajurri 1/288, tahqiq : Al-Walid bin Muhammad An-Nashr; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1417].
5.    Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata ketika menjelaskan beberapa prinsip aqidah dalam masalah taqdir:
مثل حديث: «الصادق المصدوق» ومثل ما كان مثله في القدر والرؤية والقرآن وغيرها من السنن مكروه، ومنهي عنه، لا يكون صاحبه، وإن كان بكلامه سنة من أهل السنة حتى يدع الجدال ويسلم. ويؤمن بالآثار
“…..(Tidak boleh baginya untuk berbicara tanpa ilmu) sebagaimana hadits Ash-Shadiqul-Mashduq (yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam) dan hadits-hadits yang semisal dalam masalah taqdir, ru’yah (yaitu melihat Allah di surga kelak bagi kaum mukminin Abu Al-Jauzaa’), Al-Qur’an, dan yang lainnya dari sunnah-sunnah. Hal ini adalah dibenci dan dilarang. Pelakunya tidak termasuk Ahlus-Sunnah – walaupun perkataan (kadang) mencocoki sunnah – sampai ia meninggalkan perdebatan dalam masalah-masalah tersebut dan mengimani atsar” [Ushulus-Sunnah lil-Imam Ahmad bin Hanbal dari riwayat ‘Abdus bin Malik Al-‘Athaar, point ke-12; Maktabah Al-Misykah].
6.    Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata :
وأما الصواب من القول في رؤية المؤمنين ربهم عز وجل يوم القيامة ، وهو ديننا الذي ندين الله به ، وأدركنا عليه أهل السنة والجماعة فهو : أن أهل الجنة يرونه على ما صحت به الأخبار عن رسول الله
“Adapun yang benar dari permasalahan melihatnya kaum mukminin kepada Rabbnya ‘azza wa jalla di hari kiamat, maka hal itu merupakan agama kami yang kami beragama dengannya. Dan kami mengetahui bahwa Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah berpendapat bahwa Ahlul-Jannah akan melihat Allah sesuai dengan khabar yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” [Sharihus-Sunnah oleh Ath-Thabari hal. 4 – Maktabah Al-Misykah : www.almeskhat.net/books].
7.    Dan lain-lain
Adapun pengertian/definisi dari Ahlus-Sunnah (wal-Jama’ah), maka Ibnul-Jauzi rahimahullah menjelaskan :
ولا ريب في أن أهل النقل والأثر المتبعين آثار رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وآثار أصحابه هم أهل السنة لأنهم على تلك الطريق التي لم يحدث فيها حادث : وإنما وقعت الحوادث والبدع بعد رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأصحابه .
“Tidak dapat diragukan lagi bahwa Ahlun-Naql wal-Atsar adalah orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam beserta para shahabatnya. Mereka adalah Ahlus-Sunnah, karena mereka berada di atas jalan tersebut yang di sana tidak ada hal-hal yang baru diada-adakan. Sebab, hal-hal yang baru dan bid’ah itu baru muncul sepeninggal Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya” [Talbis-Iblis oleh Ibnul-Jauzi 1/24, tahqiq : Dr. As-Sayyid Al-Jumailiy; Daarul-Kitaab Al-‘Arabiy, Cet. 1/1405].
Abu Muhamad bin Hazm (Ibnu Hazm) rahimahullah berkata :
وأهل السنة الذين نذكرهم أهل الحق ومن عداهم فأهل البدعة فإنهم - إي أهل السنة - الصحابة رضي الله عنهم وكل من سلك نهجهم من خيار التابعين رحمة الله عليهم، ثم أصحاب الحديث ومن اتبعهم من الفقهاء جيلا فجيلا إلى يومنا هذا ومن اقتدى بهم من العوام في شرق الأرض وغربها رحمة الله عليهم
“Ahlus-Sunnah yang kami sebutkan adalah Ahlul-Haq, sedangkan selain mereka adalah ahlul-bid’ah. Sesungguhnya mereka (Ahlus-Sunnah) adalah para shahabat radliyallaahu ‘anhum dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka dari kalangan tabi’in – semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka, kemudian Ashhaabul-Hadits dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan fuqahaa, generasi demi generasi, sampai sekarang ini. Demikian pula orang-orang yang mencontoh mereka dari orang-orang awam di bagian Timur dan Barat bumi ini. Semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka semua” [Al-Fashlu fil-Milal wal-Ahwaa’ wan-Nihaal oleh Ibnu Hazm 2/113 – melalui perantaraan ’Aqiidatu Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah fish-Shahaabatil-Kiraam oleh Dr. Naashir bin ’Ali Alusy-Syaikh 1/29; Maktabah Ar-Rusyd, Cet. 1/1413]
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
لأنهم متمسكون بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، وما اتفق عليه السابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان
“Karena mereka (Ahlus-Sunnah) adalah orang-orang yang berpegang-teguh kepada Kitabullh (Al-Qur’an) dan Sunah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan apa-apa yang disepakati oleh As-Saabiquunal-Awwaluun dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” [Majmu’ Al-Fataawaa oleh Ibnu Taimiyyah 3/375, takhrij : ’Aamir Al-Jazzaar & Anwar Baaz; Daarul-Wafaa’, Cet. 3/1426].
Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
وهم أهل السنة والجماعة : المتمسكون بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وبما كان عليه الصدر الأول من الصحابة والتابعين وأئمة المسلمين في قديم الدهر وحديثه
“Mereka adalah Ahlus-Sunnah : (Yaitu) orang-orang yang berpegang-teguh pada Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan pada apa-apa yang ada pada generasi awal dari kalangan shahabat, tabi’in, dan imam-imam kaum muslimin, baik pada masa dahulu dan sekarang” [Tafsir Ibnu Katsir 3/434 – melalui perantaraan Ilmut-Tauhid ‘inda Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh Dr. Muhammad Yusriy hal. 23, Cet. Th. 1425].
Al-Alusiy rahimahullah berkata :
(اعلم) أن أهل السنة والجماعة هم أهل السلام والتوحيد، المتمسكون بالسنن الثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في العقائد والنحل والعبادات الباطنة والظاهرة......فإن السنة في الأصل تقع على ما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم، وما سنه أو أمر به من أصول الدين وفروعه،......وتطلق أيضا على ما كان عليه السلف الصالح في مسائل الامامة والتفضيل، والكف عما شجر بين أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم
“(Ketahuilah) bahwasannya Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, mereka adalah Ahlul-Islam wat-Tauhid, orang-orang yang berpegang-teguh pada sunah-sunnah yang telah tetap dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hal aqidah, madzhab, dan ibadah baik secara bathin ataupun dhahir….. . Kata As-Sunnah itu pada asalnya adalah setiap perkara yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berada di atasnya dan apa yang telah sunnahkan atau perintahkan dengannya, baik dalam permasalahan ushuluddin maupun permasalahan furu’….. (Kata ini) juga dimutlakkan pada setiap perkara yang mana as-salafush-shalih berada di atasnya, baik dalam masalah imamah, pengutamaan (di antara shahabat), maupun menahan diri dari setiap perkara yang para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berselisih padanya” [Ghayaatul-Amaaniy fir-Radd ‘alan-Nabhaaniy oleh Mahmud Syukri Al-Alusi 1/428].
