13 Juni 2018

Bismillah atau Bismillaahir-rahmaanir-rahiim ?


Dalam sebagian pembicaraan, kadang terlontar pertanyaan : ‘Yang benar itu bismillaah saja atau bismillaahir-rahmaanir-rahiim ketika hendak makan ?’. Wajar, karena dalam praktek di masyarakat, yang diajarkan di TPA-TPA dan sekolah-sekolah sangat beragam. Sebagian mengajarkan atau memakai yang pertama, sebagian lain yang kedua.
Beberapa ulama menjelaskan perbedaan antara basmalah dengan tasmiyyah. Dalam Kamus Al-Mu’jamul-Wasiith disebutkan:
بَسْمَلَ بَسْمَلَةً : قال : بسم الله الرحمن الرحيم ، أو كتبها
Basmala basmalatan, yaitu mengucapkan bismillaahir-rahmaanir-rahiim atau menuliskannya” [1/120].

Terdapat ‘naht’ (semacam singkatan – Abul-Jauzaa’) dalam istilah-istilah Islamiyyah pada lisan para fuqahaa’ kita, diantaranya adalah al-basmalah (البسملة), yaitu perkataan bismillaahir-rahmaanir-rahiim; al-hauqalah (الحوقلة), yaitu perkataan laa haula wa laa quwwata illaa billaah; al-hai’alah (الحيعلة); dan al-hai’alataan (الحيعلتان), yaitu perkataan hayya ‘alash-shalaah, hayya ‘alal-falaah dalam adzan [Mu’jamu Lughatil-Fuqahaa’, 1/31].
Adapun tasmiyyah, berkata Al-Azhariy dari Al-Laits:
التسمية ذكر الله تعالى على كل شيء
Tasmiyyah adalah penyebutan (nama) Allah ta’ala pada segala sesuatu” [Tahdziibul-Asmaa’ wal-Lughaat, 3/154].
Oleh karena itu, Ibnu Hajar Al-Haitamiy rahimahullah menjelaskan perbedaan antara keduanya:
الْبَسْمَلَة عِبَارَة عَنْ قَوْلك : بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم بِخِلَافِ التَّسْمِيَة فَإِنَّهَا عِبَارَة عَنْ ذِكْر اللَّه بِأَيِّ لَفْظ كَانَ
Baslamah adalah ungkapan dari perkataanmu : bismillaahir-rahmaanir-rahiim; berbeda halnya dengan tasmiyyah, yaitu ungkapan dari penyebutan (nama) Allah dengan lafadh apapun” [Al-Futuuhaat Ar-Rabbaaniyyah oleh Ibnu ‘Allaan, 1/299. Lihat juga ‘Aunul-Ma’buud 1/121].
Tasmiyyah lebih luas daripada basmalah yang lebih spesifik.
Terkait dengan bahasan ini, ada beberapa hadits yang menjelaskan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: " إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ، فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ "
Dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa : Bahwasannya Rasulullah bersabda : “Apabila salah diantara kalian menyantap makanan, sebutlah nama Allah ta’ala. Apabila lupa, menyebut nama Allah ta’ala di awalnya, hendaklah ia mengucapkan : ‘bismillaahi awwalahu wa aakhirahu (dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhirnya)” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3767; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud 2/441-442].
Dalam riwayat lain:
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ "
Apabila salah diantara kalian menyantap makanan, maka ucapkanlah ‘bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Apabila lupa saat di awalnya, maka ucapkanlah : bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi (dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhirnya)” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1858].
Setelah menyebutkan hadits ini An-Nawawiy rahimahullah berkata:
وَالتَّسْمِيَة فِي شُرْب الْمَاء وَاللَّبَن وَالْعَسَل وَالْمَرَق وَالدَّوَاء وَسَائِر الْمَشْرُوبَات كَالتَّسْمِيَةِ عَلَى الطَّعَام فِي كُلّ مَا ذَكَرْنَاهُ ، وَتَحْصُل التَّسْمِيَة بِقَوْلِهِ : ( بِسْمِ اللَّه ) فَإِنْ قَالَ : بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم ، كَانَ حَسَنًا
Tasmiyyah ketika minum air, susu, madu, kuah, obat, dan seluruh jenis minuman seperti tasmiyyah terhadap makanan dalam semua hal yang kami sebutkan. Tasmiyyah dapat terpenuhi dengan ucapan ‘bismillah’. Apabila mengucapkan ‘bismillaahir-rahmaanir-rahiim’, maka itu baik” [Syarh Shahiih Muslim, 13/189].
