Telah masyhur kisah ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu yang membakar satu kaum Atheis/zindiq yang memberhalakan dirinya. Tercantum baik dalam kitab-kitab hadits maupun sejarah.
Dari ‘Ikrimah : Bahwasannya ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu pernah membakar satu kaum. Sampailah berita itu kepada Ibnu ‘Abbas, lalu ia berkata : “Seandainya itu terjadi padaku, niscaya aku tidak akan membakar mereka, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Janganlah menyiksa dengan siksaan Allah’. Dan niscaya aku juga akan bunuh mereka sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 3017].
Dalam riwayat At-Tirmidziy disebutkan :
“Maka sampailah perkataan itu pada ‘Aliy, dan ia berkata : ‘Benarlah Ibnu ‘Abbas” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1458; shahih].
Diriwayatkan pula oleh Asy-Syafi’iy 2/86-87, ‘Abdurrazzaaq no. 9413 & 18706, Al-Humaidiy no. 543, Ibnu Abi Syaibah 10/139 & 12/262 & 14/270, Ahmad 1/217 & 219 & 282, Abu Dawud no. 4351, Ibnu Maajah no. 2535, An-Nasaa’iy 7/104, Ibnul-Jaarud no. 843, Abu Ya’laa no. 2532, Ibnu Hibbaan no. 4476, dan yang lainnya.
Sebagian orang yang bukan ahlinya dalam ilmu hadits mendla’ifkan riwayat ini karena anggapan adanya keterputusan antara ‘Ikrimah dengan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Abu Zur’ah mengatakan bahwa riwayat ‘Ikrimah dari ‘Aliy adalah mursal [lihat Jaami’ut-Tahshiil fii Ahkaamil-Maraasil oleh Al-‘Alaaiy, hal. 239 no. 532, tahqiq : Hamdiy bin ‘Abdil-Majiid As-Salafiy; Maktabah ‘Aaalamil-Kutub, Cet. 2/1403].
Tentu saja anggapan itu keliru, karena ‘Ikrimah menerima khabar tersebut dari Ibnu ‘Abbaas, bukan dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum ajma’iin. Para Pembaca budiman bisa secara mudah melihat dhahir lafadh hadits yang dibawakan ‘Ikrimah di atas. Dan mari kita perhatikan lafadh riwayat berikut :
Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyainah, dari Ayyuub bin Abi Tamiimah, dari ‘Ikrimah, ia berkata : “Ketika sampai khabar kepada Ibnu ‘Abbaas bahwa ‘Aliy radliyallaahu ta’alaa ‘anhu telah membakar orang-orang murtad dan zindiq, ia berkata : “Seandainya itu terjadi padaku, niscaya aku tidak akan membakar mereka. Dan niscaya aku akan bunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia”. Aku tidak membakar mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak boleh bagi seorang pun mengadzab/menyiksa dengan siksaan Allah (yaitu api)” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dalam Al-Musnad no. 1616, tahqiq : Dr. Maahir bin Yaasin Al-Fahl; Cet. 1/1425. Dari jalan Asy-Syaafi’iy ini, diriwayatkan pula oleh Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah 10/238 no. 2561 dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 8/195 & Al-Ma’rifah no. 5018].
Atau dalam bentuk lafadh lain :
Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah, dari Ayyuub, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas, bahwasannya ia (Ibnu ‘Abbaas) menyebutkan orang-orang yang dibakar ‘Aliy, maka ia berkata : “Seandainya itu terjadi padaku, niscaya aku tidak akan membakar mereka dengan api, karena larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Janganlah menyiksa dengan siksaan Allah’. Dan niscaya aku juga akan bunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 7/655].
Dapat kita lihat dalam tiga bentuk lafadh ini bahwa ‘Ikrimah itu kemungkinan besar mendapatkan riwayat tentang pembakaran yang dilakukan ‘Aliy dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhum.