Dari penjelasan beberapa imam di atas, maka dengan bahasa ringkas pengertian Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah orang-orang yang mengamalkan apa-apa yang telah diamalkan oleh Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya, serta menjauhi perkara baru dan bid’ah dalam agama.
Selanjutnya akan saya berikan beberapa contoh perkara dalam agama beserta cara pandang Ahlus-Sunnah dalam memahami dan mengamalkannya. Harapan saya, kita semua dapat ‘membandingkan’ realitas klaim sebagian orang yang menganggap dirinya bagian dari Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, apakah mereka memang merupakan bagian darinya atau bukan……
Dalam masalah pemahaman ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terutama yang berkaitan dengan al-asma’ wa sifat Allah.
Ahlus-Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah ta’ala dan Rasul-Nya telah tetapkan atas diri-Nya, baik itu nama-nama maupun sifat-sifat Allah ta’ala dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan-kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Wajib untuk menetapkan sifat Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah tanpa adanya tahrif (menyimpangan maknanya), ta’thil (meniadakannya), takyif (menanyakan bagaimananya), dan tamtsil/tasybih (menyerupakan dengan makhluk-Nya).
وقال الوليد بن مسلم : سألت الأوزاعي ومالك بن أنس وسفيان الثوري والليث بن سعد عن الأحاديث فيها الصفات ؟ فكلهم قالوا لي : أمروها كما جاءت بلا تفسير
Al-Walid bin Muslim berkata : Aku pernah bertanya kepada Al-Auza’iy, Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauriy, dan Al-Laits bin Sa’d tentang hadits-hadits yang berkenaan dengan sifat, maka setiap dari mereka menjawab : “Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat Allah) sebagaimana datangnya tanpa tafsir (yaitu : jangan kamu tanya tentang bagaimana sifat itu)”  [Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-‘Ulluw, berserta Mukhtashar-nya oleh Al-Albani hal. 142 no. 134 dengan sanad shahih; Al-Maktab Al-Islamy, Cet. 1/1401].
Mereka semua adalah para ulama dari kalangan kibaaru atbaa’ut-tabi’in dimana Al-Auza’iy adalah imam penduduk Dimasyq, Malik bin Anas adalah imam penduduk Madinah, Sufyan Ats-Tsauriy adalah imam penduduk Kufah, dan Al-Laits bin Sa’d adalah imam penduduk Mesir. Telah dihikayatkan ijma’ atas hal tersebut setelah era mereka dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang faqih dari ‘Iraq.
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata ketika menjelaskan prinsip-prinsip aqidah :
الإيمان بما جاء عن الله تعالى في كتابه المبين على ما أراده الله من غير زيادة، ولا نقص، ولا تحريف. الإيمان بما جاء عن رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، في سنة رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، على ما أراده رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، من غير زيادة ولا نقص ولا تحريف.
“Beriman kepada Allah ta’ala yang terdapat dalam Al-Qur’an sebagaimana yang dikehendaki-Nya tanpa adanya penambahan, pengurangan, dan tahrif (= ta’wil; yaitu mengubah lafadh nama dan sifat Allah atau mengubah maknanya atau menyelewengkan dari makna sebenarnya). Beriman kepada apa-apa yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sunnahnya sebagaimana yang dikehendaki oleh beliau tanpa adanya penambahan, pengurangan, dan tahrif [Lihat Lum’atul-I’tiqad oleh Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi; syarah oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 14; download dari www.almeskhat.net/books].
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata :
كل ما وصف الله من نفسه في كتابه فتفسيره تلاوته والسكوت عليه
“Segala sifat yang Allah sifatkan bagi diri-Nya di dalam Al-Qur’an, penafsirannya adalah (dhahir) bacaannya dan diam terhadapnya” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-I’tiqaad hal. 118 no. 296, tahqiq : Ahmad ’Ishaam Al-Kaatib, Daarul-Aafaaq, Cet. 1/1401; dan Al-Asmaa’ wa Shifat  2/307 no. 869, tahqiq : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Hasyidi; Maktabah As-Suwadiy. Atsar ini shahih].
Ahlus-Sunnah tidak mengenal tahrif-tahrif  bathil seperti sifat dua tangan Allah dibawa kepada makna ”dua nikmat” atau ”dua kekuatan” seperti kaum Asy’ariyyah. Mereka tidak mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut hanya karena khawatir menyamakan dengan makhluk sebagaimana kekhawatiran yang dialami oleh ahlul-bida’, karena mereka (Ahlus-Sunnah) tahu bahwa tidak ada sesuatupun dari makhluq yang serupa dengan-Nya. Ahlus-Sunnah bukanlah musyabbihah. Mereka juga tidak menanyakan bagaimana sifat Allah itu, karena pertanyaan-pertanyaan semacam ini hakekatnya merupakan sikap takalluf  terhadap apa-apa yang Allah tidak berikan ilmu-Nya kepada manusia. Mempertanyakan dan memikirkan kaifiyah sifat Allah merupakan bid’ah yang menyesatkan. Allah telah berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuuraa : 11].
Ahlus-Sunnah tidaklah mengenal Tafwidl (menyerahkan maknanya kepada Allah), karena mereka telah mengetahui sifat-sifat Allah. Sungguh mustahil bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah yang diturunkan melalui bahasa Arab, melalui lisan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, yang diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia; namun tidak diketahui maknanya oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam beserta para shahabatnya. Mengenai Tafwidl, maka Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan :
وأما الصنف الثالث ـ وهم ‏[‏أهل التجهيل‏]‏ ـ فهم كثير من المنتسبين إلى السنة، واتباع السلف، يقولون‏:‏ إن الرسول صلى الله عليه وسلم لم يعرف معاني ما أنزل اللّه إليه من آيات الصفات، ولا جبريل يعرف معاني الآيات، ولا السابقون الأولون عرفوا ذلك‏. وكذلك قولهم في أحاديث الصفات‏:‏ إن معناها لا يعلمه إلا اللّه، مع أن الرسول تكلم بها ابتداءً