Di tempat lain, An-Nawawiy rahimahullah berkata:
أجمع العلماء على استحباب التسمية على الطعام في أوله ، فإن ترك في أوله عامداً أو ناسياً أو مكرهاً أو عاجزاً لعارض آخر ثم تمكن في أثناء أكله ، استحب أن يسمي للحديث المتقدم ويقول : باسم الله أوله وآخره ،كما في الحديث. والتسمية في شرب الماء واللبن و العسل والمرق وسائر المشروبات كالتسمية في جميع ما ذكرناه....... من أهم ما ينبغي أن يعرف صفة التسمية وقدر المجزئ منها فاعلم أن الأفضل أن يقول بسم الله الرحمن الرحيم ، فإن قال بسم الله كفاه وحصلت السنة
“Para ulama sepakat disunnahkannya (mustahab) mengucapkan tasmiyyah saat awal waktu makan. Apabila ia meninggalkannya di awal makan dengan sengaja, lupa, terpaksa, atau tidak mampu karena sebab tertentu, kemudian ia dapat melakukannya pada pertengahan makannya, maka disukai untuk ber-tasmiyyah (pada waktu itu) berdasarkan hadits sebelumnya seraya mengucapkan : bismillaahi awwalahu wa aakhirahu (Dengan menyebut nama Allah di awal dan akhirnya), sebagaimana disebutkan dalam hadits. Begitu juga (disukai/mustahab) mengucapkan tasmiyyah saat minum air, susu, madu, kuah, dan seluruh jenis minuman seperti halnya tasmiyyah dalam seluruh kondisi yang kami sebutkan…… Dan diantara hal paling penting yang harus diketahui adalah sifat tasmiyyah dan kadar kecukupannya. Ketahuilah, bahwa yang afdlal (dalam tasmiyyah) adalah mengucapkan ‘bismillaahir-rahmaanir-rahiim’. Apabila hanya mengucapkan ‘bismillah’, sudah mencukupi dan terpenuhi sunnah” [Al-Adzkaar, hal. 197 – tahqiq : Al-Arna’uth].
Mengomentari ini, Al-Haafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy rahimahullah berkata:
الْمُرَاد بِالتَّسْمِيَةِ عَلَى الطَّعَام قَوْل بِسْمِ اللَّه فِي اِبْتِدَاء الْأَكْل ....وَأَمَّا قَوْل النَّوَوِيّ فِي أَدَب الْأَكْل مِنْ " الْأَذْكَار " : صِفَة التَّسْمِيَة مِنْ أَهَمّ مَا يَنْبَغِي مَعْرِفَته ، وَالْأَفْضَل أَنْ يَقُول بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم ، فَإِنْ قَالَ بِسْمِ اللَّه كَفَاهُ وَحَصَلَتْ السُّنَّة . فَلَمْ أَرَ لِمَا اِدَّعَاهُ مِنْ الْأَفْضَلِيَّة دَلِيلًا خَاصًّا ، وَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ الْغَزَالِيّ فِي آدَاب الْأَكْل مِنْ " الْإِحْيَاء " أَنَّهُ لَوْ قَالَ فِي كُلّ لُقْمَة بِسْمِ اللَّه كَانَ حَسَنًا ، وَأَنَّهُ يُسْتَحَبّ أَنْ يَقُول مَعَ الْأُولَى بِسْمِ اللَّه وَمَعَ الثَّانِيَة بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن وَمَعَ الثَّالِثَة بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم ، فَلَمْ أَرَ لِاسْتِحْبَابِ ذَلِكَ دَلِيلًا
“Yang dimaksudkan dengan tasmiyyah ketika menyantap makanan adalah ucapan ‘bismillaah’ saat permulaan makan….. Adapun perkataan An-Nawawiy dalam adab makan pada kitab Al-Adzkaar : ‘Sifat tasmiyyah merupakan hal yang paling penting untuk diketahui. Yang afdlal adalah mengucapkan bismillaahir-rahmaanir-rahiim’. Apabila hanya mengucapkan ‘bismillah’, sudah mencukupi dan terpenuhi sunnah’; maka aku tidak melihat adanya dalil khusus terhadap apa yang diklaimnya sebagai satu keutamaan (afdlaliyyah) tersebut. Adapun yang dikatakan Al-Ghazaaliy dalam adab-adab makan pada kitab Al-Ihyaa’ : ‘Seandainya seseorang mengucapkan pada setiap suapan ‘bismillah’, maka itu baik. Dan disukai (mustahab) untuk mengucapkan pada suapan yang pertama ‘bismillah’, pada yang kedua ‘bismillahir-rahmaan’, dan pada yang ketiga ‘bismillaahir-rahmaanir-rahiim’; maka aku tidak melihat dalil atas mustahabnya amalan tersebut” [Fathul-Baariy, 9/521].
