Pembagian Tauhid Menurut Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah


Tauhid menurut bahasa berarti : menjadikan sesuatu itu satu. Sedangkan menurut istilah syar’i berarti : Pengesaan terhadap Allah subhaanahu wa ta’ala dengan sesuatu yang khusus bagi-Nya, baik dalam uluhiyyah-Nya, rububiyyah-Nya, asma’ dan sifat-Nya. Dari definisi ini dapat diketahui bahwa tauhid ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asmaa’ wa Shifaat Allah.
Tauhid Rububiyyah
Tauhid Rububiyyah adalah : Suatu keyakinan yang pasti bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala satu-satunya pencipta, pemberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta mengatur semua urusan makhluk-makhluk-Nya tanpa ada sekutu bagi-Nya. Dalil-dalil yang menunjukkan Tauhid Rububiyyah ini diantaranya firman Allah subhaanahu wa ta’ala :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
”Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” [QS. Al-Fatihah : 2].
Juga firman-Nya :
أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
”Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam” [QS. Al-A’raf : 54].
Dalam ayat di atas Allah menjelaskan kepada hamba-Nya bahwa Dia-lah satu-satunya pencipta dan pemilik seluruh alam semesta ini serta Dia pulalah yang mengaturnya secara mutlak, tidak ada pengecualian (yang luput) dari-Nya sesuatupun.
Di samping dua ayat di atas, Allah juga menjelaskan tentang Rububiyyah-Nya dengan firman-Nya :
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ
Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah." [QS. Ar-Ra’d : 16].
Dan juga firman-Nya :
قُلْ لِمَنِ الأرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ * قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ * قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?". Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?". Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?". Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?". Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?". Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" [QS. Al-Mukminun : 84-89].
Dari pengertian ayat di atas, tiada keraguan bagi orang yang berakal  tentang rububiyyah Allah bahwa Dia-lah satu-satunya Dzat yang mampu menciptakan langit dan bumi, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Demikian pula pengakuan mereka (orang-orang Quraisy) ketika ditanya tentang siapa pencipta langit dan bumi ? Dan siapa Rabb langit dan bumi ? Mereka akan mengatakan : ”Allah”. Sebagaimana firman Allah :
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
”Dan jika kamu bertanya kepada mereka : Siapakah yang menciptakan tujuh langit dan bumi. Pasti mereka akan mengatakan : Allah” [QS. Luqman : 25].
Juga firman-Nya :
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ
Katakanlah : ”Siapakah Rabb langit yang tujuh dan ’Arsy yang besar ?”. Pasti mereka akan mengatakan : ”Allah”. Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?". [QS. Al-Mukminun : 86-87].
Allah banyak menyebutkan dalam Al-Qur’an pengakuan orang-orang kafir Quraisy terhadap rububiyyah Allah, akan tetapi dengan pengakuan tersebut mereka tetap menyekutukan Allah dengan yang lainnya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Tauhid Uluhiyyah
Tauhid Uluhiyyah adalah : Pengesaan Allah subhaanahu wa ta’ala dalam hal ibadah dengan penuh ketaatan dan rendah diri serta cinta pada setiap peribadatan tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Dalil tentang Tauhid Uluhiyyah di antaranya adalah firman Allah subhaanahu wa ta’ala:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
”Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” [QS. Al-Fatihah : 2].
Lafadh Allah maknanya adalah Al-Ma’luh (yang disembah) dan Al-Ma’bud (Yang diibadahi). Dan juga firman Allah :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” [QS. Al-Fatihah : 5].
Kemudian juga firman-Nya :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” [QS. Al-Baqarah : 21].
Juga firman-Nya :
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
”Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya" [QS. Az-Zumar : 2-3].
Dan firman Allah subhaanahu wa ta’ala :
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” [QS. Al-Bayyinah : 5].
Ayat-ayat di atas menjelaskan kepada kita agar kita mengesakan Allah dalam beribadah. Oleh sebab itu dilarang menyembah selain Allah baik dia seorang Nabi, wali, raja, atau malaikat sekalipun.
Yang dimaksud dengan ibadah adalah segala aktifitas kehidupan yang Allah ridlai dan Allah cintai baik berupa perkataan atau perbuatan yang lahir maupun yang batin. Ibadah dibangun di atas tiga hal yang sangat besar dan sangat penting pengaruhnya dalam perjalanan ibadah seseorang, yaitu : cinta (mahabbah), takut (khauf), dan harapan (raja’). Cinta kepada Allah dalam beribadah akan membuahkan keikhlasan, takut kepada Allah akan membawa seseorang untuk menjauhi segala larangan Allah subhaanahu wa ta’ala dan membimbingnya untuk selalu taat kepadanya. Sedangkan pengharapan akan membangkitkan semangat dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya untuk mendapatkan janji-janji Allah subhaanahu wa ta’ala. Kalau ketiga penggerak hati tersebut sudah tumbuh dengan kuat di hari seorang hamba, maka akan mudah baginya untuk mendapatkan ridla dan cinta Allah subhaanahu wa ta’ala. Dengan kata lain kalau seseorang masih berbuat maksiat atau suatu hal yang tidak dicintai dan diridlai Allah berarti kecintaannya dan ketakutannya terhadap Allah sangat rendah, bahkan dapat dikatakan orang tersebut tidak mengharapkan atau tidak percaya terhadap janji-janji Allah dan meremehkan ancaman-ancaman Allah subhaanahu wa ta’ala. Na’uudzu billahi min-dzaalik.
Dari dalil-dalil dan keterangan di atas dapat diketahui bahwa tauhid ibadah (uluhiyyah) adalah hakekat makna Laa ilaaha illallaah yang mengandung nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Makna nafi adalah meniadakan segala macam peribadatan kepada selain Allah bagaimanapun bentuk dan macamnya, atau peniadaan segala macam bentuk ketuhanan. Sedangkan makna itsbat adalah menetapkan ke-Esa-an Allah dalam beribadah dengan berbagai bentuk ibadah yang sesuai dengan tuntunan syari’at Islamiyyah yang telah disampaikan oleh Muhammad shallallaahu ’alaihi wa sallam dan penetapan bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah saja. Dua kandungan di atas – yaitu nafi dan itsbat – tidak boleh dipisahkan dan harus dipahami dan diambil keduanya. Karena kalau diambil salah satu saja, tidaklah seseorang dikatakan muslim. Misalnya, seseorang yang mengambil nafi saja tanpa itsbat, berarti dia seorang komunis karena dia meniadakan segala macam bentuk ketuhanan tanpa menetapkan ketuhanan bagi Allah. Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang hanya mengambil itsbat saja tanpa nafi, dia juga bukan seorang muslim. Bahkan dia seorang kafir karena disamping menetapkan Allah sebagai ilah, ia juga menetapkan selain Allah sebagai ilah. Penyebabnya adalah karena dia tidak mengingkari tuhan-tuhan selain Allah sebagaimana orang-orang kafir Quraisy yang disamping mengakui Allah sebagai Rabb alam semesta, juga mengakui adanya sesembahan selain Allah seperti Latta, ’Uzza, dan lain-lain. Dengan perbuatan mereka ini, Allah dan Rasul-Nya menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Oleh sebab itu tidaklah cukupseseorang mengambil nafi sajatanpa itsbat, begitu pula itsbat saja tanpa nafi. Kalau seseorang mengakui dirinya seorang muslim, maka wajib baginya untuk mengambil, meyakini, dan mengamalkan keduanya secara bersamaan tanpa memisah-misahkannya dalam rangka membenarkan persaksian (syahadat) Laa ilaaha illallaah (tiada Rabb yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah).
Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keesaan Allah dalam uluhiyyah-Nya adalah firman Allah subhaanahu wa ta’ala :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku" [QS. Al-Anbiyaa’ : 25].
Juga firman-Nya :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (= segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dan dia ridla dengan peribadatannya tersebut)" [QS. An-Nahl : 36].
Juga firman-Nya :
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [QS. Ali-’Imran : 18].
Ayat-ayat di atas adalah dalil yang sangat jelas akan keesaan Allah dalam hal uluhiyyah-Nya.
Kerancuan (syubhat) yang biasa dilontarkan oleh sebagian manusia adalah pernyataan mereka : ”Bagaimana kamu menyatakan tidak ada Rabb (Tuhan) selain Allah sedangkan Allah sendiri menyatakan keberadaan tuhan-tuhan selain-Nya ? sebagaimana firman-Nya :
وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ
”Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain” [QS. Al-Qashash : 88].
Juga firman-Nya :
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ
”Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu” [QS. Al-Mukminun : 117].
Juga firman-Nya :
فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
”Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah” [QS. Huud : 101].
Jawaban atas kerancuan tersebut :
Pertama, yang perlu diketahui bahwa ketuhanan selain Allah adalah ketuhanan yang bathil atau tidak hak (benar), walaupun tuhan-tuhan tersebut diibadahi atau disembah oleh orang-orang yang bodoh dan sesat. Sesungguhnya tuhan-tuhan tersebut adalah sesuatu yang tidak pantas untuk diibadahi sebagaimana firman-Nya :
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ
”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil” [QS. Luqman : 30].
Kedua, sebutan tuhan bagi tuhan-tuhan selain Allah adalah sekedar penamaan saja sebagaimana firman-Nya subhaanahu wa ta’ala :
إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
”Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya” [QS. An-Najm : 23].