”Adapun kelompok yang ketiga adalah Ahlut-Tajhiil. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang berintisab kepada Sunnah yang mengaku mengikuti kaum Salaf dan mengatakan : ”Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam tidak mengetahui makna-makna ayat-ayat sifat yang diturunkan kepada beliau. Demikian juga Jibril ’alaihis-salaam, ia tidak mengetahui makna-makna ayat tersebut, tidak juga orang-orang yang pertama masuk Islam itu mengetahui maknanya. Demikian juga dengan pendapat mereka mengenai hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah, sebab makna-makna yang terkandung di dalamnya tidak ada yang tahu kecuali hanya Allah semata, padahal Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah menyinggung masalah ini sejak semula” [Majmu’ul-Fataawaa 5/31-34].
’Aqidah tafwidl  ini jelas bathil. Oleh karena itu Syaikhul-Islam rahimahullah pun berkata :
وأما التفويض : فإن من المعلوم أن الله – تعالى – أمرنا أن نتدبر القرآن، وحضنا على عقله وفهمه؛ فكيف يجوز مع ذلك أن يُراد منا الإعراض عن فهمه، ومعرفته، وعقله
”Adapun Tafwidl (menyerahkan makna kepada Allah), sesungguhnya telah diketahui bahwa Allah ta’ala memerintahkan untuk memahami Al-Qur’an dan mendorong kita untuk memikirkan dan memahaminya. Maka bagaimana kita dibolehkan berpaling dari mengenal, memahami dan memikirkan ?”.
Hingga beliau berkata dengan tegas dalam permasalahan ini :
فتبين أن قول أهل التفويض الذين يزعمون أنهم متبعون للسنة والسلف من شر أقوال أهل البدع والإلحاد
”Maka jelas bahwa Ahlut-Tafwidl yang menyangka dirinya mengikuti As-Sunnah dan As-Salaf adalah seburuk-buruk perkataan Ahlul-Bid’ah dan ilhad” [lihat selengkapnya dalam Dar’ut-Ta’arudl Al-’Aql wan-Naql juz 1 bagian 16 hal. 201-205 – dinukil melalui perantaraan Al-Ajwibatul-Mufiidah Cet. 3, catatan kaki atas pertanyaan nomor 40].
Dalam masalah : “Apakah Allah beristiwaa’ di atas ‘Arsy ?”.
Ahlus-Sunnah  beriman bahwa Allah berada di atas langit dan bersemayam di ‘Arsy-Nya berdasarkan nash Al-Qur’an, As-Sunnah Ash-Shahiihah, dan ijma’. Mereka tidak men-tahrif-kan maknanya dengan makna bathil seperti ”menguasai” (istilaa’).
Dari Ja’far bin ’Abdillah, bahwasannya seseorang pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas rahimahullah tentang firman Allah : [الرّحْمَـَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىَ] “Ar-Rahman (Allah) beristiwaa’ di atas ‘Arsy” (QS. Thaha : 5);  (yaitu dengan pertanyaan : ) “Bagaimana istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy ?”. Maka Imam Malik berkata :
الكيف غير معقول والاستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة، فإني أخاف أن تكون ضالاً
“Kaifiyahnya (bagaimananya) tidak diketahui (di luar akal manusia untuk mengetahuinya), namun istiwaa’ Allah itu tidaklah majhul (= maksudnya : maknanya telah jelas). Mengimaninya adalah wajib dan menanyakannya adalah bid’ah. Aku khawatir bahwa dirimu menjadi sesat (atas pertanyaan itu)” [Syarh Ushuuli I’tiqaad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh Al-Laalika’i 2/398; tahqiq : Ahmad bin Mas’ud bin Hamdan, Cet. 2/1411].[1]
وروى أبو إسحاق الثعلبي المفسر قال سئل الأوزاعي عن قوله تعالى ثم استوى على العرش قال هو على عرشه كما وصف نفسه
Diriwayatkan Abu Ishaq Ats-Tsa’labi Al-Mufassir ia berkata : Al-Auza’i pernah ditanya tentang firman Allah : Tsummas-tawaa ‘alal-‘Arsy, ia menjawab : “Dia (Allah) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang telah Dia sifatkan bagi diri-Nya” [Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-‘Ulluw, berserta Mukhtashar-nya oleh Al-Albani hal. 138 no. 122; Al-Maktab Al-Islamy, Cet. 1/1401].
Dari Muhammad bin Ahmad bin Nadlr bin Binti Mu’awiyyah bin ’Amru ia berkata :
كان أبو عبد الله الأعرابي جارنا وكان ليلة أحسن ليل وذكر لنا أن ابن أبي دؤاد سأله أتعرف في اللغة استوى بمعنى إستولى فقال لا أعرفه
“Abu ‘Abdillah Al-A’rabiy [2] adalah tetangga kami. Malam-malamnya adalah malam paling indah. Diceritakan kepada kami bahwa Ibnu Abi Du’ad bertanya kepadanya : ’Apakah engkau mengetahui dalam bahasa Arab bahwa makna istawaa (bersemayam) itu adalah istaulaa’ (menguasai) ?”. Maka beliau menjawab : “Aku tidak mengetahuinya” [Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-‘Ulluw, berserta Mukhtashar-nya oleh Al-Albani hal. 194 no. 240; Al-Maktab Al-Islamy, Cet. 1/1401. Sanad riwayat ini adalah jayyid].
Abdullah bin Mubarak rahimahullah (salah seorang ulama tabi’in mulia lagi masyhur) berkata :
نعرف ربنا فوق سبع سماوات على العرش إستوى بائنا منه خلقه ولا نقول كما قالت الجهمية أنه ها هنا وأشار إلى الأرض
“Kami mengetahui Rabb kami berada di atas tujuh lapis langit, bersemayam (istiwaa’ ) di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya. Dan kami tidak mengatakan seperti yang dikatakan oleh Al-Jahmiyyah bahwasannya Allah ada di sini”. Beliau menunjuk ke arah bumi. [Dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah hal. 111, 175, dan 307; Ad-Darimi dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah hal. 67, 162; dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wash-Sifat hal. 2/335 – takhrij melalui perantaraan ‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadits oleh Abu ’Utsman Isma’il Ash-Shabuniy hal. 40 no. 28, tahqiq dan takhrij : Badr bin ’Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415. Sanad riwayat ini adalah hasan].
عن أبي مطيع البلخي : أنه سأل أبا حنيفة عمن قال : لا أعرف ربي في السماء أم في الأرض ؟ فقال : قد كفر ، لأن الله يقول : الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سبع سماواته، قلت : فإن قال : إنه على العرش ، ولكن يقول : لا أدري العرش في السماء أم في الأرض ؟ قال : هو كافر، لأنه أنكر أنه في السماء ، فمن أنكر أنه في السماء فقد كفر
Abu Muthi’ Al-Balkhi bahwasannya ia bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang mengatakan : ’Aku tidak mengetahui bahwa Rabbku di langit atau di bumi’. Beliau menjawab : “Sungguh dia telah kafir, karena Allah ta’ala telah berfirman : {الرّحْمَـَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىَ} “Ar-Rahman (Allah) beristiwaa’ di atas ‘Arsy” (QS. Thaha : 5); sedang ‘Arsy-Nya berada di atas langit”. Kemudian aku (Abu Muthi’) berkata : ”(Jika dia mengatakan) bahwasannya Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, akan tetapi dia mengatakan tidak tahu apakah ‘Arsy-Nya berada di langit atau di bumi?”. Maka beliau (Abu Hanifah) menjawab : ”Ia telah kafir karena ia telah mengingkari keberadaan Allah di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari keberadaan keberadaan Allah di langit, maka dia telah kafir” [lihat Al-‘Ulluw oleh Adz-Dzahabi dengan Mukhtashar-nya oleh Al-Albani hal. 136 no. 118, Al-Maktab Al-Islamy, Cet. 1/1401; dan Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah oleh Ibnu Abil-’Izz Al-Hanafy hal. 386-387, tahqiq : Dr. ’Abdullah bin ’Abdil-Muhsin At-Turkiy, takhrij : Syu’aib Al-Arna’uth, Muassasah Ar-Risalah, Cet. 9/1417].
Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (Ibnu Khuzaimah) rahimahullah berkata :
من لم يقر بأن الله تعالى على عرشه قد استوى فوق سبع سماواته فهو كافر بربه
“Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah ta’ala di atas ‘Arsy-Nya dan Dia beristiwaa’ (bersemayam) di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir terhadap Rabb-Nya…. [Shahih; lihat Ma’rifatu ‘Ulumil-Hadiits hal. 54 oleh Al-Hakim An-Naisabury – Maktabah Al-Misykah : www.almeskhat.net/books].
Al-Baihaqi rahimahullah berkata ketika menjelaskan madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam menetapkan sifat istiwaa’  Allah ta’ala :
والاثار عن السلف في مثل هذا كثيرة. وعلى هذه الطريق يدل مذهب الشافعي رضي الله عنه. وإليها ذهب أحمد بن حنبل والحسين بن الفضل البجلي......
”Atsar-atsar yang berasal dari kalangan salaf yang memiliki pengertian seperti ini (yaitu Allah beristiwaa’ di atas ’Arsy) banyak jumlahnya. Dan jalan ini menunjukkan kepada madzhab Asy-Syafi’i. Dan begitu pula pendapat Ahmad bin Hanbal, Al-Husain bin Al-Fadhl,…..” [Al-Asmaa’ wash-Shifaat oleh Al-Baihaqi 2/308 no. 870, tahqiq : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Hasyidi; Maktabah As-Suwadiy].
 ‘Aqidah ini sesuai dengan firman Allah :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
”Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”  [QS. Al-Hadiid : 4].
Juga hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau bertanya kepada budak Mu’awiyyah bin Al-Hakam As-Sulami radliyallaahu ‘anhu :
أين الله قالت في السماء قال من أنا قالت أنت رسول الله قال أعتقها فإنها مؤمنة
“Dimanakah Allah ?”. Ia menjawab : “Allah di atas langit”. Beliau kembali bertanya : “Siapakah aku ?”. Ia menjawab : “Engkau adalah Rasulullah”. Kemudian beliau bersabda : “Bebaskanlah/ medekakanlah dia, karena sesungguhnya ia seorang mukminah”. [HR. Muslim no. 537, Abu Dawud no. 930, An-Nasai 3/14-16, dan lain-lain].
Juga sabdanya shallallaahu ‘alaihi wasallam yang lain :
الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا أهل الأرض يرحمكم من في السماء
“Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayangi oleh Ar-Rahman (Allah). Sayangilah penduduk bumi, niscaya kalian akan disayang Dzat yang berada di atas langit (yaitu Allah)”  [HR. Abu Dawud no. 4941, Ahmad 2/160, dan yang lainnya; shahih].
Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :
والعرش على الماء والله على العرش يعلم ما أنتم عليه
“‘Arsy itu di atas air dan Allah di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Mu’jamul-Kabiir no. 8987. Al-Haitsami berkata : “Rijalnya adalah rijal shahih”].
Dalam masalah : “Apakah Allah turun ke langit dunia setiap sepertiga malam terakhir ?”.
Ahlus-Sunnah mengimani sifat Nuzul (turun) sebagaimana adanya. Dengannya Ahlus-Sunnah tidak pernah menyamakan turunnya Allah dengan turunnya makhluk. Cara pemahaman dalam hal ini adalah sebagaimana telah dituliskan di atas, yaitu tanpa tahrif, takyif, ta’thil, dan tamtsil/tasybih.
عن محمد بن سلام قال : سألت عبد الله بن مبارك في نزول الرب ليلة نصف من شعبان. فقال عبد الله : يا ضعيف ليلة النصف، ينزل في كل ليلة. فقال الرجل : يا أبا عبد الرحمن، كيف ينزل ؟ أليس يخلو ذلك المكان منه ؟. فقال : ينزل كيف يشاء
Dari Muhammad bin Sallam ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Mubarak (seorang ulama tabi’i yang mulia) tentang turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban. Beliau menjawab : “O, riwayat Nishfu Sya’ban itu lemah. Justru Allah turun setiap malam”. Seorang laki-laki menyela : “Bagaimana Dia turun ? Berarti tempat bersemayam-Nya kosong ?”. Beliau menjawab : “Dia turun dengan cara yang Dia kehendaki” [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadits oleh Abu ‘Utsman Isma’il Ash-Shabuni hal. 48 no. 42, tahqiq dan takhrij : Badr bin ’Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415].
Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah ditanya berkenaan dengan hadits An-Nuzul. Maka beliau menjawab :
ينزل بلا كيف
“Dia (Allah) turun tanpa ada pertanyaan : ‘bagaimana’ (yaitu : dengan cara yang tidak kita ketahui)”  [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadits oleh Abu ‘Utsman Isma’il Ash-Shabuni hal. 48 no. 73, tahqiq dan takhrij : Badr bin ’Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415].
Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah berkata :
رواها علماء الحجاز والعراق، عن النبي صلى الله عليه وسلم في نزول الرب (جل وعلا) إلى السماء الدنيا، كل ليلة نشهد شهادة مقر بلسانه، مصدق بقلبه مستيقن بما في هذه الأخبار من ذكر نزول الرب، من غير أن نصف الكيفية، لأن نبينا المصطفى لم يصف لنا كيفيه نزول خالقنا إلى سماء الدنيا، وأعلمنا أنه ينزل. والله (جل وعلا) لم يترك، ولا نبيه صلى الله عليه وسلم بيان ما بالمسلمين الحاجة إليه، من أمر دينهم.
فنحن قائلون مصدقون بما في هذه الاخبار من ذكر النزول غير متكلفين القول بصفته أو بصفة الكيفية، إذ النبي صلى الله عليه وسلم لم يصف لنا كيفيه النزول.
“Telah diriwayatkan oleh ulama Hijaz dan ‘Iraq dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang turunnya Rabb ‘azza wa jalla ke langit dunia (langit terendah) pada setiap malam, yang kami akui dengan pengakuan seorang yang mengaku dengan lidahnya, membenarkan dengan hatinya, serta meyakini keterangan yang tercantum di dalam khabar-khabar tentang turunnya Allah ‘azza wa jalla tanpa menggambarkan kaifiyah-nya (bagaimananya), karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memang tidak menjelaskan kepada kita tentang kaifiyah (cara) turunnya Khaliq kita ke langit dunia dan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam hanya memberitahukan kepada kita bahwa Rabb kita turun. Sementara itu, Allah ‘azza wa jalla dan juga Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah meninggalkan satu penjelasan pun (untuk disampaikan) bagi kaum muslimin yang dibutuhkan dari perkara agama mereka. Oleh karena itu, kita mengatakan dan membenarkan apa-apa yang terdapat di dalam khabar-khabar ini perihal turunnya Rabb, tanpa memaksakan diri membicarakan sifat dan kaifiyahnya, sebab Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memang tidak mensifatkan kepada kita tentang kaifiyah turun-Nya” [Kitabut-Tauhid oleh Al-Imam Ibnu Khuzaimah 1/289-290, tahqiq : Dr. ‘Abdul-‘Aziz bin Ibrahim Syahwan; Daarur-Rusyd, Cet. 1/1408].