Perkataan Al-Haafidh rahimahullah di atas adalah benar, bahwa yang dimaksud dengan tasmiyyah adalah ucapan bismillah (saja), karena itulah yang tertera di riwayat. Banyak hadits yang menguatkannya, antara lain:
1.    Hadits ‘Umar bin Abi Salamah radliyallaahu ‘anhumaa
عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ: كُنْتُ فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي: " يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ "
Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata : “Dulu aku pernah berada di pangkuan Rasulullah sedangkan tanganku berputar di atas piring (untuk mengambil makanan). Maka beliau bersabda kepadaku : ‘Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu. Makan dari apa yang dekat denganmu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5376 & 5377, Muslim no. 2022, At-Tirmidziy no. 1857, Abu Daawud no. 3777, Ibnu Maajah no. 3265 & 3267, dan yang lainnya].
Rasulullah memerintahkan ‘Umar bin Abi Salamah untuk ber-tasmiyyah sebelum makan. Dalam riwayat lain Abu ‘Awaanah dalam Al-Musnad 5/165 no. 8256 serta Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 9/14 no. 8304 dan dalam Ad-Du’aa hal. 1212 no. 886 dengan lafadh:
يَا غُلامُ، إِذَا أَكَلْتَ، فَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
Wahai anak, apabila engkau makan, ucapkanlah : ‘bismillah’. Makanlah dengan tangan kananmu, dan makan dari apa yang dengan denganmu”.
Maksud perintah tasmiyyah di sini adalah membaca ‘bismillah’.
2.    Hadits Hudzaifah bin Yamaan radliyallaahu ‘anhu
Rasulullah bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ، وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ لِيَسْتَحِلَّ بِهَا، فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا، فَجَاءَ بِهَذَا الْأَعْرَابِيِّ لِيَسْتَحِلَّ بِهِ، فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ فِي يَدِي مَعَ يَدِهَا
Sesungguhnya setan mendapatkan bagian makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya. Dan sesungguhnya ia (setan) datang bersama budak perempuan ini untuk mendapatkannya, lalu aku memegang tangannya. Ia juga datang bersama orang badui ini untuk mendapatkannya, lalu aku memegang tangannya. Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan itu berada di tanganku bersama dengan tangannya (budak perempuan dan orang badui)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2017, Abu Daawud no. 3766, dan Ahmad 5/382].
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَمَّا أَعْيَيْتُمُوهُ، جَاءَ بالْأَعْرَابيِّ وَالْجَارِيَةِ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ إِذَا لَمْ يُذْكَرْ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ، بسْمِ اللَّهِ، كُلُوا
Sesungguhnya setan ketika kalian telah membuatnya lelah, maka ia datang bersama dengan orang Badui dan budak perempuan untuk mendapatkan makanan apabila tidak disebutkan nama Allah padanya. Bismillah, makanlah” [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/397; shahih].
