Hadits Mu’awiyyah Mati Tidak dalam Agama Islam ?

24 komentar

Mu’aawiyyah bin Abi Sufyaan radliyallaahu ‘anhumaa adalah salah seorang shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Tidak henti-hentinya ia mendapatkan celaan dari para ‘pecinta (palsu) Ahlul-Bait’ semenjak dulu hingga sekarang. Lisan mereka senantiasa basah akan cacian saat menyebut namanya. Mereka memusuhi siapa saja yang tidak mengucapkan kalimat kekafiran atas dirinya. Ya, Ahlus-Sunnah merupakan musuh abadi para ‘pecinta (palsu) Ahlul-Bait’ dikarenakan kecintaannya kepada para shahabat dan menahannya diri mereka untuk tidak mengungkit-ungkit kekeliruan dan ketergelinciran sebagian shahabat. Termasuk dalam hal ini : Mu’aawiyyah bin Abi Sufyaan radliyallaahu ‘anhu.

Khayalan.........

4 komentar

Beberapa waktu lalu, kaum muslimin dibuat resah karena beredarnya pin bergambar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Usut punya usut, ternyata sumbernya berasal dari orang-orang Syi’ah. Entah darimana mereka mempunyai ilham tentang rupa/wajah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Fenomena gambar menggambar para tokoh pujaan memang sudah menjadi trend tersendiri dalam adat agama Syi’ah. Seandainya mereka dihadapkan oleh sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
إن أشد الناس عذابا يوم القيامة المصورون
“Sesungguhnya orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat kelak adalah para penggambar” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5950, Muslim no. 2109, dan yang lainnya].
tentu mereka tidak akan menggubrisnya.

Keutamaan Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu

0 komentar

Pada artikel ini, kami masih melanjutkan nafas dan semangat yang sama dalam membahas keutamaan Abu Bakr Ash-Shiddiiq dan sekaligus membantah orang-orang Syi’ah yang mencoba-coba mempergunakan dalil/referensi Ahlus-Sunnah untuk mengunggulkan ‘Aliy bin Abi Thaalib di atas Abu Bakr radliyallaahu ‘anhumaa. Tidak ada maksud sedikit pun untuk menghina atau melecehkan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu dengan ditulisnya artikel ini, kecuali hanya untuk mendudukkan sesuatu pada tempat yang semestinya.
Dan berikut keutamaan-keutamaan Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu yang dengannya ia mengungguli shahabat-shahabatnya yang lain radliyallaahu ‘anhum ajma’iin.

Hadits “Aku adalah Kota Hikmah dan ‘Aliy adalah pintunya” Riwayat Khaitsamah bin Sulaimaan

0 komentar

Ada imel yang masuk sebagai berikut :
Assalamu'alaikum
Ustad keif khal? Thoyibin InsyaAllah.
Ana mau tanya ttg derajat ke shahihan hadits berikut ini ustad.
حدثنا ابن عوف حدثنا محفوظ بن بحر الأنطاكي حدثنا موسى بن محمد الأنصاري الكوفي عن أبي معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما مرفوعا أنا مدينة الحكمة وعلي بابها
Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahfuzh bin Bahr Al Anthakiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa bin Muhammad Al Anshari Al Kufi dari Abi Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA secara marfu’[dari Rasulullah SAW] “Aku adalah kota hikmah dan Ali adalah pintunya”. [Min Hadits Khaitsamah bin Sulaiman 1/184 no 174]
Hadis ini shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqah. Khaitsamah bin Sulaiman adalah seorang Imam tsiqat Al Muhaddis dari Syam seperti yang dikatakan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 15/412 no 230]
Tafadhol diberikan sedikit penjelasan utk kita ustad
Wassalam

Studi Kritis Hadits Taat Kepada Ali Berarti Taat Kepada Nabi

10 komentar

Telah ada pembahasan sebelumnya di Blog ini mengenai hadits yang bertema sebagaimana judul di atas.[1] Namun tidak mengapa jika pada kesempatan kali ini saya akan kembali mengulang apa yang telah dituliskan karena ada sebagian orang yang minim ilmu hadits ingin menshahihkan hadits ini dengan menempuh segala cara, walau dengan cara paling mengherankan.
Saya akan membawakan riwayat Al-Haakim dalam Al-Mustadrak :
أخبرنا أبو أحمد محمد الشيباني من أصل كتابه ثنا علي بن سعيد بن بشير الرازي بمصر ثنا الحسن بن حماد الحضرمي ثنا يحيى بن يعلى ثنا بسام الصيرفي عن الحسن بن عمرو الفقيمي عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر رضى الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن أطاع عليا فقد أطاعني ومن عصى عليا فقد عصاني
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ahmad Muhammad Asy-Syaibaaniy dari kitab induknya : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Sa’iid bin Basyiir Ar-Raaziy di Mesir : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Hammaad Al-Hadlramiy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ya’laa : Telah menceritakan kepada kami Bassaam Ash-Shairafiy, dari Al-Hasan bin ‘Amru Al-Fuqaimiy, dari Mu’aawiyyah bin Tsa’labah, dari Abu Dzarr radliyallaahu ta’ala ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang mentaatiku, maka sungguh ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa yang mentaati ’Aliy, maka sungguh ia telah mentaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai ’Aliy, maka sungguh ia telah mendurhakaiku” [Al-Mustadrak, 3/121].

