17 Juni 2009

Apakah Seorang Muslim Harus Mengikuti Madzhab Tertentu ?

Tidak perlu diragukan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengharuskan umat ini untuk berpegang pada madzhab tertentu. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya mewajibakan mereka untuk ber-itiiba’ kepada beliau, sebab kebenaran terbatas pada apa yang beliau sabdakan saja. Seorang yang ‘adil akan berkesimpulan bahwa taqlid kepada imam tertentu tanpa melihat dalilnya adalah kebodohan yang besar dan musibah yang mengerikan. Bahkan sikap seperti itu adalah sikap yang didasari oleh hawa nafsu dan fanatisme buta belaka.

Seluruh imam mujtahid telah sepakat untuk melarang taqlid, sebagaimana kita pahami pada pembahasan sebelumnya. Maka barangsiapa mengikuti dalil, berarti dia telah mengikuti imam madzhabnya, mengikuti imam yang lainnya, dan Kitab Allah beserta Sunnah Rasul-Nya. Seseorang yang dianggap keluar dari madzhabnya adalah orang yang bersikukuh untuk ber-taqlid walaupun menyelisihi dalil, sebab imamnya sendiri ketika mendapatkan hadits yang shahih akan mengikutinya dan meninggalkan pendapatnya sendiri. Orang yang taqlid dengan gaya semacam itu telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri.[1]

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya”.[2]

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir”.[3]

Ibnu Hazm – rahimahullah – berkata : [4]

التقليد حرام ولا يحل لأحد أن يأخذ بقول أحد غير رسول الله صلى الله عليه وسلم بلا برهان لقوله تعالى : (اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ) وقوله تعالى : (وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا).
وقال مادحًا لمن لم يقلد : (فَبَشِّرْ عِبَادِي * الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ) وقال تعالى : (فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ) فلم يبح الله تعالى رد التنازع إلى أحد دون القرآن والسنة، وقد صح إجماع الصحابة كلهم أولهم عن آخرهم وإجماع التابعين أولهم عن آخرهم وإجماع تابعي التابعين أولهم عن آخرهم - على إمتناع والمنع من أن يقصد منهم أحد إلى قول إنسان منهم أو ممن قبلهم فيأخذه كله.
فليعلم من أخذ بجميع أقوال أبي حنيفة أو جميع أقوال مالك أو جميع أقوال الشافعي أو جميع أقوال أحمد رضي الله عنهم ولم يترك قول من اتبع منهم أو من غيرهم إلى قول غيره، ولم يعتمد على ما جاء في القرآن والسنة غير صارف ذلك إلى قول إنسان بعينه - أنه قد خالف إجماع الأمة كلهم أولها عن آخرها بيقين لا إشكال فيه، وأنه لا يجد لنفسه سلفًا ولا إنسانًا في جميع الأعصار المحمودة الثلاثة، فقد اتبع غير سبيل المؤمنين من هذه المنزلة، وأيضًا فإن هؤلاء الفقهاء كلهم قد نهوا عن تقليد غيرهم فقد خالفهم من قلدهم.

Taqlid adalah haram, tidak halal bagi seorang yang berpegang pada pendapat orang lain tanpa dasar ilmu, selain dari perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan dasar firman Allah ta’ala : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya”.[5] Dan juga firman-Nya ta’ala : “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami".[6]

Kemudian Allah ta’ala memuji orang-orang yang tidak ber-taqlid dengan firman-Nya: “Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.[7] Dan juga firman-Nya ta’ala : “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir”.[8]

Allah ta’ala melarang mengembalikan perselisihan kepada siapapun selain Al-Qur’an dan As-Sunnah. Telah terjadi ijma’ di kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in dari awal hingga akhir tentang tidak diperbolehkannya mengkhususkan seseorang, baik dari kalangan mereka sendiri atau orang yang hidup sebelum mereka, dan menjadikannya sebagai panutan, dengan konsekuensi mengikuti seluruh perkataannya.