Dua macam tauhid di atas (Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah) tidak ada yang menentangnya dan tidak ada pula yang mengingkarinya dari kalangan ahli kiblat yang menyandarkan diri kepada Islam, kecuali orang yang berlebih-lebihan dari kalangan Syi’ah Rafidlah. Mereka menyatakan bahwa ’Ali bin Abi Thalib adalah tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh ’Abdullah bin Saba’ (pemimpin Syi’ah yang pertama) yang datang kepada ’Ali bin Abi Thalib dan berkata kepadanya : ”Kamu (wahai ’Ali) adalah Allah yang sebenarnya”. Akan tetapi ’Abdullah bin Saba’ adalah Yahudi yang berpura-pura masuk Islam. Dengan pengakuan ingin melindungi keluarga Rasulullah, dia berusaha menghancurkan Islam dari dalam. Perbuatan ’Abdullah bin Saba’ ini diingkari oleh ’Ali bin Abi Thalib dan beliau tidak ridla kepada siapa saja yang menempatkan dirinya lebih dari semestinya. Karena beliau juga seorang hamba Allah, bahkan di atas mimbar Kuffah beliau berkata : ”Sebaik-baik umat setelah Nabi-Nya (shallallaahu ’alahi wa sallam) adalah Abu Bakar, kemudian ’Umar”. ’Ali juga memerintahkan untuk membakar ’Abdullah bin Saba’ dan pengikut-pengikutnya. Yang jelas, kedua macam tauhid di atas tidak ada yang mengingkari secara terang-terangan dari ahli kiblat (kaum muslimin) walaupun ada dari kalangan ahli bid’ah yang mengingkarinya dengan berbagai penakwilan (penyelewengan makna).
Tauhid Asmaa’ wa Shifat
Tauhid Asmaa’ wa Shifat Allah adalah : Berkeyakinan dengan keyakinan yang pasti tentang nama-nama Allah, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya yang termuat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tanpa merubah-rubah atau menolak atau menanyakan bagaimana hakekatnya atau menyerupakan dengan makhluk-Nya. Dalil tentang Tauhid Asmaa’ wa Shifaat ini adalah firman Allah subhaanahu wa ta’ala :
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik)” [QS. Al-Israa’ : 110].
Juga firman-Nya :
هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
”Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia)?” [QS. Maryam : 65].
Juga firman-Nya :
اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى
”Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaulhusna (nama-nama yang baik)” [QS. Thaha : 8].
Juga firman-Nya :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuuraa : 11].
Ayat-ayat di atas merupakan hujjah yang menyatakan tentang tauhid asma’ wa shifat Allah.
Dalam mengimani nama-nama Allah subhaanahu wa ta’ala ada beberapa kaedah, antara lain :
1.    Semua nama Allah adalah terbaik dan berada dalam puncak kebaikan. Karena nama Allah mengandung atau menunjukkan sifat-Nya yang sempurna, tidak ada cacat atau kekurangan dari segi apapun. Seperti Al-Hayyu (الْحَيُّ) ”Yang Maha Hidup”, salah satu dari nama Allah yang mengandung arti bahwa Allah hidup secara mutlak, tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak pula berakhir dengan kebinasaan. Dia hidup dengan kesempurnaan-Nya.
2.    Nama Allah adalah nama sekaligus sifat bagi-Nya subhaanahu wa ta’ala. (Al-Hayyu, Al-’Aliim, As-Samii’) ”Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar” ; semua adalah nama untuk Dzat yang satu, yaitu Allah subhaanahu wa ta’ala. Nama-nama tersebut mengandung makna dan sifat yang berbeda-beda, karena makna Al-Hayyu lain dengan makna Al-’Aliim dan lain pula dengan  makna As-Samii’. Dan begitu pula nama-nama Allah yang lain. Nama Al-Hayyu mengandung sifat al-hayat (hidup), Al-’Aliim mengandung sifat al-’ilmu (ilmu/mengetahui), As-Samii’ mengandung sifat as-sam’u (mendengar). Dan begitu pula nama-nama Allah yang lain.
3.    Nama Allah yang mengandung sifat Muta’addi (sifat yang pengaruhnya mengenai makhluk-Nya), ia mengandung tiga perkara :
a.    Penetapan nama tersebut untuk Allah.
b.    Penetapan sifat yang terkandung dalam nama tersebut bagi-Nya.
c.    Penetapan hukum dan pengaruh-Nya.
Contohnya : As-Samii’ – salah satu nama Allah yang artinya Yang Maha Mendengar. Lafadh tersebut ditetapkan sebagai nama Allah dan ditetapkan pula sebagai sifat Allah. Adapun hukum dan pengaruhnya adalah Dia mendengar apa saja, baik yang tersembunyi ataupun yang tampak pada makhluk-Nya.
Sedangkan jika nama Allah menunjukkan sifat yang lazim (yang tidak berpengaruh kepada yang lainnya), maka ia menunjukkan dua perkara :
  1. Penetapa nama bagi-Nya.
  2. Penetapan sifat yang terkandung dalam nama tersebut untuk-Nya.
Seperti nama Al-Hayyu yang berarti Yang Maha Hidup. Maka lafadh Al-Hayyu ditetapkan sebagai nama Allah dan sekaligus sifat bagi Allah semata.
4.    Nama-nama Allah menunjukkan atas Dzat dan sifat-Nya sesuai dengan kandungannya, nama dan sifat itu akan terus ada dan tidak pernah sirna, seperti : Al-Khaaliq, salah satu nama Allah yang artinya Yang Maha Menciptakan – menunjukkan atas Dzat dan sifat Allah yang mengandung makna bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan Dua tetap dan terus-menerus sebagai Sang Pencipta.
5.    Nama-nama Allah semuanya harus diambil dari Al-Qur’an atau As-Sunnah. Tidak ada tempat bagi akal untuk menentukannya. Oleh karena itu janganlah menambah atau menguranginya, karena nama-nama Allah adalah merupakan permasalahan ilmu yang ghaib, dan hanya Allah sajalah yang mengetahuinya.
6.    Nama-nama Allah tidak terbatas dengan jumlah tertentu sebagaimana diterangkan dalam hadits yang masyhur tentang doa ketika dalam kesedihan :
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
”(Ya Allah), aku minta dengan (menyebut) segala nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan pada kitab-Mu, atau Engkau ajarkan pada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau tentukan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu...” [HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim].
Dalil ini menunjukkan ketidakterbatasan nama Allah. Adapun nama Allah yang disebutkan dalam hadits 99 (sembilan puluh sembilan) nama tidak menunjukkan batas akhir. Hadits yang menunjukkan perincian atau penyebutan nama-nama-Nya yang berjumlah 99 adalah lemah.
7.    Haram bagi seseorang untuk mengingkari, menolak sifat-sfat Allah, atau menyerupakan dengan makhluk-Nya.
Tentang masalah sifat-sfat Allah, Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah mengimaninya tanpa merubah (tahrif), mengingkari (ta’thil), menanyakan bagaimana (takyif), dan tidak pula menyerupakan (tasybih) dengan sifat makhluk-Nya.
Tahrif (merubah) artinya merubah makna yang terkandung dalam sifat tersebut. Seperti perkataan Jahmiyyah tentang sifat istiwaa’ (bersemayam), mereka rubah menjadi istaulaa’ (menguasai). Juga perkataan sebagian ahlul-bid’ah tentang makna al-ghadlab (marah) diartikan dengan iradatul-intiqaam (kehendak untuk menyiksa); dan makna ar-rahmah dirubah menjadi iradatul-in’am (kehendak untuk memberi nikmat). Semuanya ini tidak benar. Yang benar adalah bahwa makna istiwaa’ bagi Allah adalah bahwa Allah mempunyai sifat ketinggian dan berada dalam ketinggian yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya. Begitu pula dengan al-ghadlab dan ar-rahmah, adalah sifat bagi Allah secara hakekat sesuai dengan kemuliaan Allah dan keagungan-Nya.
Ta’thil (menolak) adalah mengingkari sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti yang dilakukan oleh Jahmiyyah dan semisalnya. Pengingkaran yang mereka lakukan merupakan puncak kebatilan. Padahal dalam Al-Qur’an dan As-Sunah banyak sekali diterangkan sifat-sfat Allah yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.
Tasybih (menyerupakan) adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Untuk itu kita tidak boleh mengatakan bahwa sifat Allah itu adalah seperti sifat kita. Hal itu dikarenakan Allah sudah menyatakan tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatupun.
Adapun makna takyif (menanyakan bagaimananya) adalah menanyakan bagaimana hakekatnya. Seperti menanyakan bagaimana istiwaa’-nya Allah ? Atau menanyakan bagaimana wajah dan tangan Allah ? Yang seharusnya kita lakukan adalah kita beriman akan keberadaan sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an mauoun As-Sunnah sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan bagaimana hakekat sifat itu, karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mengkhabarkan bagaimana hakekat sifat tersebut.
Pedoman yang harus dipegang oleh setiap muslim adalah :
1.    Semua sifat Allah adalah sifat yang paling sempurna, tidak memiliki kekurangan sama sekali dari segi apapun.
2.    Sifat Allah dibagi menjadi dua :
  1. Sifat tsubutiyyah, yaitu sifat yang ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya dalam Al-Qur’an atau melalui lisan Rasul-Nya. Semuanya adalah sifat yang sempurna, tidak ada unsur kekurangan sama sekali.
  2. Sifat salbiyyah, yaitu sifat yang di-nafi-kan (ditiadakan) oleh Allah untuk diri-Nya, baik peniadaan tersebut termuat dalam Al-Qur’an mapun As-Sunnah. Semuanya yang di-nafi-kan tersebut berupa sifat-sifat kekurangan seperti sifat mati, bodoh, lemah, dan lain-lain. Untuk itu wajib bagi kaum muslimin untuk meniadakan sifat-sifat tersebut dari Allah subhaanahu wa ta’ala dan menetapkan sifat kesempurnaan lawan sifat tersebut.
3.    Semua sifat Allah harus berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada tempat bagi akal untuk menentukannya.
Dari dalil-dalil pada pembagian di atas dapat diketahui oleh siapa saja tentang kebenaran pembagian tauhid menjadi tiga, yaitu :
Ø  Tauhid Rububiyyah.
Ø  Tauhid Uluhiyyah.
Ø  Tauhid Asmaa’ wa Shifat.
Orang yang mengingkari pembagian tauhid ini adalah orang yang mengingkari sesuatu tanpa ilmu dan berbicara atas nama Allah tanpa didasari ilmu. Karena orang yang mempunyai ilmu sedikit saja dari kalangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dimana saja ia berada dan kapan saja, mesti akan mengetahui kebenaran pembagian tersebut. Seseorang tidak dikatakan beriman kalai ia tidak mengimani tiga macam tauhid di atas. Barangsiapa mengimani tauhid rububiyyah saja, maka ia belum dikatakan mukmin. Demikian juga kalau dia hanya mengimani tauhid uluhiyyah atau tauhid asmaa’ wa shifaat saja. Jadi, seseorang dikatakan mukmin kalau dia mengimani ketiga macam tauhid di atas.
Wallaahu a’lam bish-shawwab.