قال الإمام ابن الإمام عبد الرحمن بن أبي حاتم الرازي حدثنا أبو شعيب وأبو ثور عن أبي عبد الله محمد بن إدريس الشافعي رحمه الله تعالى قال القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الاقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وأن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله تعالى ينزل إلى سماء الدنيا كيف شاء
Telah berkata Al-Imam ibnul-Imam ‘Abdirrahman bin Abi Hatim Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Abu Syu’aib dan Abu Tsaur, dari Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah ta’ala, ia berkata : “Perkataan yang masuk dalam perkara Sunnah dimana aku berada di atasnya, dan aku melihat para shahabat kami juga berada di atasnya dari kalangan Ahlul-Hadits yang aku saksikan dan aku mengambil ilmunya seperti Sufyan, Malik, dan selainnya : (Yaitu) Penegaskan atas kesaksian bahwasannya tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasannya Muhammad itu utusan Allah. Sesungguhnya Allah ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya, mendekat kepada makhluk-Nya sebagaimana yang Ia kehendaki. Dan sesungguhnya Allah ta’ala turun ke langit dunia menurut bagaimana yang Ia kehendaki” [Ijtimaa’ul-Juyuusy hal. 118 oleh Ibnul-Qayyim; Maktabah Al-Misykah].
Hal itu sesuai dengan apa disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر فيقول من يدعوني فأستجيب له ومن يسألني فأعطيه ومن يستغفرني فأغفر له
“Rabb kami tabaraka wa ta’ala turun setiap malamnya ke langit dunia pada saat tinggal sepertiga malam yang terakhir. Maka Allah berfirman : ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku beri. Dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni”  [HR. Al-Bukhari no. 7494 dan Muslim no. 758].
Hadits-hadits tentang nuzul ini mncapai derajat mutawatir.
Dalam masalah : “Larangan Mendirikan Bangunan atau Masjid di Atas Kubur”
Ahlus-Sunnah mengimani bahwa tidak boleh membangun bangunan atau masjid di atas kubur. Membangun masjid di atas kubur menjadi salah satu wasilah kesyirikan dengan pengagungan orang-orang shalih yang telah mati (yang di kubur di tempat itu) dan bahkan meminta hajat kepada mereka untuk dikabulkan.
Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda ketika sakit menjelang wafat :
لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مسجدا قالت ولولا ذلك لأبرزوا قبره غير أني أخشى أن يتخذ مسجدا
“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid. (Aisyah berkata) : “Kalau bukan karena hal itu, niscaya kubur beliau akan dinampakkan, hanya saja aku takut kubur beliau akan dijadikan masjid” [HR. Al-Bukhari no. 1330].
‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhum berkata,”Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjelang wafat, beliau menutupkan bajunya ke wajah. Ketika merasa gerah beliau membukanya dan bersabda :
لعنة الله على اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد يحذر ما صنعوا
“Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” Aisyah berkata : “Nabi memperingatkan semisal perbuatan mereka” [HR. Al-Bukhari No. 435, Muslim No. 531, dan yang lainnya; dan ini adalah lafadh Al-Bukhari].
Ummu Habibah dan Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhuma menceritakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang gereja yang mereka lihat di Habasyah (Ethiopia), dan banyak gambar (patung) di dalamnya, beliau lantas bersabda :
إن أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح فمات بنوا على قبره مسجدا وصوروا فيه تلك الصور أولئك شرار الخلق عند الله يوم القيامة
“Mereka itu (orang Nashrani) jika ada seorang shalih meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburannya, dan membuat gambar (patung)nya. Mereka itu sejelek-jelek makhluk di sisi Allah pada hari kiamat” [HR. Al-Bukhari no. 427 dan Muslim no. 528].
Al-Hafidh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata :
هذا الحديث يدل على تحريم بناء المساجد على قبور الصالحين ، وتصوير صورهم فيها كما يفعله النصارى ، ولا ريب أن كل واحد منهما محرم على انفراده ، فتصوير صور الآدميين محرم ، وبناء القبور على المساجد بانفراده محرم .....
“Hadits ini  menunjukkan haramnya membangun masjid di atas kubur orang-orang shalih dan menggambar mereka seperti dilakukan oleh orang Nashrani. Tidak diragukan lagi bahwa masing-masing perbuatan itu diharamkan. Melukis manusia diharamkan dan membangun qubur di masjid juga diharamkan………” [Fathul-Baariy Syarh Shahih Al-Bukhari oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy 3/202, tahqiq : Mahmud bin Sya’ban bin ‘Abdil-Maqshud dll.; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 1/1417].
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan :
وكل ذلك لقطع الذريعة المؤدية إلى عبادة من فيها كما كان السبب في عبادة الأصنام . انتهى .
“Semua (larangan) itu bertujuan memutus jalan menuju peribadatan kepada penghuni kubur. Sebab larangan ini sama halnya dengan sebab dilarangnya ibadah terhadap patung-patung (yang semula tujuan dari pembuatan patung-patung tersebut adalah untuk mengingat orang-orang shalih, namun akhirnya akhirnya patung itu juga diibadahi – Abu Al-Jauzaa’)” [Lihat Fathul Majiid  oleh ’Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin ’Abdil-Wahhab hal. 220, ta’liq : Ibnu Baaz; Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, Tanpa Tahun].
Ahlus-Sunnah adalah orang yang komitmen terhadap Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Termasuk pengamalan hadits shahih di atas. Tentu saja ini banyak bertolak belakang dengan sebagian pengamalan orang-orang yang mengaku berintisab pada madzhab Ahlus-Sunnah di masyakarak. Justru mereka lah pihak-pihak yang menyemarakkan kubur dan masjid sebagai tempayt peribadahan yang tak terpisahkan.
Al-Imam Al-Faqih  Ibnu Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i berkata dalam kitab Az-Zawajir ‘an Iqtiraafil-Kabaair (1/120) :
" الكبيرة الثالثة والرابعة والخامسة والسادسة والسابعة والثامنة والتسعون اتخاذ القبور مساجد ، وإيقاد السرج عليها واتخاذها أوثاناً ، والطواف بها ، واستلامها ، والصلاة إليها ".
“Dosa besar ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, dan kesembilanpuluh adalah menjadikan kuburan sebagai masjid, menyalakan obor di atasnya, menjadikannya sebagai berhala, berjalan berputar-putar mengelilinginya, dan shalat menghadapnya”  [selesai].
*****
Itulah sedikit ringkasan tentang Ahlus-Sunnah dalam beberapa pokok aqidah dan amalan. Tentu saja, masih banyak hal lain yang tidak tersinggung di sini. Saya persilakan ikhwah penuntut ilmu lainnya yang melengkapi. Semoga bermanfaat dan mohon maaf atas segala kesalahan…………..

Abu Al-Jauzaa’ 1429



[1]     Sekaligus ini membuktikan madzhab salaf yang berlaku di era Imam Malik dimana beliau tidak men-ta’wil sifat Allah (yaitu istiwaa’), dan tidak pula men-tafwidl-nya (menyerahkan maknanya kepada Allah).
[2]     Seorang pakar bahasa dijamannya (151-231 H).

Comments

Aqil mengatakan...

لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مسجدا قالت ولولا ذلك لأبرزوا قبره غير أني أخشى أن يتخذ مسجدا

tolong saya di beritahukan asbabun nuzulnya sepeintas ayat itu masalah yahudi dan nashoro tapi kok tiba2 dimaknai untuk kaum muslimin yg tak sepaham dengan salafy

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Mas, itu bukan ayat, tapi hadits. Gak hapal ya ?. Berhubung itu hadits, tentu saja tidak ada sababun-nuzuul nya.

Ummu Habibah dan Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhuma menceritakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang gereja yang mereka lihat di Habasyah (Ethiopia), dan banyak gambar (patung) di dalamnya, beliau lantas bersabda :

إن أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح فمات بنوا على قبره مسجدا وصوروا فيه تلك الصور أولئك شرار الخلق عند الله يوم القيامة

“Mereka itu (orang Nashrani) jika ada seorang shalih meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburannya, dan membuat gambar (patung)nya. Mereka itu sejelek-jelek makhluk di sisi Allah pada hari kiamat” [HR. Al-Bukhari no. 427 dan Muslim no. 528].

Al-Hafidh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata :

هذا الحديث يدل على تحريم بناء المساجد على قبور الصالحين ، وتصوير صورهم فيها كما يفعله النصارى ، ولا ريب أن كل واحد منهما محرم على انفراده ، فتصوير صور الآدميين محرم ، وبناء القبور على المساجد بانفراده محرم .....

“Hadits ini menunjukkan haramnya membangun masjid di atas kubur orang-orang shalih dan menggambar mereka seperti dilakukan oleh orang Nashrani. Tidak diragukan lagi bahwa masing-masing perbuatan itu diharamkan. Melukis manusia diharamkan dan membangun qubur di masjid juga diharamkan………” [Fathul-Baariy Syarh Shahih Al-Bukhari oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy 3/202, tahqiq : Mahmud bin Sya’ban bin ‘Abdil-Maqshud dll.; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 1/1417].

----

Sekedar mengikuti jalan logika Anda yang - maaf - lucu, itu Al-Haafidh Ibnu Rajab kok sentimen sekali sama orang non Salafiy....

Aqil mengatakan...

disamping itu ayat tersebut pada dasarnya sebelum ayat itu ada ayat yg lain yg tidak boleh diabaikan kalau tidak salah

ما كان للمشركين أن يعمروا مساجد الله شاهدين على أنفسهم بالكفر أولئك حبطت أعمالهم وفي النار هم خالدون ( 17 ) إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر وأقام الصلاة وآتى الزكاة ولم يخش إلا الله فعسى أولئك أن يكونوا من المهتدين ( 18 ) )

Aqil mengatakan...

ya baik saya ralat dan maaf saya salah faham saya juga mohon disampaikan asbabul wurudnya, tetapi saya kok menemukan demikian
Sekarang mari kita coba untuk mengungkap ada apa sebenarnya di balik ayat itu, ada pesan dan pelajaran apa sesungguhnya, kita mulai dari Tafsir Ibnu Katsir:
يقول تعالى : ما ينبغي للمشركين بالله أن يعمروا مساجد الله التي بنيت على اسمه وحده لا شريك له
Allah Ta’ala Berfirman: tidaklah di perkenankan/ tidak di himbau Orang Musyrikin itu untuk memakmurkan Masjid yg di bangun atas Nama Allah.
Senada dg Tafsir Thobari sebagai berikut:
قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: ما ينبغي للمشركين أن يعمروا مساجد الله وهم شاهدون على أنفسهم بالكفر. يقول: إن المساجد إنما تعمر لعبادة الله فيها، لا للكفر به، فمن كان بالله كافرًا، فليس من شأنه أن يعمُرَ مساجد الله.
Berkata Abu Ja’far: Allah Ta’ala berFirman : Tidak di perkenankan kepada Musyrikin untuk memakmurkan Masjid2 Allah, sedangkan mereka terang2an dg kekufurannya. Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya Masjid itu di dirikan untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk mrngkufuriNya. Maka Barang siapa yg Kafir terhadap Allah, tiadalah bagian dirinya untuk memakmurkan MasjidNya Allah.
Jadi jelas konteks Ayat ini adalah pelarangan Bagi Orang2 Musyrik untuk tidak ikut serta dalam membangun/memakmurkan Masjid, ini sesuai dg kelanjutan Ayat tersebut yg jelas menjadi bahan pembicaraan adalah Masjidil haram, yg mana pada waktu itu telah terjadi pemindahan Kekuasaan dari Orang2 Musyrik Arab ke Tangan Rosulullah setelah Fathu Makkah.
Hal ini di pertegas dg Ayat إِنَّمَا المشركون نَجَسٌ “Sesungguhnya Orang2 Musyrik itu Najis” jadi mendekat saja ke Masjidil Haram gak boleh.

Aqil mengatakan...

عن عائشة رضي الله عنها عن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيْهِ : لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا. قَالَتْ وَلَوْلاَ ذَلِكَ لَأَبْرَزُوْا قَبْرَهُ غَيْرَ أَنِّي أَخْشَى أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا

Berikut penjelasan dalam Kitab Fathul Bari:

[] قوله : ( باب ما يكره من اتخاذ المساجد على القبور ) ترجم بعد ثمانية أبواب : ” باب بناء المسجد على القبر ” . قال ابن رشيد : الاتخاذ أعم من البناء ، فلذلك أفرده بالترجمة ، ولفظها يقتضي أن بعض الاتخاذ لا يكره ، فكأنه يفصل بين ما إذا ترتبت على الاتخاذ مفسدة أو لا .
Kemudian dalam baris berikut di jelaskan sebagai berikut:

قوله : ( لأبرز قبره ) أي لكشف قبر النبي صلى الله عليه وسلم ، ولم يتخذ عليه الحائل ، والمراد الدفن خارج بيته ، وهذا قالته عائشة قبل أن يوسع المسجد النبوي ، ولهذا لما وسع المسجد جعلت حجرتها مثلثة الشكل محددة ، حتى لا يتأتى لأحد أن يصلي إلى جهة القبر مع استقبال القبلة .


Mari kita bandingkan dg komentar dari yg lain agar dapat kita ketahui apa maksud dari Ittakhodla itu, di bawah ini terdapat dalam Kitab TuhfatulAkhwadzi Syarah Sunan Al Turmudzi Juz 2 Hal 236 cet Darul Fikri
تنبيه: قال في مجمع البحاري: وحديث لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد كانوا يجعلونها قبلة يسجدون إليها في الصلاة كالوثن، وأما من اتخذ مسجداً في جوار صالح أو صلى في مقبرة قاصداً به الاستظهار بروحه أو وصول أثر من اثار عبادته إليه لا التوجه نحوه والتعظيم له فلا حرج فيه، ألا يرى أن مرقد إسماعيل في الحجر في المسجد الحرام والصلاة فيه أفضل انتهى