Rebutan Hak Asuh Anak

1 komentar

Sering kita dengar di sekitar kita kejadian/kasus ‘rebutan’ hak pengasuhan anak antara seorang laki-laki dan wanita pasca perceraian yang mereka lakukan. Tidak jarang kasus ini sampai diajukan ke meja pengadilan sehingga menyulut permusuhan tersendiri antara mantan suami istri tersebut.
Islam mengistilahkan hak pengasuhan tersebut dengan hidlaanah (حِضَانَةٌ). Hidlaanah menurut definisi syar’iy maksudnya adalah :
حفظ من لا يستقل بأمره، وتربيته عما يهلكه، أو يضره.
“Penjagaan/pemeliharaan anak yang belum mampu mandiri untuk mengurusi dirinya sendiri, pendidikannya, serta (pemeliharaan) dari segala sesuatu yang dapat membinasakannya atau membahayakannya”.

Analisis Hadits Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW

7 komentar

Telah berkata Al-Imam Ad-Daarimiy rahimahullah :
حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ النُّكْرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوْزَاءِ أَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ قَحْطًا شَدِيدًا فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ انْظُرُوا قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلُوا مِنْهُ كِوًى إِلَى السَّمَاءِ حَتَّى لَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ قَالَ فَفَعَلُوا فَمُطِرْنَا مَطَرًا حَتَّى نَبَتَ الْعُشْبُ وَسَمِنَتْ الْإِبِلُ حَتَّى تَفَتَّقَتْ مِنْ الشَّحْمِ فَسُمِّيَ عَامَ الْفَتْقِ
Telah menceritakan kepada kami Abun-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Zaid : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Maalik An-Nukriy : Telah menceritakan kepada kami Abul-Jauzaa’ Aus bin ‘Abdillah, ia berkata : Penduduk Madinah pernah mengalami kemarau panjang yang dahsyat, kemudian mereka mengadu kepada ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa, lalu ia (‘Aaisyah) berkata : “Lihatlah kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan buatlah darinya lubang ke arah langit, sehingga antara dia dan langit tidak terhalang atap”. Ia (Ibnu Abdillah) berkata : “Kemudian mereka melakukan hal itu, lalu kami pun dituruni hujan lebat, sehingga tumbuhlah rumput dan unta pun menjadi gemuk, sehingga melimpahkan lemak. Maka disebutlah tahun limpahan” [no. 93 – tahqiq : Husain Saliim Asad].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Tidak Mewariskan Tanah Fadak kepada Faathimah

6 komentar

Salah satu isu andalan kaum Syi’ah Raafidlah dalam mencerca Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu adalah isu tanah Fadak. Mereka mengklaim Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu telah berlaku dhaalim dalam menahan tanah Fadak yang dianggap sebagai warisan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Sayyidah Faathimah radliyallaahu ‘anhaa. Jika mereka (Syi’ah) mencukupkan diri pada ‘aqidah mereka dengan mengambil ulama-ulama mereka sebagai hujjah, niscaya kita tidak terlalu ambil pusing – karena kita tidak pernah menjadikan perkataan ulama mereka sebagai ushul hujjah dalam agama. Namun ketika mereka mencoba mengkais hadits-hadits dalam referensi Ahlus-Sunnah, maka kita perlu mencermati keakuratannya.

I Don’t Know….

9 komentar

Itulah jawaban orang yang ditanya saat ia tidak mengetahui jawabannya – dengan edisi bahasa Inggris tentu saja. Kalimat tersebut sebenarnya bukan kalimat yang luar biasa. Bahkan tidak indah menurut sebagian orang. Akan tetapi, kalimat ini menjadi sangat indah ketika dikatakan pada tempatnya.
Berikut akan saya contohkan sedikit nukilan singkat nan indah[1], mereka-mereka yang telah mengucapkannya. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran…..