Tasmiyyah yang menyebabkan setan terhalang ikut makan makanan adalah ucapan bismillah ketika seseorang hendak makan.
3.    Hadits Waatsilah bin Al-Asqa’ Al-Laitsiy radliyallaahu ‘anhu
عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ اللَّيْثِيِّ، قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِرَأْسِ الثَّرِيدِ، فَقَالَ: " كُلُوا بِسْمِ اللَّهِ مِنْ حَوَالَيْهَا، وَاعْفُوا رَأْسَهَا فَإِنَّ الْبَرَكَةَ تَأْتِيهَا مِنْ فَوْقِهَا
Dari Waatsilah bin Al-Asqa’ Al-Laitsiy, ia berkata : “Rasulullah mengambil bagian atas bubur sambil bersabda : ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah (bismillah) dari sampingnya dan hindarilah (mulai dari) bagian atasnya (tengahnya), sesungguhnya barakah datang dari bagian atasnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 3276; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah 5/48 no. 2030].
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda :
اجْلِسُوا اذْكُرُوا اللَّهَ، وَكُلُوا مِنْ أَسْفَلِهَا وَلا تَأْكُلُوا مِنْ أَعْلاهَا، فَإِنَّ الْبَرَكَةَ تَنْزِلُ عَلَيْهَا مِنْ أَعْلاهَا
Duduklah dan sebutlah (nama) Allah. Makanlah dari bagian bawahnya dan jangan makan dari bagian atasnya, karena barakah turun padanya dari bagian atasnya” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan 8/78-79 no. 5521].
Dzikir (tasmiyyah) sebelum makan dalam hadits ini adalah ucapan bismillah.
4.    Hadits ‘Abdurrahmaan bin Abi Bakr radliyallaahu ‘anhumaa
Yaitu tentang hadits sumpah (yang panjang):
قَالَ: فَجِيء بِالطَّعَامِ فَسَمَّى فَأَكَلَ وَأَكَلُوا، قَالَ: فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بَرُّوا وَحَنِثْتُ، قَالَ: فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ: " بَلْ أَنْتَ أَبَرُّهُمْ وَأَخْيَرُهُمْ "، قَالَ: وَلَمْ تَبْلُغْنِي كَفَّارَةٌ
“….’Abdurrahmaan bin Abi Bakr berkata : “Makanan pun datang. Abu Bakr ber-tasmiyyah, lalu makan, dan mereka (para sahabat yang bertamu) pun makan. Di pagi harinya, Abu Bakr menemui Nabi , lalu berkata : ‘Wahai Rasulullah, mereka (para tamu) telah berbuat kebaikan sedangkan aku melanggar sumpahku’. Kemudian Abu Bakr menceritakan kepada beliau (apa yang terjadi). Maka beliau bersabda : ‘Bahkan engkau adalah orang yang paling baik dan paling utama dari mereka”. ‘Abdurrahmaan berkata : “Tidak sampai kabar kepadaku adanya kaffarah (dalam sumpah Abu Bakr tersebut)” [Diriwayatkan oleh Muslim 2057].
Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadh:
هَاتِ طَعَامَكَ فَجَاءَهُ فَوَضَعَ يَدَهُ، فَقَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ الْأُولَى لِلشَّيْطَانِ فَأَكَلَ وَأَكَلُوا "
…..(Abu Bakr berkata : ) “Berikan makananmu kepadaku”. Lalu diberikanlah makanan tadi kepada Abu Bakr, kemudian ia meletakkan di tangannya dan berkata : "Dengan menyebut nama Allah (bismillah), yang pertama untuk setan[1]." Lalu Abu Bakr memakannya dan mereka pun ikut makan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6140. Diriwayatkan juga oleh Abu ‘Awaanah no. 8401 dan Al-Harbiy dalam Ikraamudl-Dlaif no. 88 dengan lafadh semisal].
Maksud tasmiyyah sebelum memasukkan suapan pertama dari Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu adalah ucapan bismillah. Inilah yang dipahami dari sisi pembawa kisah, yaitu ‘Abdurrahmaan bin Abi Bakr radliyallaahu ‘anhumaa.