Jadi, perlu diketahui oleh orang-orang yang mengambil seluruh perkataan imamnya, baik Abu Hanifah, Maalik, Asy-Syaafi’i, atau Ahmad radliyallaahu ‘anhum, dan tidak mau meninggalkan pendapat imamnya untuk menuju pendapat yang lain, kemudian dia juga tidak menyandarkan dirinya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah; maka dia dinyatakan telah menyelisihi ijma’ seluruh umat dari awal hingga akhir. (Atas perbuatannya itu), niscaya dia tidak akan mendapati satu pun pendahulu dari kalangan manusia yang hidup dalam tiga kurun keemasan. Dia telah meniti jalan yang bukan ditempuh oleh kaum mukminin. Para ahli fiqih telah melarang untuk ber-taqlid kepada yang lain. Dan bagi mereka yang melakukannya dianggap telah menyelisihi apa yang diriwayatkan oleh orang yang berhak mereka ikuti”.

[selesai perkataan Ibnu Hazm rahimahullah].

Al-Ma’shuumiy berkata :[9]

والعجب من هؤلاء المقلدين لهذه المذاهب المبتدعة الشائعة والمتعصبين لها، فإن أحدهم يتبع ما نُسب إلى مذهبه مع بُعده عن الدليل، ويعتقده كأنه نبي مرسل، وهذا نأْي عن الحق، وبُعد عن الصواب، وقد شاهدنا وجربنا أن هؤلاء المقلدين يعتقدون أن إمامهم يمتنع على مثل الخطأ، وأن ما قاله هو الصواب ألبتة، وأضمر في قلبه أنه لا يترك تقليده وإن ظهر الدليل على خلافه، وهذا هو طبق ما رواه الترمذي وغيره عن عدي بن حاتم رضي الله عنه أنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ : (اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ). فقلت : يا رسول الله، إنهم ما كانوا يعبدونهم، فقال : ((إنهم إذا أحلوا لهم شيئًا استحلوه، وإذا حرَّموا عليهم شيئًا حرَّموه، فذلك عبادتهم)).

“Fenomena aneh dapat kita lihat dari orang-orang yang ber-taqlid dan fanatik kepada madzhab-madzhab bid’ah yang telah menyebar. Diantara mereka ada yang mengikuti pendapat yang dinisbatkan kepada madzhabnya, meskipun hal tersebut jauh dari kebenaran dalilnya. Dia meyakini bahwa pendapat yang ada seakan-akan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang terutus. Tentu saja sikap seperti ini jauh dari kebenaran. Kami telah menyaksikan dan mengalami sendiri, mereka berkeyakinan bahwa seorang yang mempunyai kemampuan seperti imamnya tidak mungkin salah. Mereka juga meyakini bahwa apa yang dikatakan oleh imamnya pasti benar. Sehingga hal itu membuatnya mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan taqlid kepadanya, meskipun pendapat yang ada berseberangan dengan dalil. Kondisi ini persisi seperti gambaran sebuah riwayat yang dibawakan oleh At-Tirmidzi dan lainnya, bahwa ‘Adiy bin Haatim pernah berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat : ‘Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah’.[10] Maka aku berkata : “Wahai Rasulullah, mereka tidak menyembah rahib-rahib itu”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketika para rahib itu menghalalkan sesuatu, mereka menghalalkannya. Dan apabila para rahib itu mengharamkan sesuatu atas diri mereka, maka mereka pun mengharamkannya. Itulah bentuk peribadahan kepada mereka (para rahib)”.[11] [selesai].

Asy-Syafi’iy rahimahullah berkata :

من قلَّد معيَّنًا في تحريم شيء أو تحليله، وقد ثبت الحديث على خلافه، ومنعه التقليد عن العمل بالسنة، فقد اتخذ من قلَّده ربًّا من دون الله تعالى، يحل له ما حرم الله، ويحرم عليه ما أحل الله.