[Diketik ulang oleh Abul-Jauzaa’ dari tulisan Zainul Arifin bin An-Nawawi yang termuat dalam Majalah Salafy edisi lama (XIII/Sya’ban-Ramadlan 1417-1997) halaman 37-41 – dengan sedikit perubahan dan penambahan].

Comments

Anonim mengatakan...

Jika aqidah yg saya pakai tidak sama dengan 3 aqidah di atas, apakah saya sesat dan bukan Islam ataukah hanya sekedar bukan ahlussunah wal jama'ah?

Salam
Abujafar

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Perkataan Anda mengandung banyak kemungkinan makna.

Jika Anda tidak mentauhidkan Allah dalam Rububiyyahnya, Uluhiyyah, dan Al-Asmaa’ wash-Shifaat, memangnya apa yang And tauhidkan ? Dan jika Anda tidak mentauhidkan Allah dalam tiga hal tersebut, tentu saja Anda dapat kafir karenanya.

Anonim mengatakan...

Maaf, maksud saya jika pengertian sy mengenai Rububiyyah umpamanya, tdk sama dgn aqidah ahlussunnah.
Katakanlah saya menganggap bahwa Rububiyyah tdk termasuk Tauhid tentang Sifat Allah Memelihara, namun hanya sebatas Sifat Pencipta. Tauhid Sifat Memelihara ada di bagian tauhid lain.
Apakah sy menjadi kafir karenanya? Meskipun secara hakiki tdk ada perbedaan?

Salam
Abujafar

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Keyakinan Anda bahwa Rububiyyah Allah hanya meliputi sifat 'Mencipta' saja, maka ini tidak lengkap. Karena Rububiyyah ini mencakup banyak hal sebagaimana telah disebutkan di atas. Tentu saja perbedaan ini bukanlah perbedaan dari segi lafadh, namun hakekat dan makna.

Jika Anda tidak mentauhidkan Rububiyyah Allah dalam memberikan rizki, mengatur seluruh alam, dan yang lain sebagainya - dan di sisi lain Anda hanya mengakui sifat Maha Mencipta saja - maka Anda bisa terancam dengan kekafiran. Bagaimana tidak ? karena Anda tidak mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang memberikan rizki, mengatur seluruh alam, menghidupkan dan mematikan, serta yang lainnya.... (dimana ini semua termasuk Rububiyyah Allah ta'ala).

Anonim mengatakan...

Terima kasih,
Tentu saja sy mengakui sifat Allah Maha Memelihara. Masakan tidak? :)
Hanya sy tidak menyatukan sifat Allah tsb dalam Tauhid Rubbubiyah.

Salam
Abjafar

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Jika Anda masih mentauhidkan Allah dalam makna-makna Rububiyyah sebagaimana telah disebutkan di atas, maka di sini Anda hanya melakukan kekeliruan secara ilmiah. Tidak sampai pada mengeluarkan seseorang pada agama (kafir).

Hanya memasukkan sifat bahwa Allah satu-satu Dzat yang menciptakan seluruh alam (makhluk) dalam Tauhid Rububiyyah adalah kurang dan tidak mencukupi.

Anonim mengatakan...

Terima kasih,
Sudah cukup. Saya tadinya khawatir perbedaan pemahaman tentang istilah tauhid akan menyebabkab kekafiran

Salam
Abujafar

muhammad rizal mengatakan...