Dan memang inilah yang dilakukan oleh Nabi ketika beliau menyantap makanan (bukan hanya sunnah qauliyyah dan taqriiriyyah saja):
عَنْ رَجُلٌ خَدَمَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ثَمَانِ سِنِينَ أَوْ تِسْعَ سِنِينَ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبيَّ ﷺ إِذَا قُرِّب لَهُ طَعَامٌ يَقُولُ: " بسْمِ اللَّهِ "، فَإِذَا فَرَغَ مِنْ طَعَامِهِ، قَالَ: " اللهم أَطْعَمْتَ وَأَسْقَيْتَ، وَأَغْنَيْتَ وَأَقْنَيْتَ، وَهَدَيْتَ وَاجْتَبيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَعْطَيْتَ "
Dari seorang laki-laki yang pernah melayani Rasulullah selama delapan atau sembilan tahun, bahwasannya ia mendengar Nabi apabila disuguhkan kepada beliau makanan (untuk dimakan), beliau mengucapkan ‘bismillah’. Apabila selesai menyantap makanan, beliau mengucapkan ‘allaahumma ath’amta wa asqaita wa aghnaita wa aqnaita wa hadaita wa-jtabaita, falakal-hamdu ‘alaa maa a’thaita (Ya Allah, Engkau telah memberi makan, memberi minum, memberi kecukupan, memberi keridlaan, memberi petunjuk, dan memberi pilihan (terbaik). Bagi-Mu segala puji atas apa yang telah Engkau berikan” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/62 & 4/337 dan An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa no. 6871; shahih].
Ibnul-Hajj Al-Maalikiy rahimahullah berkata:
وكذلك لا يقول بسم الله الرحمن الرحيم لأنه لم يرد ذلك وإنما ورد بسم الله وإن كان ذلك حسنا.
وكذلك ينبغي أن لا يفعل ما قاله بعضهم أنه يقول في أول لقمة بسم الله وفي الثانية بسم الله الرحمن وفي الثالثة بسم الله الرحمن الرحيم ، ثم يسمي بعد ذلك في كل لقمة
“Dan begitu juga tidak mengucapkan ‘bismillaahir-rahmaanir-rahiim, karena hal itu tidak ada dalilnya - yang ada dalam dalilnya hanyalah bismillah – meskipun hal tersebut baik.
Begitu juga selayaknya tidak melakukan apa yang diucapkan sebagian orang saat menyantap suapan pertama ‘bismillah, suapan kedua mengucapkan ‘bismillaahir-rahmaan’, dan suapan ketiga mengucapkan ‘bismillaahir-rahmaanir-rahiim’, kemudian mengucapkan tasmiyyah setelah itu untuk setiap suapan yang dimakan” [Al-Madkhal, 1/329 – lihat juga Syarh An-Nashiihah Al-Kaafiyah, 2/345].
Allah ta’ala berfirman:
فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ
Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya)” [QS. Al-Maaidah : 4].
As-Suyuuthiy rahimahullah menukil perkataan Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa saat menjelaskan ayat di atas:
إذا أرسلت جوارحك فقل بسم الله ، وإن نسيت فلا حرج
“Apabila engkau melepas hewan pemburu peliharaanmu, maka ucapkanlah ‘bismillah’. Apabila engkau lupa, maka tidak berdosa” [Ad-Durrul-Mantsuur, 5/194].
Disebutkan juga oleh Ibnu Katsiir rahimahullah, kemudian ia menambahkan:
وقال بعض الناس: المراد بهذه الآية الأمر بالتسمية عند الأكل كما ثبت في الصحيح: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم عَلَّم رَبِيبه عمر بن أبي سلمة فقال: "سَمّ الله، وكُل بيمينك، وكل مما يليك". وفي صحيح البخاري: عن عائشة أنهم قالوا: يا رسول الله، إن قوما يأتوننا -حديث عهدهم بكفر-بلُحْمانٍ لا ندري أذكر اسم الله عليها أم لا؟ فقال: "سَمّوا الله أنتم وكلوا."