“Barangsiapa yang bertaqlid kepada seseorang dalam pengharaman atau penghalalan sesuatu, dimana ia mengetahui ada hadits menyelisihinya, sehingga sikap taqlid itu menghalanginya untuk beramal sesuai dengan sunnah; sungguh ia telah mengambil orang yang ditaqlidinya itu sebagai Rabb selain Allah ta’ala. Ia menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah”.[12]

Al-Mardawiy[13] menukil perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah :

من أوجب تقليد إمام بعينه استتيب وإلا قُتل، لأن هذا الإيجاب إشراك بالله في التشريع الذي هو من خصائص الربوبية.

“Barangsiapa yang mewajibkan untuk bertaqlid pada imam tertentu, maka ia diminta bertaubat. Jika menolak, maka ia dibunuh. Karena, pewajiban/pengharusan ini termasuk perbuatan menyekutukan Allah ta’ala dalam hal tasyri’ yang merupakan kekhususan Rububiyyah (dari-Nya semata)”. [selesai]

Al-Kamaal bin Hamaam Al-Hanafiy telah menyebutkan :

أن التزام مذهب معين غير لازم على الصحيح، لأن التزامه غير ملزم، إذا لا واجب إلا ما أوجبه الله ورسوله، ولم يوجب الله ولا رسوله على أحد من الناس أن يتمذهب بمذهب رجل من الأئمة فيقلده في دينه في كل ما يأتي ويذر دون غيره، وقد انطوت القرون الفاضلة على عدم القول بلوزم التمذهب بمذهب معين.

“Menetapi satu madzhab tertentu adalah tidak wajib menurut pendapat yang shahih, sebab tidak ada keharusan akan hal itu. Sesuatu hal tidaklah dikatakan wajib kecuali apa-apa yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan tidaklah Allah dan Rasul-Nya mewajibkan kepada manusia untuk menganut madzhab seorang imam yang ia bertaqlid kepadanya semata dalam seluruh perkara agamanya, dan melarang untuk mengikuti imam yang lain. Kurun yang utama telah berlalu, dan selama itu tidak ada perkataan (dari kalangan ulama) yang mewajibkan untuk menetapi madzhab tertentu”.[14]

Al-Qarafiy rahimahullah berkata :

وأجمع الصحابة على أن من استفتى أبا بكر وعمر، وقلدهما، فله أن يستفتى أبا هريرة ومعاد بن جبل وغيرهما، فيعمل بقولهم بغير نكير.

“Para shahabat telah sepakat bahwa bagi orang yang meminta fatwa kepada Abu Bakr dan ‘Umar dan mengikuti mereka berdua, maka boleh baginya untuk meminta fatwa kepada Abu Hurairah, Mu’adz bin Jabal, dan selainnya keduanya serta beramal dengan perkataan mereka tanpa ada pengingkaran”.[15]

Tidak ditemukan di masa shahabat seseorang yang mengambil seseorang yang lain untuk mengikuti seluruh apa yang dikatakannya tanpa ditingalkan sedikitpun; atau meninggalkan perkataan seseorang yang lain secara keseluruhan tanpa mengambil sedikitpun darinya. Dan otomatis kita pun mengetahui bahwa hal itu juga tidak pernah ada/terjadi di masa tabi’in dan tabi’ut-tabi’in. Jika Anda mendapatkannya, maka buktikanlah satu orang saja (jika ada) di antara orang-orang yang hidup di masa keemasan yang menempuh jalan (taqlid) yang kotor. Bid’ah ini hanyalah terjadi pada abad keempat, dan hal ini dicela oleh lisan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.[16]

Semoga Allah merahmati Al-Imam Malik, imam Daarul-Hijrah yang diakui keilmuannya, keutamaannya dan kebesarannya; yaitu ketika Al-Manshuur menginginkan untuk membawa manusia (rakyatnya) beramal dengan seluruh hal yang tertuang dalam Al-Muwaththa’, namun beliau justru tidak menerimanya dan menolaknya !!.

 

[Dinukil oleh Abu Al-Jauzaa’ dari Shahih Fiqhis-Sunnah oleh Abu Maalik Kamal As-Sayyid, 1/43-46, Maktabah At-Taufiqiyyah – beserta terjemahannya Shahih Fikih Sunnah Lengkap, 1/67-71, Pustaka Azzam, Cet. 1/2006].



[1]     Hadiyyatus-Sulthaan ilaa Muslimi Biladil-Yabaan oleh Al-Ma’shuumiy, tahqiq : Salim Al-Hilaliy (hal. 76).

[2]     QS. Al-Jatsiyyah : 23.

[3]     QS. An-Nisaa’ : 59.

[4]     Dinukil oleh Ad-Dahlawiy dalam Hujjatullaahi Al-Baalighah (1/154-155), namun perkataan ini tidak ditemukan dalam Al-Muhallaa dan Al-Ihkaam.

[5]     QS. Al-A’raaf : 3.

[6]     QS. Al-Baqarah : 170.

[7]     QS. Az-Zumar : 16-17.

[8]     QS. An-Nisaa’ : 59.

[9]     Hadiyyatus-Sulthaan, hal. 52-53.

[10]    QS. At-Taubah : 31.

[11]    Dihasankan oleh Al-Albaniy. Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Baihaqiy (10/116) dengan sanad dla’if, namun ia mempunyai syaahid mauquf dan mursal dari Hudzaifah. Dan dengan dua syaahid tersebut Al-Albani menghasankannya dalam takhrij­ atas kitab Mushthalahaat Al-Arba’ah, hal. 18-20.

[12]    Hadiyyatu Sulthaan (hal. 69).

[13]    Al-Inshaaf oleh Al-Mardawiy (11/170).

[14]    Hadiyyatu Sulthaan (hal. 56).

[15]    Adlwaaul-Bayaan (7/488).

[16]    Adlwaaul-Bayaan (7/509).

8 komentar:

  1. .
    Kalo ndak harus ngikut madzhab tertentu, berarti ndak usah ngikutin salafi dong, Abu.... ;)

    BalasHapus
  2. Imam Nawawi,Imam Bukhori,Imam Suyuthi,Imam Al Ghozali,Dan ribuan Imam - Imam besar saja bermadzhab,kok kmu mlh g mau,lbh faham siapa kamu dgn imam2 itu tentang Al kuran dan hadits?????SALAH SATU SELOGAN IBLIS ADALAH "AKULAH YANG TERBAIK"

    BalasHapus
  3. hahahahaha..... propaganda manis tapi tak beradab, melarang bermadzhab tetapi mengarah untuk mengikuti Salafy, dan anda abul jauzaa sangat tidak faham mana kalam takrimaan dan kalam ta'ashub,

    BalasHapus
  4. Pikiran kalau sudah 'puyeng' ya gitu. Dimana ada kalimat melarang bermadzhab ?. Atau, jangan-jangan Anda belum lancar mengeja kalimat ?.

    BalasHapus
  5. akhi Aqil yg terhormat dan punya akal,

    Tolong tunjukkan pada artikel diatas, kalimat Abul Jauzaa yg melarang bermadzhab???

    ana setuju dengan ustadz Abul Jauzaa, org klo pikirannya udh tercemari pemikiran ribet kalam lafdzhi dan kalam dzati-nya bikinan org2 asyaairoh ya spt antum itu akhi aqil, tidak bisa mencerna perkataan2 yg asalnya mudah dimaknai. Kasihan...musti belajar a b c lagi

    BalasHapus
  6. senyum sendiri melihat aksi badut saudara2 di atas,smoga dibrikan illahi hidayah kpada mreka..halalkan segala ilmu2 akhi abul smuanya yah..jelas amat hurainya.salam

    BalasHapus
  7. koplak. ga ngerti apa itu bermadzab aja banyak omong tu yg diatas.. buat akhi abul jauzaa... lanjutkan

    BalasHapus