Sifat Dua Tangan Allah (يد الله)

31 komentar

[Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata : ]
وأن له يدين بلا كيف كما قال : { خَلَقْتُ بِيَدَيَّ } [ سورة ص ، الآية : 75 ] .
وكما قال : { بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ } [ سورة المائدة ، الآية : 64 ] .
“Bahwasannya Allah mempunyai dua tangan tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya), sebagaimana firman-Nya : ‘Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’, dan juga sebagaimana firman-Nya : ‘Akan tetapi kedua tangan-Nya terbuka”.

Shahih Hadits Mu’awiyyah bin Al-Hakam tentang ‘Dimana Allah’ – dan Bantahan Singkat Bagi yang Mendla’ifkannya

29 komentar

Ahlul-bida’ tidak henti-hentinya membuat makar kepada Ahlus-Sunnah. Menshahihkan yang dla’if atau men-dla’if-kan yang shahih menjadi ciri khas dakwah mereka. Tidak luput dalam hal ini hadits Mu’awiyyah bin Al-Hakam yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya. Hadits ini merupakan salah satu hujjah yang sangat kuat yang merontokkan ‘aqidah bid’ah mereka tentang keberadaan Allah ta’ala. Jalan sempit dan berlubang pun mereka tempuh demi meluluskan tujuan mereka untuk menolak hadits ini. Naas, ternyata lubang di jalan itu malah menenggelamkan mereka. Salah satu di antara yang terperosok di dalamnya adalah Hasan As-Saqqaaf. Risalah bid’ahnya telah mendapat sambutan oleh kolega-kolega bid’ahnya, tidak terkecuali di Indonesia. Ada orang yang senantiasa merelakan diri menampung pikiran-pikiran kotornya. Artikel berikut akan membahas bantahan singkat ulah As-Saqqaaf dan muqallid-nya dalam pendla’ifan hadits Mu’awiyyah bin Al-Hakam radliyallaahu ‘anhu.

Impotensi (#@#$****?>

08.57 6 komentar

Al-Imam Muslim berkata dalam Shahih-nya :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَاللَّفْظُ لِعَمْرٍو قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَاءَتْ امْرَأَةُ رِفَاعَةَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كُنْتُ عِنْدَ رِفَاعَةَ فَطَلَّقَنِي فَبَتَّ طَلَاقِي فَتَزَوَّجْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ وَإِنَّ مَا مَعَهُ مِثْلُ هُدْبَةِ الثَّوْبِ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَتُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ لَا حَتَّى تَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ وَيَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ..........
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Amru An-Naaqid dengan lafadh dari ‘Amru, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Az-Zuhriy, dari ‘Urwah, dari ‘Aaisyah, ia berkata : Suatu ketika istri Rifaa'ah menemui Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Ia berkata : “Aku adalah istri Rifaa'ah, kemudian ia menceraikanku dengan talak tiga. Setelah itu aku menikah dengan ‘Abdurrahman bin Az-Zubair, akan tetapi sesuatu yang ada padanya seperti hudbatuts-tsaub (ujung kain)”.  Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tersenyum mendengarnya, lantas beliau bersabda : "Apakah kamu ingin kembali kepada Rifaa'ah ? Tidak bisa, sebelum kamu merasakan madunya dan ia pun merasakan madumu….” [Shahih Muslim no. 1433].

Kedudukan Hadis “Allah Tidak Akan Menyiksa Fathimah dan Anak-Anaknya”

0 komentar

Dalam sebuah artikel singkat disebutkan :
عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لفاطمة رضي الله عنها إن الله غير معذبك ولا ولدك
Dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Fathimah, ”Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksamu dan juga anak-anakmu”.
Hadis shahih. Dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 11/ 263 hadis no 11685 dan disebutkan pula oleh As Suyuthi dalam Jam’ al Jawami’ dan beliau sandarkan pada Ath Thabrani. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat atau terpercaya. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 9/326 hadis no 15198 menuliskan hadis ini dan berkata
رواه الطبراني ورجاله ثقات
Hadis riwayat Thabrani dan para perawinya tsiqat atau terpercaya.

‘Aliy bin Abi Thaalib : Abu Bakr Ash-Shiddiiq adalah Shahabat yang Paling Utama, dan Setelahnya ‘Umar

3 komentar

Keutamaan Abu Bakr dan ‘Umar adalah satu hal yang tidak perlu disangsikan lagi. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali ia adalah seorang yang buta riwayat dan sejarah. Banyak riwayat, baik berasal dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam atau para shahabat lain yang memuat pujian bagi mereka berdua. Begitu juga sejarah telah menggoreskan tinta emasnya bagaimana Islam menjadi jaya dan tersebar melalui perantaraan keduanya.
Artikel kali ini akan sedikit membahas tentang keutamaan Abu Bakr dan ‘Umar, khususnya yang diucapkan oleh saudaranya seiman yang mulia : ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhum.