Nama
Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah bin Al-Mughiirah bin Shaalih bin Bakr As-Sulamiy An-Naisaabuuriy, yang mempunyai julukan : imamnya para imam (imaamul-aimmah).
Kunyah
Abu Bakr
Mungkin banyak di antara kita mendengar (bahkan mengalami) cemoohan dari sebagian orang yang menstigma dakwah (yang kita bawa) sebagai biang keladi permusuhan dan keributan. Blow up media massa yang sering kali kurang bershahabat membuat rumor-rumor tersebut semakin memuai, memanjang, dan membesar (seperti kejadian di Lombok tempo hari). Terlepas ada beberapa ‘sekuelnya’ yang tidak benar, nampaknya kita perlu berefleksi. Yaitu ngaca diri. Adakah noda yang dengan atau tanpa sadar hinggap di wajah sendiri ?
Seringkali kita keliru dalam menghibur diri bahwa semua yang menimpa kita dan dakwah kita merupakan satu ‘keharusan’ dan ujian bagi orang yang beriman, dengan dasar ayat :
Materi Lomba Pidato Anak-Anak : Birrul-Waalidain
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
01:38
1 komentar
Label:
Umum
Ini adalah draft naskah lomba pidato anak-anak yang pernah saya buat dulu untuk ibu istri saya – yang sangat saya hormati dan cintai. Kata beliau, draft naskah ini akan dibacakan dan dilombakan antar siswa SD di daerah Banyumas. Tentu saja, yang membacanya anak SD. Ibu istri saya itu – hafidhahallaah – ada seorang guru agama SD. Baru sekitar sebulan atau dua bulan lalu pensiun. Entah, apakah draft naskah ini jadi dibacakan atau tidak…. Berikut isinya :
Dalam kitab madzhab Hambali Syarah Muntaha Al-Iraadaat (2/621 ) :
ويسن أيضا تَخَيُّرُ الجميلة ، لأنه أسكن لنفسه ، وأغض لبصره ، وأكمل لمودته ؛ ولذلك شرع النظر قبل النكاح
“Adalah juga sunnah untuk memilih wanita yang cantik, karena hal tersebut dapat melahirkan rasa ketenangan yang lebih besar dan lebih membantu dia untuk menundukkan pandangan dan cinta yang lebih. Oleh karenanya disyari’atkan “nadhar” sebelum menikah”.
Memahami Pendla’ifan Hadits Puasa Enam Hari Bulan Syawal dan Pembahasan Tentangnya
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
20:49
3
komentar
Label:
Hadits
Al-Imam Muslim rahimahullah berkata :
حدثنا يحيى بن أيوب وقتيبة بن سعيد وعلي بن حجر. جميعا عن إسماعيل. قال ابن أيوب: حدثنا إسماعيل بن جعفر. أخبرني سعد بن سعيد بن قيس عن عمر بن ثابت بن الحارث الخزرجي، عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه ؛ أنه حدثه ؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال "من صام رمضان. ثم أتبعه ستا من شوال. كان كصيام الدهر".
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ayyuub, Qutaibah bin Sa’iid, dan ‘Aliy bin Hujr; mereka semua dari Ismaa’iil - (Adapun) Ibnu Ayyuub berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ja’far - : Telah mengkhabarkan kepadaku Sa’d bin Sa’iid bin Qais, dari ‘Umar bin Tsaabit bin Al-Haarits Al-Khazrajiy, dari Abu Ayyuub Al-Anshaariy radliyallaahu ‘anhu bahwasannya ia menceritakan kepadanya : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Barangsiapa berpuasa Ramadlaan, kemudian ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun” [Ash-Shahiih no. 1164 (204)].
‘Azl (اْلعَزْلُ) adalah :
النزع بعد الإيلاج لينزل خارج الفرج
“Mencabut (penis) setelah penetrasi agar (air mani) tertumpah di luar farji/vagina” [Fathul-Bariy, 9/305].
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum ‘azl yang secara garis besar terbagi menjadi dua kutub yang berseberangan. Sebagian ulama berpendapat haram melakukan ‘azl, sedangkan jumhur ulama – yang merupakan madzhab empat imam – membolehkannya [Majmuu Al-Fataawaa, 32/108].
يا وبر يا وبر, إنما أنت أذنان وصدر وسائرك حفر نقر
“Hai kelinci, hai kelinci
Sesungguhnya kamu memiliki dua telinga dan satu dada
Dan semua jenismu suka membuat galian dan lubang”
Tahukah Anda gubahan siapakah puisi/sya’ir di atas ? Ia adalah gubahan Musailamah Al-Kadzdzab si Nabi palsu. Ibnu Katsiir menyebutkan kisahnya :
Melazimkan qunut shubuh secara terus menerus menurut pendapat yang paling shahih bukan merupakan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan hadits :
حدثنا أحمد بن منيع أخبرنا يزيد بن هارون عن أبي مالك الأشجعي قال: قلت لأبي: يا أبت إنك قد صليت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان وعلي بن أبي طالب هاهنا بالكوفة، نحوا من خمس سنين، أكانوا يقنتون؟ قال: أي بني محدث.
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manii’[1] : Telah mengkhabarkan kepada kami Yaziid bin Haaruun[2], dari Abu Maalik Al-Asyja’iy[3], ia berkata : “Aku pernah bertanya kepada ayahku[4] : ‘Wahai ayahku, engkau pernah shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, dan ‘Aliy di sini, yaitu di Kuufah selama kurang lebih lima tahun. Apakah mereka semua melakukan qunut ?”. Ayahku menjawab : “Wahai anakku, itu adalah perbuatan muhdats (perkara baru yang tidak pernah mereka lakukan- Abul-Jauzaa’)” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 402, dan ia berkata : “Hadits ini hasan shahih”].
Allah ta’ala berfirman :
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” [QS. An-Nisaa’ : 31].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
“Shalat fardlu yang lima, shalat Jum’at hingga shalat Jum’at berikutnya, dan puasa Ramadlaan hingga puasa Ramadlaan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa yang ada di antaranya, apabila orang tersebut meninggalkan dosa-dosa besar” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 233].
Dosa besar dalam dua nash di atas disebutkan dengan kabaair (كَبَائِرٌ).
Lupa artinya tidak ingat. Tidak ada seorang pun yang luput dari sifat lupa, termasuk para Nabi dan Rasul. Allah ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا
“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat” [QS. Thaha : 115].
Ibnu Abi Haatim rahimahullah membawakan riwayat dengan sanadnya perkataan Ibnu ‘Abbaas :
إنما سمي الإنسان لأنه عهد إليه فنسي
“(Adam) dinamakan insaan hanyalah karena ia pernah diberikan amanat/perjanjian, namun ia lupa” [Tafsir Ibni Katsiir, 5/320].
Renungan Bagi Ikhwan Salafiy………..
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
10:06
13
komentar
Label:
Fatawa,
Manhaj
Oleh : Fadlilatusy-Syaikh Yusuf Al-Ghafiis hafidhahullah.
(Anggota Haiah Kibaaril-‘Ulamaa Saudi ‘Arabia )
Beliau berkata saat menjelaskan perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah :
ولهذا سموا أهل الكتاب والسنة، وسموا أهل الجماعة، لأن الجماعة هي الإجماع، وضدها الفرقة وإن كان لفظ الجماعة قد صار اسماً لنفس القوم المجتمعين
“Maka dari itu, mereka dinamai Ahlul-Kitab was-Sunnah, Ahlul-Jama’ah; dikarenakan jama’ah itu adalah persatuan yang berlawanan dengan perpecahan/perselisihan”.
Tanya : Kapan waktu paling baik dilaksanakannya shalat witir ?
Jawab : Waktu pelaksanaan shalat witir adalah longgar antara shalat ‘Isyaa’ dan shalat Shubuh, sebagaimana tercantum dalam sunnah.
عن عمرو بن العاص يقول أخبرني رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ان الله عز وجل زادكم صلاة فصلوها فيما بين صلاة العشاء إلى صلاة الصبح الوتر الوتر
Dari ’Amru bin Al-’Aash, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku seorang laki-laki dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam yang berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda : ”Sesungguhnya Allah ’azza wa jalla telah menambah kepada kalian shalat. Maka lakukanlah ia antara shalat ’Isyaa’ hingga shalat Shubuh. (Yaitu) shalat witir, shalat witir” [Diriwayatkan oleh Ahmad 6/397; shahih].
Apakah Membayar Zakat Fitrah/Fithri dengan Uang Merupakan Satu Kebid’ahan dalam Agama ?
Diposkan oleh
Abu Al-Jauzaa' :
di
08:20
21
komentar
Label:
Fiqh,
Ramadlan
Tanya : Apakah membayar zakat fitrah dengan uang merupakan satu kebid’ahan dalam agama ?
Jawab : Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Jumhur ulama mengatakan tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah (fithri) berupa uang. Inilah yang dipegang kuat oleh Maalikiyyah, Syaafi’iyyah, Hanabilah, dan Dhahiriyyah. Sedangkan ulama lain, seperti Al-Hasan Al-Bashriy, ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz, Ats-Tsauriy, Abu Haniifah, dan yang lainnya; berpandangan boleh mengeluarkan zakat fitrah (fithri) dengan uang.
Langgan:
Entri (Atom)