“Dan sebagian orang mengatakan : Yang dimaksud dengan ayat ini adalah perintah tasmiyyah ketika hendak makan sebagaimana ditetapkan dalam Ash-Shahiih : Bahwasannya Rasulullah menganjarkan anak tiri beliau, ‘Umar bin Abi Salamah, dengan sabdanya : ‘Sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kanan. Makanlah dari apa yang dengan denganmu’. Dan dalam Shahiih Al-Bukhaariy dari ‘Aaisyah, bahwasannya para sahabat berkata : ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada satu kaum mendatangi kami – yang mereka belum lama meninggalkan kekufuran (baru masuk Islam) – dengan membawa daging yang kami tidak mengetahui apakah disembelih dengan menyebut nama Allah ataukah tidak. Maka beliau bersabda : ‘Sebutlah nama Allah, lalu makanlah” [Tafsiir Ibni Katsiir, 3/37].
Telah berlalu penjelasan maksud tasmiyyah dalam riwayat hadits yang disebutkan Ibnu Katsiir rahimahullah (yaitu membaca bismillah).
Namun sebagian ulama menyamakannya antara basmalah dan tasmiyyah, sebagaimana disebutkan dalam Lisaanul-‘Arab :
بَسْمَلَ إِذا قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، وَحَوْقَلَ إِذا قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قوَّة إِلا بِاللَّهِ، وَحَمْدَلَ إِذا قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ
Basmala adalah apabila mengucapkan bismillah; hauqala adalah apabila mengucapkan laa haula wa laa quwwata illaa billaah; dan hamdala adalah apabila mengucapkan alhamdulillah…” [2/402].
Jika dikatakan basmalah adalah ucapan bismillaahir-rahmaanir-rahiim, maka tasmiyyah pun sama. Baik tasmiyyah maupun basmalah dapat mempunyai arti ucapan bismillah atau bismillaahir-rahmaanir-rahiimOleh karena itu, perintah atau penyebutan tasmiyyah dalam hadits maknanya mencakup basmalah sebagaimana dikatakan An-Nawawiy rahimahullah di awal. Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah termasuk yang menguatkan pendapat ini:
إذا قال عند الأكل بسم الله الرحمن الرحيم كان حسنا فإنه أكمل
“Apabila seseorang mengucapkan ketika hendak makan ‘bismillaahir-rahmaanir-rahiim’, maka itu baik karena lebih sempurna” [Al-Fataawaa Al-Kubraa, 5/477].
Namun demikian, berat rasanya jika dikatakan apa yang tertera di selain hadits Nabi lebih baik dan lebih sempurna daripada yang bersumber dari beliau . Nabi telah mencontohkan lafadh tasmiyyah dalam banyak aktivitas beliau seperti ketika hendak makan, menyembelih[2], masuk jamban/toilet/WC[3], berjimak[4], meruqyah orang sakit[5], meruqyah diri sendiri[6], memasukkan mayit ke kubur/liang lahad[7], keluar rumah[8], kendaraan/tunggangannya tergelincir[9], melepas pasukan[10], dan yang lainnya hanya dengan ucapan bismillah.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [QS. Al-Hujuraat : 1].
Nabi pernah bersabda:
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ ﷺ
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 867].
Ini saja sedikit ringkasan yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ – ciper – 28 Ramadlaan 1439 H].


[1]    Yaitu : suapan pertama untuk pelangaran sumpah yang diucapkan Abu Bakr, karena sebelumnya ia bersumpah tidak akan memakannya (karena marah). Sehingga maksudnya : aku halalkan dengannya sumpahku, aku langgar sumpahku, dan aku ridla kepada para tamuku untuk menolak/mengecam setan yang menjadi sebab kemarahanku dan sumpahku [Masyaariqul-Anwaar, 1/97].