Lebih detail dan jelasnya ksimak Al Syaih dahlawi dalam menjelaskan hal ini dalam Kitab Al Luma’at sebagai berikut:
قال التوربشتي هو مخرج على الوجهين: أحدهما كانوا يسجدون لقبور الأنبياء تعظيماً لهم وقصد العبادة في ذلك وثانيهما أنهم كانوا يتحرون الصلاة في مدافن الأنبياء والتوجه إلى قبورهم في حالة الصلاة والعبادة لله نظراً منهم أن ذلك الصنيع أعظم موقعاً عند الله لاشتماله على الأمرين: عبادة والمبالغة في تعظيم الأنبياء، وكلا الطريقين غير مرضية، وأما الأول فشرك جلي، وأما الثانية فلما فيها من معنى الاشراك بالله عز وجل وإن كان خفياً. والدليل على ذم الوجهين قوله صلى الله عليه وسلّم: اللهم لا تجعل قبري وثناً، اشتد غضب الله على قوم اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد. والوجه الأول أظهر وأشبه، كذا قال التوربشتي
..
وفي شرح الشيخ: فعلم منه أنه يحرم الصلاة إلى قبر نبي أو صالح تبركاً وإعظاماً، قال وبذلك صرح النووي وقال التوربشتي وأما إذا وجد بقربها موضع بنى للصلاة أو مكان يسلم فيه المصلى عن التوجه إلى القبور فإنه في مدحة من الأمر، وكذلك إذا صلى في موضع قد اشتهر بأن فيه مدفن بنى لم ير للقبر فيه علماً ولم يكن تهده ما ذكرناه من العمل الملتبس بالشرك الخفي.
“Masih dalam penjelasan Al Turbasty, maka sudah maklum jika sholat ke Kuburan Nabi atau Orang Sholeh itu Haram baik dalam rangka bertabarruk atau dalam Rangka Ta’dlim (Penghormatan). Kemudian Al Syaikh mengatakan demikian ini adalah penjelasan Imam Nawawi. Al Turbasty mengatakan lagi: jika ada terdapat tempat yg di situ terdapat Kuburan yg dekat dg tempat di mana di dirikan Sholat, dan terjamin untuk tidak Tawajjuh (Lihat Arti Tawajjuh di atas) kepada Kuburan, yg seperti itu adalah hal yg terpuji. . Demikian pula jika orang melakukan sholat di tempat yang sudah terkenal sebagai tempat memakamkan nabi tapi tidak melihat tanda kuburan disitu dan tidak menjerumuskannya hal-hal yang telah kami sebut dari amal yang bercampur dengan syirik khofi (maka itu termasuk perkara yang terpuji)”.
وفي شرح الشيخ مثله حيث قال: وخرج بذلك اتخاذ مسجد بجوار نبي أو صالح والصلاة عند قبره لا لتعظيمه والتوجه نحوه بل لحصول مدد منه حتى يكمل عبادته ببركة مجاورته لتلك الروح الطاهرة فلا حرج في ذلك لما ورد أن قبر إسماعيل عليه السلام في الحجر تحت الميزاب، وأن في الحطم بين الحجر الأسود وزمزم قبر سبعين نبياً، ولم ينه أحد عن الصلاة فيه انتهى. وكلام الشارحين مطابق في ذلك انتهى ما في اللمعات

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Ya, ndak apa-apa, karena salah paham Anda didasari oleh pemahaman yang salah. Ayat yang Anda sebutkan itu tidak pas kalau dihubungkan dengan larangan membangun masjid di atas kubur. Alias, tidak ada korelasinya.

Komputer Anda tersedia maktabah Syamilah kan ?. Coba deh, baca syarah hadits اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد . Insya Allah Anda akan menemukan jawabannya.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Terima kasih atas copi pastenya. Nah, sekarang, yang Anda simpulkan apa ? atau ringkasnya, Anda mau ngomong apa berdasarkan nukilan Anda itu ?.

Anonim mengatakan...

Barokallohu fik ya ustadz. teruslah menulis untuk membantah syubhat2. saya sebenarnya sudah beberapa tahun yang lalu memilih aqidah salaf ini, namun beberapa bulan terkhir ini saya terkena syubhat dari asya'iroh sampai akhirnya saya ragu bahkan ingin meninggalkan aqidah salaf, alhamdulillah setelah membaca tulisan2 ustadz dan sebuah artikel di http://kangaswad.wordpress.com saya kembali yakin dengan aqidah salaf ini, jazakallohu khoiron ustadz. semoga Alloh memberi kemudahan kepada ustadz untuk terus menulis kebenaran

Abu Aisyah mengatakan...

Assalamualaikum.
bagaimana pendapat antum ustadz terkait artikel berikut

Benarkah Istiwa` di Atas Arsy Diterjemahkan Bersemayam?

Disebutkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):
se•ma•yam, ber•se•ma•yam v 1 hor duduk: baginda pun – di atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang; 2 hor berkediaman; tinggal: Sultan Iskandar Muda pernah – di Kotaraja; 3 ki tersimpan; terpatri (dl hati): sudah lama cita-cita itu – dl hatinya; keyakinan yg – dl hati;
me•nye•ma•yam•kan v 1 mendudukkan (di atas takhta, singgasana); 2 membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka;
per•se•ma•yam•an n 1 tempat duduk; 2 tempat kediaman.
[sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php]

Dari sini kita bisa melihat bahwa arti semayam dalam bahasa Indonesia meliputi: Duduk, berdiam, berbaring. Sementara istiwa maknanya tinggi dan berada diatas, dan ini ini adalah ijma’ para ulama bahasa sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Taimiah rahimahullah dan selainnya.
Telah dimaklumi dalam kaidah-kaidah tauhid asma` wa ash-shifat bahwa semua sifat yang tidak ditetapkan dan tidak juga ditolak oleh Allah Ta’ala dari dirinya dan tidak pula Ar-Rasul -alaihishshalatu wassalam- dari Allah, maka kita juga tidak boleh menetapkan dan tidak boleh juga menolaknya. Kecuali jika sifat itu mengandung kekurangan bagi Allah maka wajib untuk ditolak dari-Nya.
Maka sifat duduk dan berdiam merupakan sifat yang tidak pernah Allah tetapkan untuk diri-Nya dan tidak pula menolaknya dari diri-Nya, baik dalam Al-Qur`an maupun dalam As-Sunnah, karenanya kita tidak boleh menetapkan kedua sifat ini untuk-Nya dan tidak pula menolaknya dari-Nya. Sementara sifat baring -wallahu a’lam- zhahirnya mengharuskan sifat kurang bagi Allah karenanya harus ditolak dari Allah.
Kesimpulannya: Menerjemahkan istiwa bermakna bersemayam adalah kurang tepat bahkan salah, karena mengharuskan kita menetapkan sifat yang Allah tidak tetapkan bagi dirinya dan itu bentuk berkata atas nama Allah tanpa ilmu, wallahu a’lam bishshawab.


Sumber: http://al-atsariyyah.com/benarkah-istiwa-berarti-bersemayam.html