assalamu'alaikm......, mohon maah sebelumnya karena telah meninggalkan komentar di posting ini, hal ini saya lakukan krn merasa bertanggung jawab atas kebenaran aqidah yg telah keliru dari aqidah sebenarnya yaitu aqidah ahlussunnah wal jama'ah. ulama telah sepakat baik dari kalangan ulama mazahibil arba'ah maupun klangan ulama lain yg mayoritas (jumhur), bahwa aqidah ahlussunnah wal jama'ah adalah aqidah yg di nisbahkan kepada asy-'ariyah dan al-maturidiyah (bukan berarti semata2 pndapat ra'yu beliau berdua saja) tetapi hasil galian dari ayat2 alquran dan Hadist2 yg mutawwatir. sangat aneh dan Syaz bila tauhid tiga serangkai dinisbahkan kepada ahlussunnah karena sangat mukhalafah (berbeda sekali) dengan faham ahlussunnah yg sebenarnya. karena faham tiga serangkai tidak pernah diajarkan dalam ahlussunnah bahkan tauhid tersebut perlu di pertanyakan dan dikhawatirkan keshahihannya. ada beberapa alasan yg saya berani mengatakan demi kian diantaranya :(yg anda tulis dalam posting ini)
":Tauhid Rububiyyah adalah : Suatu keyakinan yang pasti bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala satu-satunya pencipta, pemberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta mengatur semua urusan makhluk-makhluk-Nya tanpa ada sekutu bagi-Nya"
kemudian anda mngatakan bahwa kafir quraisy juga telah bertauhid dengan rububiyah ..? (ini posting anda)Demikian pula pengakuan mereka (orang-orang Quraisy) ketika ditanya tentang siapa pencipta langit dan bumi ? Dan siapa Rabb langit dan bumi ? Mereka akan mengatakan : ”Allah”.
sekarang saya bertanya : apakah tauhidnya kafir quraisy itu tauhid yang pasti (jazam/qath'i)? padahal mereka hanya dimulut saja, krn kalu mereka yakin dengan apa yg mereka ucapkan pasti mereka akan beriman. padahal ulama ahlussunnah sepakat bahwa tauhid itu adalah keyakinaa yang jazam/qath'i bukan seperti yg anda katakan. ini seolah2 telah memberikan pendapat bhwa orang kafir quraisy telah bertauhid, orang nasrani telah bertauhid, orang yahudi telah bertauhid, padahal mereka kafir ada yg kafir musyrik dan ada yg kafir kitabi.... sungguh tidak beralasan pendapat saudara dan pengikut2nya... ini adalah pendapatnya ibnu taimiyah yg gharib (asing) dari jumhur ulama. ibnu taimiyah pengikut mazhab ahmad bin hanbal, tp aqidahnya melenceng krn ahmad bin hanbal sendiri tdk berpendapat seperti demikian.
demikian mudah2an jadi pertimbangan buat yg lainnya. berhatilah berguru dan menuntut ilmu tauhid karena banyak tauhid yg keliru yg telah menggunakan lebel ahlussunnah wal jama'ah. pada dhahirnya asli tp hakikatnya palsu (aspal)
oleh Tgk Muhammad Rizal Aceh.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Wa'alaikumus-salaam warahmatullaahi wabarakatuh

Kalau Anda mengatakan bahwa 'aqidah Ahlus-Sunnah adalah 'aqidah Asy'ariyyah dan Maturidiyyah adalah keliru. Silakan baca satu contoh kecil dalam kitab Asy'ariyyah mu'tabar : Hasyiyyah Al-Baijuriy ‘alaa Jauharit-Tauhiid :

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/02/paham-asyariyyah-adalah-cucu-paham.html.

Di artikel ini saja sudah membuktikan ketidakbenaran mendasar 'aqidah Asy'ariyyah. Kalau ulama Asy'ariyyah mengklaim bahwa mereka sebagai perwakilan Ahlus-Sunnah, ya 'sah-sah' saja....

Adapun tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan asmaa' wa shifat merupakan tauhid yang selaras dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah yang diketahui melalui istiqra' dan tatabbu' terhadap nash-nash. Dan itu bisa Anda baca pada artikel di atas.

Kalau Anda menyangkal bahwa orang kafir Quraisy yang difirmankan Allah dalam Al-Qur'an bahwa mereka mempunyai bagian dari tauhid rububiyyah, ya berarti anda telah menyangkal ayat Al-Qur'an. Mereka (kafir Quraisy) itu tahu bahwa Allah lah yang menciptakan langit dan bumi, menghidupkan dan mematikan. Itu adalah pengetahuan yang fithrah. Namun, tauhid rububiyyah itu belum cukup membuat seseorang menjadi muslim.

Nasihat saya, sebaiknya Anda belajar dulu sebelum banyak berkata-kata. Dengan Anda diam, maka banyak dosa yang antum tahan akibat berkata-kata tanpa ilmu.

Allahul-musta'aan.

Anonim mengatakan...

Buat Muhammad Rizal:

PERKATAAN ULAMA SALAF TENTANG PEMBAGIAN TAUHID

Berikut ini adalah perkataan ulama salaf sebelum zaman Ibnu Taimiyyah tentang pembagian Tauhid.

1. AL-Imam Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit w. 150H, berkata dalam kitab Fiqhul Absath hal 51:
“Allah تعالى itu diseru dengan sifat yang tinggi bukan dengan sifat rendahan, karena sifat yang rendah bukanlah termasuk sifat Rububiyyah dan Uluhiyah sedikitpun”.


2. Ibnu Jarir Ath-Thobari w. 310H, berkata dalam tafsirnya terhadap firman Allah تعالى QS. Muhammad 19:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
“Maka ketahuilah wahai Muhammad, tidak ada sesembahan yang pantas atau layak bagi-Nya untuk disembah, dan tidak boleh bagimu dan bagi seluruh makhluk untuk menyembahnya kecuali Allah تعالى yang menciptakan para makhluk, Penguasa seluruh alam, yang segala sesuatu tunduk padanya dengan kekuasaan Rububiyyah-Nya”.

3. Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi w. 321H, berkata dalam mukaddimah kitab Ath-Thohawiyyah:
“Kami katakan dengan penuh keyakinan –semoga Allah تعالى memberikan curahan taufiknya- dalam masalah pengesaan terhadap Allah تعالى : Allah itu maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada sesuatu yang sepadan dengan-Nya, tidak ada sesuatupun yang mampu mengalahkan-Nya, dan tidak ada sesembahan yang haq melainka Dia”.

4. Imam Abu Hatim Muhammad bin Hibban Al-Busti w. 354H, berkata dalam mukaddimah kitab Roudhotul Uqola’ wa Nuzhatul Fudholaa’:
“Segala puji bagi Allah Yang Maha Tunggal dalam ke-esaan Uluhiyyah-Nya, yang maha mulia dengan Rubbubiyyah-Nya, yang mengurusi segala yang hidup dengan ketentuan ajal…

Anonim mengatakan...

5. Ibnu Abi Zaid Al-Qoirowani Al-Maliki w. 386H menyebutkan dalam kitab Aqidah-nya:
“Termasuk kedalamnya: Beriman dengan hati serta mengucapkan dengan lisan bahwa Allah adalah sesembahan yang Esa, tidak ada sesembahan selain-Nya, tidak ada yang serupa dan sebanding dengan-Nya, Dia tidak memiliki anak dan orang tua. Tidak ada pembantu dan sekutu, tidak ada permulaan dalam uluhiyyah-Nya, serta tidak ada penghabisan bagi yang selain-Nya. Tidak mungkin menjangkau kesempurnaan sifat sifat Allah dengan sekedar sifat sifat yang disebutkan oleh orang orang yang mensifatinya, dan kaum cendikiawan tidak akan bisa menjangkau urusan Allah dengan olah pikirnya”.
Sampai Beliau berkata: “Ingatlah Dia adalah Rabb para hamba dan Rabb dari perbuatan perbuatan mereka.

6. Berkata Al-Imam Abu Abdillah Ubaidulloh bin Muhammad bin Baththoh Al-‘Akbari w. 387H, dalam kitabnya Al-Ibanah ‘an Syariati Al-Firqotin Najiyah wa Mujanibatil Firqotil Madzmumah:
“Sesungguhnya prinsip keimanan kepada Allah تعالى yang wajib diyakini oleh para makhluk dalam hal keimanan kepada-Nya ada tiga bagian:
Pertama: Seseorang hamba harus meyakini Rabbaniyyah Allah. Yang demikian itu sebagai pemisah antara madzhab ahlul tha’thil yang tidakmenetapkan adanya pencipta.
Kedua: Seorang hamba harus meyakini keesaan Allah. Hal ini untuk membedakan dengan madzhab pelaku syirik yang menetapkan adanya pencipta namun menyekutukan Allah dalam peribadatannya.
Ketiga: Dia harus meyakini bahwa Allah disifati dengan sifat sifat sebagaimana Allah mensifati diri-Nya, seperti Qudroh, hikmah, dan seluruh apa yang Dia sifatkan didalam kitab-Nya”.

7. Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusy w. 520H, dalam mukaddimah kitab Sirajul Muluk (1/7):
“Dan aku bersaksi bahwa sungguh bagi Allah sifat Rububiyyah dan Ke-Esaan, dan dengan apa apa yang Allah telah persaksikan bagi diri-Nya dan Nama nama-Nya baik dan sifat sifat-Nya yang maha tinggi serta sifat sifat-Nya yang maha sempurna”.

8. Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi w. 671 berkata dalam tafsirnya (1/72):
“Maka Allah adalah nama yang menunjukkan keberadaan yang haq, terkandung didalam-Nya sifat sifat Ilahiyyah, yang bersifat dengan sifat Rububiyyah. Maha tunggal dengan keberadaan-Nya yang hakiki. Tidak ada sesemgahan yang haq melainkan Dia”.
Beliau juga berkata dalam tafsirnya (5/118):
“Dasar kesyirikan yang diharamkan adalah berkeyakinan adanya sekutu bagi Allah dalam Uluhiyyah-Nya, dan ini adalah kesyirikan yang terbesar, dan kesyirikan yang dilakukan oleh orang orang jahiliyyah. Bentuk kesyirikan yang lainnya adalah keyakinan adanya sekutu bagi Allah dalam perbuatan walaupun dia tidak meyakini ketuhanan hal tersebut, seperti perkataan orang: “Sesungguhnya selain Allah memungkinkan untuk mengadakan dan menciptakan dengan tanpa adanya keterkaitan”.

Anonim mengatakan...

Untuk akhi muhammad rizal :

Afwan akh, nampaknya antum lah yg harus berhati2 dalam menuntut ilmu tauhid. Asy'ariyah adalah paham yg baru muncul pada abad 2 H yaitu pencetusnya adalah Abul Hasan Al-Asy'ari.

Banyak muslim di Indonesia yg katanya mengikuti madzhab imam Syafi'i tp ternyata tauhidnya mengikuti madzhab Asy'ari/Maturidi/Jahmiy. Disini saya akan tambahkan manhaj aqidah Imam Syafi'i sebagai imam panutan muslim Indonesia sebagai bantahan pada mereka yg mengklaim imam Syafi'i berakidah Asy'ari :

1. Imam Syafi'i pernah ditanya tentang sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta'ala yang harus diimani, maka beliau menjawab, bahwa Alloh Subhanahu wa Ta'ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang telah dikabarkan oleh kitabNya dan dijelaskan oleh NabiNya kepada umatnya. Tidak seorang pun boleh menolaknya setelah hujjah (keterangan) sampai kepadanya karena Al-Qur'an turun dengan membawa nama-nama dan sifat-sifat itu. Maka barangsiapa yang menolaknya setelah tegaknya hujjah, ia adalah kafir. Adapun sebelum tegaknya hujjah, ia adalah ma'dzur (diampuni) karena kebodohannya, sebab hal (nama-nama dan sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta'ala) itu tidak bisa diketahui dengan akal dan pemikiran. Alloh Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan bahwa Dia memiliki sifat "Yadaini" (dua tangan), dengan firmanNya, yang artinya: "Tetapi kedua tangan Alloh terbuka" (QS: Al-Maidah: 64). Dia memiliki wajah, dengan firmanNya, yang artinya: "Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajahNya" (QS: Al-Qashash: 88)." (Manaqib Asy-Syafi'i, Al-Baihaqi, 1/412-413; Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah, Al-Lalikai, 2/702; Siyar A'lam An-Nubala', Adz-Dzahabi, 10/79-80; Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyah, Ibnul Qayyim, 94).

2. Sumber aqidah Imam Syafi'i adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Beliau pernah mengucapkan: sebuah ucapan seperti apapun tidak akan pasti (tidak diterima) kecuali dengan (dasar) Kitabulloh atau Sunnah RasulNya. Dan setiap yang berbicara tidak berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka ia adalah mengigau (membual, tidak ada artinya). Wallahu a'lam. ( Manaqibusy Syafi'i, 1/470&475)

---bersambung---

Anonim mengatakan...

3. Dari Ar-Robi’ bin Sulaiman: Imam Syafi’i mengatakan: “Barangsiapa bersumpah dengan nama Alloh, atau dengan nama-namaNya yang lain, lalu ia melanggarnya, maka ia wajib membayar kaffarot (tebusan). (Manaqib Syafi’i 1/405). Yang demikian itu: “Karena nama-nama Alloh itu bukanlah makhluk, maka barangsiapa bersumpah dengan nama Alloh, lalu melanggarnya, maka wajib atasnya membayar kaffarot”. (Adab syafi’i libni Abi Hatim, Al-Hilyah li Abi Nu’aim 9/112, Sunan Kubro lil baihaqi 1/28, Al-Asma was shifat lil baihaqi 255-256, Syarhus sunnah lil baghowi 1/188, Al-Uluw lidz Dzahabi 121, Mukhtashorul Uluw lil albani 77)

4. Imam Syafi’i mengatakan: Perkataan dalam sunnah yang aku berjalan di atasnya, dan aku lihat para sahabat kami juga berjalan di atasnya, -yakni para ahlul hadits yang ku temui dan ku ambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan Ats-Tsauri, Malik, yang lainnya-, adalah: Berikrar dengan persaksian bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh, sesungguhnya Muhammad itu Rosululloh, sesungguhnya Alloh itu diatas arsy-Nya, di atas langit-Nya, Dia mendekat kepada makhluknya bagaiamanapun Dia kehendaki, dan Alloh juga turun ke langit dunia sesuai kehendaknya. (Ijtima’ul juyusyil islamiyah libnil qoyyim, hal: 165. Itsbatu Shifatil Uluw, hal:124. Majmu’ul Fatawa 4/181-183. Al-Uluw lidz Dzahabi, hal: 120. Mukhtashorul Uluw lil Albani, hal: 176)

5. Al-Imam Syafi'i berkata didalam kitab Ar-Risalah hal 7-8 : “Segala puji bagi Alloh… yang Dia itu sebagaimana disifati sendiri oleh-Nya, dan lebih agung dari sifat yang diberikan oleh para makhluknya”. (Ar-Risalah, hal:7-8)

6. Dari Ar-Robi bin Sulaiman, dari Asy-Syafii: “Barangsiapa mengatakan Alqur’an itu makhluk, maka dia kafir”. (Syarah Ushul I’tiqodi Ahlissunnah wal Jama’ah lillalaka’I 1/252)

7. Robi’ bin Sulaiman mengatakan: aku pernah mendatangi Muhammad bin Idris Asy-Syafii, ketika sampai padanya kertas yang bertuliskan: “Apa pendapatmu tentang firman Alloh ta’ala: ‘Sekali-kali tidak, sungguh mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari melihat Tuhannya’.” (Al-Muthoffifin: 15). Imam Syafii mengatakan: “Ketika mereka terhalangi (dari melihat-Nya) di saat (Alloh) marah, itu berarti dalil bahwa sesungguhnya mereka akan melihatnya di saat (Alloh) ridho”. Ar-Robi’ bertanya: “Apa dengan itu engkau berpendapat?”. “Ya, itulah agama yang akan kupertanggung-jawabkan di hadapan Alloh kelak”. (Syarah Ushul I’tiqodi Ahlissunnah wal Jama’ah lillalaka’i 2/506)

Semoga dapat membukakan hati2 yg telah taqlid buta oleh akidah asy'ari. Inilah aqidah Imam agung nashirus sunnah, Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i -rahimahullah-. Jadi, tidaklah tepat ketika akhi muhammad rizal mengatakan aqidah asy'ariyah adalah aqidah ijma' dari imam 4 madzhab.

Wallahu a'lam bishowab.

Aqil mengatakan...

pembegaian tauhid menjadi 3 adalah bid'ah dan tidak dikenal oleh ulama Salaf

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Coba Anda baca komentar di atas Anda.

Anonim mengatakan...

Tauhid boleh dibagi,..
Kok masalah bidah gak boleh dibagi,.
Aneh..??????

Anonim mengatakan...

Tauhid kok di bagi...?!! sing ati2 poro sdulur...!! sing biso bibagi-bagi kuwi makhluk dudu Pengeran.....!!!

bingung mengatakan...

saudaraku, saat saudaramu telah berhujjah dengan dalil yang kuat, tidak pantas bagi siapapun membantahnya, kecuali hujjahnya tidak tepat sasaran.
maka jangan suka membandingkan dengan yang bukan bandingannya. tauhid dibandingkan dengan bid'ah pembagiannya, itu tidak mengena. tp harapan sy jangan berhenti belajar. bukalah hati anda, kita terhadap kebenaran, meski bertentangan dengan keyakinan sebelumnya. cerna dengan baik dan sungguh-sungguh. semoga Alloh menunjukan kita pilihan yang benar.