[2]    Tasmiyyah dalam penyembelihan dijelaskan dalam hadits Anas radliyallaahu ‘anhu:
عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، وَوَضَعَ قَدَمَيْهِ عَلَى صِفَاحِهِمَا، وَقَالَ: " بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ
Dari Anas, ia berkata : “Rasulullah menyembelih dua ekor domba yang bertanduk. Beliau meletakkan kedua kakinya di lambung kedua domba tersebut seraya mengucapkan : ‘Bismillah wallaahu akbar. Allaahumma minka wa laka (Dengan menyebut nama Allah dan Allah Maha Besar. Ya Allah, ini dari-Mu dan hanya untuk-Mu” [Diriwayatkan oleh Abu ‘Awaanah dalam Musnad-nya no. 7798, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 7074, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 9/285 no. 19174; shahih].
Al-Baihaqiy memasukkannya dalam Bab : At-Tasmiyyah ‘aladz-Dzabiihah.
[3]    Tasmiyyah-nya dijelaskan dalam hadits ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu:
عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: " سِتْرُ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ الْكَنِيفَ، أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ
Dari ‘Aliy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah : “Tirai penghalang antara pandangan mata jin dan auratnya manusia apabila ia masuk ke toilet/kamar kecil adalah ucapannya bismillah” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 606, Ibnu Maajah no. 297, dan Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 484; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 1/332-333].
[4]    Tasmiyyah-nya dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: " أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ، وَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَرُزِقَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ "
Dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa, dari Nabi , beliau bersabda : “Adapun jika salah seorang diantara kalian mendatangi istrinya dengan mengucapkan ‘bismillah, allaahumma jannibnasy-syaithaana wa jannibisy-syaithaana maa razaqtanaa (dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah pula dari anak yang kelak Engkau karuniakan kepada kami), lalu bila keduanya dikaruniai anak (dari hubungan tersebut), maka setan tidak akan dapat mencelakakan anak itu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3271 & 5165 & 6388 & 7396 dan Muslim no. 1434].
[5]    Tasmiyyah-nya dijelaskan dalam hadits ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُولُ لِلْمَرِيضِ: بِسْمِ اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا
Dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa : Bahwasannya Nabi mengucapkan (doa) kepada orang yang sakit : ‘Bismillahi, turbatu ardlinaa bi-riiqati ba’dlinaa yusyfaa saqiiminaa bi-idzni rabbinaa (dengan menyebut nama Allah, (debu) tanah bumi ini dengan air ludah sebagian di antara kami semoga dapat menyembuhkan penyakit di antara kami dengan seizin Rabb kami)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5745 dan Muslim no. 2194].
[6]    Tasmiyyah-nya dijelaskan dalam hadits Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu:
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَالِمٍ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، قَالَ: قَالَ لِي: يَا مُحَمَّدُ إِذَا اشْتَكَيْتَ فَضَعْ يَدَكَ حَيْثُ تَشْتَكِي، وَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ، أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ مِنْ وَجَعِي هَذَا، ثُمَّ ارْفَعْ يَدَكَ ثُمَّ أَعِدْ ذَلِكَ وِتْرًا، فَإِنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَنِي، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ حَدَّثَهُ بِذَلِكَ
Dari Muhammad bin Saalim : Telah menceritakan kepada kami Tsaabit Al-Bunaaniy, ia berkata kepadaku : “Wahai Muhammad, apabila engkau sakit, maka letakkan tangnmu pada anggota badanmu yang sakit, lalu ucapkanlah : ‘Bismillah, a’uudzu bi-‘izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu min waja’ii hadzaa (dengan menyebut nama Allah, aku berlindung dengan kemuliaan Allah dan kekuasaan-Nya dari sakit yang aku derita ini)’. Kemudian angkat tanganmu lalu ulangilah hal itu secara witir (ganjil). Hal itu dikarenakan Anas bin Maalik pernah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah pernah mengatakan hal itu kepadanya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3588 dan hasankan oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy 3/472].
[7]    Tasmiyyah-nya dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ: أَنّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا وَضَعَ الْمَيِّتَ فِي الْقَبْرِ، قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi apabila meletakkan mayit dalam kubur mengucapkan : “Bismillah, wa ‘alaa sunnati Rasuulillah (dengan menyebut nama Allah dan di atas sunnah Rasulullah )” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1046, Abu Daawud no. 3213, dan Ibnu Maajah no. 1550; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud 2/303].