Anonim mengatakan...

assalamualaikum y akhi, sy cuma ingin belajar yg benar dan lurus. mohon bila ada sanggahan atau di benarkan kiranya memberi hujjah dgn dalil. jgn mengatakan salah atau betul tanpa dalil. kepada yg menolak, tolaklah dgn dalil anda, kpd yg mendukung beri dukungan dgn dalil anda. kasihan org seperti sy yg ingin belajar. mohon kerjasama dan pengertian anda. terima kasih. yg benar pasfi dari Allah. amien. wassalamualaikum

Anonim mengatakan...

ustadz apa bisa dibuatkan kesimpulan atau catatan singkat yang berisi tujuan dari pembagian tauhid ini.

jazaakallahu khairan

abu 'abdillah

Anonim mengatakan...

semoga Allah membuka pintu hati anda, sebagaimana dia telah membuka aqal anda, sebab tidak ada satupun dari salafus shaleh yang menyatakan bahwa tauhid terbagi tiga. demi Allah jika anda benar, tunjukkan satu saja bukti bahwa ada kalangan salafus shaleh yang menyatakan bahwa tauhid itu terbagi 3. terima kasih

Anonim mengatakan...

@anonim 31 Agustus 2012 02:53

kalau antum berkata begitu, saya jg bisa dong membuat analogi begini :

semoga Allah membuka pintu hati anda, sebagaimana dia telah membuka aqal anda, sebab tidak ada satupun dari salafus shaleh yang merayakan maulid Nabi. demi Allah jika anda benar, tunjukkan satu saja bukti bahwa ada kalangan salafus shaleh yang merayakan maulid Nabi. terima kasih.

Anonim mengatakan...

Apakah Lailahailallah saja tidak cukup?...

Anonim mengatakan...

Menurut pemahaman taudid ahlus-sunnah wal-jama'ah tidaklah dikenal pembagian tauhid menjadi 3 seperti terurai pada artikel di atas. Namun pembagian tauhid menjadi 3 ini sudah umum dikenal dan diyakini oleh orang-orang yg berpaham wahabi. maaf saya rasa Ustad yg terhormat salah menyandarkan nama pengertian tauhid tri tunggal itu pada keyakinan tauhid ahlus-sunnah wal-jama'ah, namun tepat jika dikatakan artikel di atas berjudul "Pembagian Tauhid Menurut Wahabi". Sebagai rujukan untuk orang-orang awam tentang ciri-ciri dari kelompok orang yang perpaham tauhid tri tunggal ini silahkan liat pada link berikut : http://www.infosalafi.com/berita/2012/05/10/ciri-ciri-komplotan-wahabi/

Anonim mengatakan...

Dikatakan tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma' wa sifat, mereka bilang tri tunggal.
Dikatakan Alloh istawa di atas arsy, mereka bilang Alloh punya rumah di atas langit
Dikatakan tahlilan itu bid'ah, mereka bilang baca tahlil kok dilarang
dan seabrek lainya.....SABARRR.

Anonim mengatakan...

pembagian tauhid ke dalam 3 adalah bid'ah, tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW angak 3 itu muncul dari mana

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum,
Terimakasih atas postingannya...

saya senang membacanya,

Fu

Anonim mengatakan...

Ah yg bnr tadz

Anonim mengatakan...

Subhanallah....sangat masuk akal sekali ustadz...saya setuju dengan artikel diatas...semua argument berdasarkan Dalil Alqur'an. Ya Allah ...tunjukkan lah yang benar itu adalah benar...sebagai Pencari Ilmu, artikel ini sangat mencerahkan dan menambah pengetahuan. semoga Ustadz terus memberikan ilmu kepada kami yang masih awam. Dan Allah Maha Pemberi balasan yang setimpal. Aamiin..

Anonim mengatakan...

Pembagian seperti itu hanya penggiringan saja,
dengan sandaran ulasan tsb. agar mudah membid'ahkan dan mengkafirkan orang yg tidak sefaham dengan penulisnya.
naudubillah min dzalik.

Anonim mengatakan...

pembagian seperti ini bukannya malah untuk lebih mempermudah dalam memahami tauhid..
cilacap_jateng

Awad Khan mengatakan...

salam alaik..bisa ga saya minta satu hal...coba teliti ulang saya yang pertama membagi tauhid menjadi tiga.....saya rasa al-Quran tidak, rasulullah juga tidak....siapa dong...

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Itu dengan metode istiqraa' dan tatabbu'. Sama seperti pembagian hadits menjadi ahad dan mutawatir. Atau, pembagian istilah dalam ilmu nahwu. Dan masih banyak yang lainnya.

Tentang tauhid, kan di atas sudah disebutkan beberapa perkataan para ulama tentang tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Al-Asmaa' wash-Shifaat. Jadi, jika dikatakan tauhid ada 3 itu karena pembagian atau pengelompokan dari yang sudah ada saja.

Ardhie Ardhana Video Shooting And Photo Graphy mengatakan...

Maaf, jika golongan yang biasa disebut salafy/wahaby (oleh orang diluar mereka)menggolongkan diri sebagai ahlussunnah berarti apakah bisa disebut sunny? setau saya, sunny adalah sebutan untuk orang2 ahlussunnah. maaf kalo salah.

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum,

1. Pembagian Tauhid menjadi tiga , sbnrnya bukanlah hal yang baru, namun Para ulama hanya utk memperjelas saja berdasarkan Al quran wa sunnah.
Layaknya (analogi) seorang ahli dlm melihat sebuah komputer. Sempurnanya kerja komputer bila ADA HARD WARE, SOFT WARE dan HUMAN . Jadi demikianlah para ulama memperjelas hakekat TAUHID , wong sdh demikian adanya, jadi hanya memperjelas sekaligus menyempurnakan pemahaman kaum muslimin.

2. Asy'ariyah dalam hal memmahami ayat2 mutasyabih, knp mrk menafikan Allah ber-istiwa ? atau Allah "Punya dua tangan" dan ayat lainnya yg semisal ? Karena mrk takut menyerupakan Allah dg makhluk, hal ini sangat dihargai.Niat mrk baek. Sehingga menggahti makna ISTIWA dg ISTAULA (menguasai) dan lainnya yg semisal . Namun asy'ari khilaf akan sesuatu , apa itu ? Dia seolah olah tahu persis ISTIWA Nya Allah seperti ISTIWA nya makhluk ! padahal ISTIWA Nnya Allah itu ghoib , tidak bisa di pahami hakekatnya , bagaimananya ! Demikian pun "tangan Allah", itu hal yang diluar jangkauan akal dan fikiran manusia. Tidaklah sama zat, bentuk dan hakekat ISTIWA Nya Allah dengan makhluk, demikian pun dengan " wajah " , "tangan" dan sifat - sifat Allah lainnya yg Allah khabarkan dalam Al quran. Kesimpulan : Yakini sajalah apa apa yg Allah firmankan tanpa mentakwil , mentasybih, dst. dg prinsip Surat Al Ikhlas. Barakallahu fiikum

yudi mengatakan...

Allah itu raja bukan PANGERAN. Robb manusia, Raja manusia, Illaah manusia.

Anonim mengatakan...

Kok kayak konsep trinitasnya umat Kristiani ya?

Sudah coba tanya umat Kristiani kenapa ada Allah, Yesus dan Roh Kudus belum?

Menurut mereka Tuhan itu ESA, tapi untuk berkomunikasi dan menyebarkan ajaran tauhid versi mereka, Tuhan bermanifestasi menjadi 3, yaitu Allah (Tuhan), Yesus (Tuhan dalam wujud manusia supaya bisa bertatap langsung kepada manusia demi menyampaikan tauhid dan wahyu Tuhan) serta Roh Kudus (atau bagi umat Katholik, Bunda Maria – pihak perantara antara Allah dan Yesus). Kan Nabi Isa alaihissalam tidak pernah mengajarkan hal ini, tapi kaum-kaumnya-lah yang menyelewengkan tauhid yang ESA yang dibawakan Nabi Allah Isa alaihissalam.

Di dalam Al-Qur’an dan Hadits pun tidak ada penjelasan mengenai tauhid trinitas. Beriman kepada Allah ta’ala hanya perlu dengan kalimat:

“AKU BERSAKSI BAHWA TIADA ILAH (TUHAN) SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH.”

Kalau memang ada pendapat ulama yang berpendapat bahwa tauhid trinitas itu benar adanya, lalu apakah Al-Qur’an dan Hadits salah dan pendapat ulama-ulama lebih benar?

Kan pendapatnya pengikutnya Yesus berpendapat bahwa Yesus (Nabi Isa alaihissalam) adalah Tuhan, padahal Nabi Isa mati-matian menetapkan tauhid TIADA TUHAN SELAIN ALLAH kepada umat Yahudi saat itu, tapi pengikutnya lebih benar?

Bukankah itu bid’ah (hal-hal baru yang berbentuk akidah yang tidak disampaikan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya)?

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Saya susah memahami, kok bisa diqiyaskan dengan Trinitas ya. Sisi apanya yang bisa diqiyaskan ?. Kembalikan ke ilmu ushul kalau mau main ke qiyas-qiyasan. Apakah karena sekedar di situ ada bilangan 3 (tiga). Jika cara pikirnya demikian (asal main qiyas tanpa aturan), nanti kalau saya punya program 3 anak cukup, ada orang yang nyeletuk : "Konsep berkeluarga Anda kok seperti konsep pembagian tauhidnya Wahabi ya ?".

Anonim mengatakan...

Ketahuilah pembagian tauhid menjadi tiga telah terbukti secara ilmiah kebatilannya dan bukan bersumber dari ajaran Islam. Allah dan RasulNya tidak pernah mengajarkan tauhid dengan model trinitas seperti itu. Begitu juga para Sahabat Nabi tidak ada satu pun yang mengajarkan “tauhid tiga” tersebut.

Umat Islam harus paham bahwa masalah tauhid/aqidah merupakan masalah ushul, yang wajib berdasar dalil Qoth’i (pasti). Perlu dipertanyakan darimana dan apa dalil Qoth’i yang menjadi dasar pembagian tauhid tiga tersebut. Selain itu, efek samping dari ajaran “tauhid tiga” yang batil ini hanya akan menimbulkan fitnah di tengah Umat Islam. Seperti kita ketahui bersama, tauhid tiga ajaran Wahabi Salafi ujung-ujungnya hanya bermaksud untuk menuduh bahkan memvonis kaum beriman sebagai musyrik. Sebagai contoh dalam masalah tauhid asma wasifat dimana kelompok Wahabi Salafi ingin mengeluarkan faham Asy’ariah dari kelompok kaum muslimin yang benar, khususnya berkenaan dengan ayat-ayat sifat atau ayat-ayat mutasabihat yang berkaitan dengan masalah boleh tidaknya ta’wil.

Dan ternyata memang pembagian tauhid menjadi tiga (Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat) sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, dan hadits, serta tidak ada seorang pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang, mereka mengaku datang sebagai penegak Tauhid untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah. Mereka adalah kelompok yang terjerumus dalam aqidah tasybih dan tajsim yang menyamakan Allah SWT dengan makhlukNya. Wallohu a’lam.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Sebenarnya komentar Anda adalah jenis komentar yang tidak memperhatikan pembicaraan yang telah berlangsung sebelumnya. Coba tengok ap ayang telah tertulis di atas dalam kolom komentar. Atau baca pula artikel : Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy dan Pembagian Tauhid. Semoga bermanfaat.

Shadow-Bane mengatakan...

@ (Anonim 22 Mei 2014 12.36):
Apa yang anda katakan ini sama seperti anda mengatakan bahwa Ilmu Nahwu Shorof itu tidak diajarkan Nabi..
Atau perkataan kaum Khawarij yang menuduh pembagian Kufur itu adalah bid'ah.

Tentu saja Nabi tak menjelaskan teori ini, karena beliau dan para Shahabat hidup dengannya.
Teori ini muncul setelah banyak para penuntut Ilmu yang berasal dari kalangan Mualaf, jadi mereka perlu diperkenalkan Aqidah dan Syariat dengan istilah, agar lebih mudah dipelajari dan dihafalkan.

Sama kan seperti Nahwu Shorof?
Nabi dan para Shahabat dulu tak pernah belajar dan tak mengenal Nahwu Shorof, karena memang mereka sejak lahir hidup dengan ilmu itu.

Baru setelah ada banyak orang-orang masuk Islam dari banyak tempat diluar Arab, maka Ali bin Abi Thalib pun menyuruh beberapa Shahabatnya untuk meletakkan dasar ilmu Nahwu Shorof agar orang-orang bisa belajar bahasa Arab dengan benar.

Anonim mengatakan...

Saya rasa ada komentar yang komen di sini mengatakan taudid 3 serangkai,kenapa tauhid dibahagi 3 sedangkan tauhid hanya satu,tentunya golongan yang malas ataupun berpenyakit hati. Saya dari kecil dibesarkan dengan pelajaran tauhid sifat 20, selepas itu belajar ke tauhid 3 serangkai (bukan tauhid bahagi 3), dan kembali belajar kedua-dua tauhid ini. Saya merasakan tidak ada masalah pun antara kedua2 metodologi ini (salaf dan khalaf).Sesiapa yang hanya komen mengikut hati tu,janganlah sampai komentar anda menunjukkan cara fikir anda tu dengan jelas. Ibaratnya sebahagian pelajar salaf yang menganggap tauhid sifat 20 tu terpecah kepada 20. Kalau nak sampai kata tauhid 3 serangkai tu kafir,majoriti umat Malaysia sudah kafir,sukatan pengajian agama sekolah dan universiti semuanya berfokus pada tauhid 3 serangkai. Tuduhan memang ringan di sini,tapi berat kesannya di sana.

Anonim mengatakan...

Menjelaskan bahwa Aqidah yang dipakai si A adalah aqidah Kufur, bukan berarti lantas menujuluki si A sebagai Kafir.

Dalam Aqidah Ahlussunnah (bukan bahasa lho ya), apa yang dilakukan Fa'il itu tak lantas menjadikan si Fa'il tersebut berhak disifati dengan Fi'ilnya.

Sama seperti seorang Shahabat yang baru pulang dari Syiria tiba-tiba mendatangi nabi & bersujud pada Nabi.
Sujud pada selain Allah itu Kafir Akbar.
Tapi Nabi tak lantas memvonis Shahabat tersebut Kafir.

Nabi tanyakan dulu, apa motivasinya bersujud pada Nabi.
Ternyata Shahabat tersebut hanya ikut-ikutan orang Nasrani Syiria yang suka sujud pada Pendetanya (untuk menghormati).

Maka Nabi pun melarang & menjelaskan bahwa itu adalah perbuatan Kufur.
Nabi sekalipun tak pernah mengkafirkan Shahabat tersebut.

Iyas mengatakan...

Mungkin bermanfaat buat antum akhi,

http://iyasjkt.blogspot.com/2014/07/pengertian-dan-pembagian-tauhid.html

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Tauhid Mulkiyyah itu sudah masuk cakupan Tauhid Rububiyyah.

Iyas mengatakan...

sepertinya antum membacanya tidak sampai akhir.

Andy J.P.M Gucci mengatakan...

Bedanya Trinitas Kristen dengan 3 pembaian
tauhid yang difitnah sebagai Trinitas islami.
Trinitas kristen = tuhan itu ada satu namun
terwujud pada 3 pembagian.
A= Tuhan bapa, inilah Allah yang tertinggi.
B= Tuhan anak atau yesus (Nabi Isa as).
C= Roh kudus , inilah malaikat jibril.
Trinitas kristen meyakini 1 tuhan dengan 3
wujud yang berbeda = wujud Allah, manusia ,
dan malaikat.
Bandingkan dengan 3 pembagian Tauhid
atau fitnahnya trinitas islami.
Rubbubiyah = meyakini Allah adalah pencipta
alam semesta dan segala isinya, Allah yang
mengatur semua hukum.
Uluhiyah = meyakini Allah lah Ilah (tuhan)
yang haq disembah. Dan dijadikan tujuan
ibadah dan doa.
Asma Wa shifat = meyakini kekuasaan Allah
dalm sifat sifatnya dan tidak mendustainya.
3 pembagian tauhid semua bermuara kepada
Allah. Zatnya sama sama Allah. Sama sekali
tidak membicarakan dan menggambarkan
wujud Allah.
Jadi orang berakal bisa membedakan apa itu
trinitas kristen dan Trinitas islami (kurang
sreg dengan sebutan ini).
So fitnah apa lagi yang akan diberikan
kepada umat islam ...?

Andy J.P.M Gucci mengatakan...

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10204384062978938&id=1151315827&_rdr


itu link berisi tulisan bantahan yang mengatakan pembagian tauhid adalah trinitas.

Sangkakala Zaman mengatakan...

subhanallah..jelas mudah dfahami,terang bederang,indahnya (ISLAM)jika mengikut method sbenar sperti yg akhi jelaskan(ALquran Asunnah)kmudhan fitrah manusia itu sndri yg trbatas akalnya..ngak ada lencongan,bengkok,kabur,cyclic sifat dalil kbenaran itu..demi Allah,telah tegak HAQ hujah pda mnusia2 yg berakal/mata hati..ngak ada omongan kosongan taklid buta pda artikel akhi sperti yg difitnahkn dilolongkan sgolongan mnusia yg keras buta ego zahir batinnya..maaf..sunnatullah akhir zman..mohon teman2 sperti akhi dikurniakan redha sabar,teguh dlm mgharungi fitnah fana manusia..amin..mhon dihalalkan ilmunya..peace

Sangkakala Zaman mengatakan...

demi Allah SWT,
kmungkaran,keingkaran itu lemah,jelik sifatnya..dan ini jelas terlihat pada teman2 yg masih plin plan,ingkar,mutar hanya mnurut mainan bahasa tanpa bantahan dalil nash di pamerkan..semata2 bantahan utuk memuaskan syubhat hati,maaf,,jelas terlihat pda glongan sdemikian..maaf..
mana dalil kalian??skdar angin lalu,,sia2..ssguhnya ISLAM itu smpurna,mudah,cocok bagi fitrah semua glongan umat mnusia,ngak ada yg berbelit2 kabur sifatnya..skadar prkgsian ssma jasad(islam).cinta kalian.peace

brotolegowo mengatakan...

Assalamualaykum Ustad... semoga Allah merahmati kita sekalian

mohon penjelasan dan koreksinya

ini murni pikiran saya sendiri pembagian ini memang demi mempermudah kita dalam menelusuri hati kita sendiri akan ihwal ketuhidan kita, namun demikian apakah perbedaannya antara Tauhid Rubbubiyah dan Uluhiyah.. menimbang ayat ayat yang merujuk pada Rubbubiyah seringkali diakhiri dengan pertanyaan yang menisbatkan pada bukti perbuatan tauhid hamba itu sendiri.. "apakah kamu tidak bertaqwa?" atau "dari jalan manakah kamu ditipu..?
disamping itu pula Pencipta (yang termasuk pada Rubbubiyah) juga terdapat pula pada Asma Allah (Al -Khaliq) yang termasuk pada Asma Wa Shifat

menimbang dari itu bisakah seseorang dikatakan bertauhid jika dia hanya mengambil salah satunya saja misal hanya meyakini saja tanpa ada bukti perbuatan dari yakinnya itu, tentunya tidak karena akan batal dengan sendirinya secara bahasa "menjadikan sesuatu itu satu"...

mohon maaf lagi "iblis pun tahu persis akan Kebesaran Allah, Keesaan dan sifat-Nya tapi ia tidak memberikan bukti perbuatan dari persaksiannya itu...

jadi pembagian ini untuk mempermudah kita saja .. sedang keseluruhannya haruslah dikumpulkan antara Kebesaran Allah dengan segala Sifat sempurna yang diberitakan oleh-Nya dan masih bisa dijangkau oleh bayangan pensifatan yang difahami manusia (sesungguhnya Allah lebih Agung dari yang mampu kita renungkan-Maha suci Allah dari pensifatan mahluknya dan tidak ada sesutupun yang setara dengan-Nya) serta penghambaan kita kepadaNya... barulah itu dinamai Tauhid...

apa betul demikian ustad..?

sukri mohd sapiee mengatakan...

لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ...

Rumuny yg ana pham dan belajar selama ini adalah,

Tidak lah ada "tauhid" 3. Yg menjadi ksalahan adalah meletakkN "tauhid" itu tiga. Spatutnya artikal diatas menytakan "pecahan tauhid" dlm bab "paham" dipecahkan tiga bahagian adalah tujuan untuk pembelajaran hujah paham. Tidk lah dan bukan lah tauhid itu ada tiga. Tauhidan maknanya pun satu ahad. Yakni Esa dan se atau satu.

Pecahan ini Dlaah bertujuan bagi pelajar2 yg mahu mendalami ilmi ketahuhidan, dan jika di letak ia sebagai tiga tauhid adalah amat salah dan tidk menepati kehndak "tauhid" itu sendiri.

rofi hidayatullah mengatakan...

akhi sukri mohd sapiee

menurut saya, secara bahasa tidak ada masalah dengan pernyataan "Tauhid ada tiga".
tauhid/pengesaan ada tiga, sedangkan mauhud/yang diesakan hanya ada satu.

wallaahu a'lam

sukri mohd sapiee mengatakan...

Difinisi "tauhid" ahad. Esa satu. Jika "tiga" maka kekeliruan pada al-awam akan ujud. Itu maksud ana.

rofi hidayatullah mengatakan...

Tauhid dan Ahad kan beda maknanya, meskipun berasal dari akar kata yang sama.
tauhid itu pengesaan, sedangkan Ahad adalah esa.

pengesaan ada 3, yaitu pengesaan dalam rubbubiyyah, pengesaan dalam uluhiyyah dan pengesaan dalam asma wa shifat.
sedangkan Allah adalah ahad/esa, maka jumlahnya hanya 1.

saya orang awam juga lho dan tidak menemui kesulitan memahami ini.

sukri mohd sapiee mengatakan...

Nah..;) kalo ahad itu esa itu juga satu.. Jadi bagaimana ada tiga..?

Tuhan bapa?
Tuhan anak?
Tuhan ruh quddus?

Trinitas..?

1+1+1=3???

Lagi pening ni bung...:) jgn bicara tentang suatu yg anda tak punya pengetahuan tentang nya..

Tahudian-
Ahadiyyah-
Wahdiyatul-
Esa-
Ahad-

Kalau rububiyyah itu tahud-
Uluhiyyah itu juga tauhid-
As'ma wa'sifati itu tauhid-

Padahala itu tidak usah dan tidk pelu dibahagi2kan. Dah memng itu keangungan dan kekuasaan Allah.. Mentauhidkan Allah itu satu. Kalo bab sifati as'ma afal dan sebagainya itu pecahan pada pelajaran paham. Bukan di bagi jadi tiga tauhid.


Kok boleh jadi tiga tauhid? Aduuuuu...;)

sukri mohd sapiee mengatakan...

Kalau anda tetap mengatakn tauhid itu tiga. Maka ada tiga tuhan.

Satu tuhan rububiyyah
Dua tuhan uluhiyyah
Tiga tuhan as'ma wa'sifati.

Tauhid itu menetapkan bahwa Allah (tuhan) itu hnya Dia. Yakni Allah. Itu tauhid. Jadi jiga tauhid letak pada lain, maka akan ada ujud lagi tuhan selain dia. Hatta anda mengatakan "rububiyyah" drinya Jua. Uluhiyyah itu drinya jua. As'ma w'sifati itu drinya jua. Itu kata anda. Tapi difinisi artikata "tauhid" itu adalah ahadiyyah. Ahad. Esa. Tiada yg lain, hatta anda mengatakn yg diatas. Terap tidak menepati difinisi "tauhid" itu sndiri.

sukri mohd sapiee mengatakan...

Anda sendiri mengatakan dlm komentar anda -

Tauhid dan ahad beda maknnya
"Meskipun berasal dri akar kata yg sama"

Jadi bagaiman anda boleh "membedakan"? Kalo dikatakan tauhid itu ahad. Ahad itu tauhid, ahad itu Esa, jadi mengapa dibagi2 ahad atau esa itu jadi tiga..?

sukri mohd sapiee mengatakan...

Jgn bicara berbelit macam lidah biawak. Konsep trinity yg anda cuba sisipkan pada agama islam ini amat kami jelas melihatnya.

Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Saudara Sukri, memang tak perlu berbelit macam lidah biawak, karena yang perlu adalah belajar. Silakan baca artikel berikut:

Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy dan Pembagian Tauhid

Tauhid Rubuubiyyah dan Tauhid Uluuhiyyah Menurut Taqiyyudiin Al-Maqriiziy Asy-Syaafi’iy

Semoga ada manfaatnya.

Anonim mengatakan...

Jadi ceritanya begini:

Menurut sebagian saudara kita yang aswaja, bahwa tauhid itu:
- Pasti meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta
- Pasti meyakini bahwa Allah satu-satunya yang wajib diibadahi
- Pasti meyakini asma dan sifat Allah.

Jadi tidak perlu dibagi, karena OTOMATIS hal-hal diatas sudah include itu semua. Jadi tidak perlu pembagian.

Seperti kata "Budi Pergi Ke Pasar", Saudara kita yang salafi membagi:
Budi = Subyek
Pergi = Prediket
Ke Pasar = Keterangan

Nah, saudara kita aswaja bilang: "Tidak perlu dibagi seperti itu, karena sudah PASTI 'Budi Pergi Ke Pasar', bukan pergi ke bioskop"

Begitu kira-kira. Sebenarnya saya mau menambah panjang lebar, namun waktu tidak memungkinkan. Sekian.