[8]    Tasmiyyah-nya dijelaskan dalam hadits Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: " مَنْ قَالَ يَعْنِي إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، يُقَالُ لَهُ كُفِيتَ وَوُقِيتَ وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ
Dari Anas bin Maalik, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah : “Barangsiapa yang mengucapkan keltika keluar dari rumahnya ‘bismillaahi tawakkaltu ‘alallaahi laa haula wa laa quwwata illaa billaah (dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah semata), maka akan dikatakan kepadanya : ‘Engkau telah diberikan kecukupan dan perlindungan, serta setan akan menjauh darimu” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3426, Abu Daawud no. 5095, dan Ibnu Hibbaan no. 822; At-Tirmidziy berkata : ‘Ini adalah hadits hasan shahih ghariib’].
[9]    Tasmiyyah-nya dijelaskan dalam hadits salah seorang shahabat Nabi radliyallaahu ‘anhu (mubham):
عَنْ رَجُلٍ، قَالَ: " كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ ﷺ فَعَثَرَتْ دَابَّةٌ، فَقُلْتُ: تَعِسَ الشَّيْطَانُ، فَقَالَ: لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ، فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ، وَيَقُولُ: بِقُوَّتِي، وَلَكِنْ قُلْ: بِسْمِ اللَّهِ، فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّباب "
Dari seorang laki-laki (shahabat Nabi ), ia berkata : “Aku pernah membonceng di belakang Nabi , lalu tiba-tiba hewan tunggangan beliau tergelincir. Aku berkata :  'Celakalah setan’. Maka beliau bersabda : ‘Jangan katakan : ‘Celakalah setan’. Jika engkau mengatakan demikian, maka setan akan membesar hingga eperti rumah seraya berkata : 'Demi kekuatanku'. Akan tetapi ucapkanlah : ‘Bismillah (dengan menyebut nama Allah). Jika engkau mengucapkannya, maka setan akan semakin kecil hingga seperti lalat” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4982, An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa no. 10308, dan Ahmad 5/59 & 5/79 & 5/365; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud 3/224].
[10]   Tasmiyyah-nya dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا بَعَثَ جُيُوشَهُ، قَالَ: " اخْرُجُوا بِسْمِ اللَّهِ تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ، لَا تَغْدِرُوا، وَلَا تَغُلُّوا، وَلَا تُمَثِّلُوا، وَلَا تَقْتُلُوا الْوِلْدَانَ، وَلَا أَصْحَابَ الصَّوَامِعِ
Dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Rasulullah apabila mengutus pasukannya, beliau bersabda : ‘Berangkatlah dengan menyebut nama Allah (bismillah), berperanglah di jalan Allah melawan orang-orang yang kufur kepada Allah, jangan berkhianat, jangan melampaui batas, jangan mencincang, serta jangan membunuh anak-anak serta penghuni-penghuni gereja (orang-orang yang sedang beribadah” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/300, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 4806, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 9/90 no. 18154; dihasankan oleh Al-Arna’uth].

3 komentar:

  1. ustadz -barokallaahufiik-, 1).apakah tasmiyah ketika hendak makan itu di setiap suapan atau cukup di awal saja? 2) Apakah pengajaran nabi -shallaahu'alaihiwasallam- untuk menyebut nama Allah sebelm makan dengan lafdz 'sammillaah' atau udzkurillah hanya dibawa kepada ucapan 'bismillaah' saja ? karena ada orang yang memahaminya umum dengan menyebut nama Allaah apa saja dari nama - nama Allah seperti dengan mengucapkan Allahumma, Arrahman, arrahiim atau nama Allaah yang lainnya -syukron.

    BalasHapus
  2. 1. Di awal saja
    2. Yang dilakukan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam tasmiyyah adalah ucapan bismillah. Satu riwayat menafsirkan riwayat lainnya. Contoh sudah dibawakan dalam artikel.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum
    Ustadz di atas ada penjelasan tentang d jangan makan dari bagian atas,jadi kalo makan itu harus dimulai dari pinggir jangan dari atas?

    BalasHapus