Hadits ini mempunyai penguat di antaranya :
1. Hadits Anas radliyallaahu ‘anhu :
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdush-Shamad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam, dari Qataadah, dari Anas : Bahwasannya dihadapkan kepada ‘Aliy orang dari Az-Zuth yang menyembah berhala. Kemudian ia (‘Aliy) membakar mereka. Ibnu ‘Abbaas berkata : “Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia" [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 4076; shahih - Lihat Shahih Sunan An-Nasaa’iy 3/92; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1419 dan Irwaa’ul-Ghaliil 8/124-125 no. 2471; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 1/1399. Namun di sini terdapat Qataadah yang membawakan riwayat dengan ‘an’anah, sedangkan ia seorang mudallis]. 2. Hadits Suwaid rahimahullah :
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin ‘Ayyaasy, dari Abu Hushain, dari Suwaid bin Ghafalah : Bahwasannya ‘Aliy pernah membakar orang-orang zindiq di pasar. Ketika ia membakarnya, ia berkata : “Allah dan Rasul-Nya benar”. Kemudian ia berpaling dan akupun mengikutinya. Ia menengok kepadaku dan berkata : “Suwaid ?”. Aku berkata : “Benar”. Aku lalu berkata : “Wahai Amiirul-Mukminiin, aku telah mendengarmu mengatakan sesuatu”.’Aliy berkata : “Wahai Suwaid, sesungguhnya aku tinggal bersama kaum yang bodoh. Jika engkau mendengarku mengatakan : ‘Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka itu benar” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 10/141 & 12/391-392; sanadnya hasan]. Ibnu Abi Syaibah dalam periwayatannya dari Abu Bakr bin ‘Ayyaasy mempunyai mutaba’ah dari Khalaad bin Aslaam sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 570, Yahyaa bin ‘Abdil-Hamiid sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah no. 384, dan Asy-Syaafi’iy sebagaimana dalam Al-Umm 7/200. Oleh karena itu, riwayat ini menjadi shahih.
3. Hadits ‘Ubaid bin Nisthaas rahimahullah.
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahiim bin Sulaimaan, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Ubaid, dari ayahnya, ia berkata : “Ada sekelompok orang yang mengambil bagian harta dari baitul-maal, shalat bersama orang-orang lainnya, namun mereka menyembah berhala secara diam-diam. Maka didatangkanlah mereka ke hadapan ‘Aliy bin Abi Thaalib, lalu menempatkan mereka di masjid – atau di penjara – . ‘Aliy berkata : ‘Wahai sekalian manusia, apa pendapat kalian tentang satu kaum yang mengambil bagian harta dari baitul-maal bersama kalian, namun mereka menyembah berhala-berhala ini ?’. Orang-orang berkata : ‘Bunuhlah mereka !’. ‘Aliy berkata : ‘Tidak, akan tetapi aku melakukan sesuatu kepada mereka sebagaimana mereka dulu (yaitu para penyembah berhala) melakukannya kepada ayah kita Ibraahiim’. Lalu ia membakar mereka dengan api” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 10/142 & 12/392; sanadnya shahih]. 4. Hadits Qabiishah bin Jaabir rahimahullah.
5. Hadits Al-Husain bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa.
Dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia membakar orang-orang Zanaadiqah berkulit hitam dengan api” [Diriwayatkan oleh Zaid bin ‘Aliy dalam Musnad-nya 1/303; shahih]. Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata :
“Abul-Mudhaffar Al-Isfirayini mengatakan dalam Al-Milal wan-Nihal bahwa yang dibakar oleh ’Ali itu adalah orang-orang Rafidlah yang mengklaim sifat ketuhanan pada diri ’Ali. Dan mereka itu adalah Saba’iyyah. Pemimpin mereka adalah ’Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan keislaman. Dia membuat bid’ah berupa ucapan seperti ini. Dan sangatlah mungkin asal hadits ini adalah apa yang kami riwayatkan dalam juz 3 dari hadits Abu Thaahir Al-Mukhlish dari jalan ’Abdullah bin Syariik Al-’Aamiriy, dari ayahnya ia berkata : Dikatakan kepada ’Ali : ’Disana ada sekelompok orang di depan pintu masjid yang mengklaim bahwa engkau adalah Rabb mereka’. Lantas beliau memanggil mereka dan berkata kepada mereka : ’Celaka kalian, apa yang kalian katakan ?’. Mereka menjawab : ’Engkau adalah Rabb kami’., pencipta kami, dan pemberi rizki kami’. ’Aliy berkata : ’Celaka kalian, aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah, maka Allah akan memberiku pahala jika Dia berkehendak. Dan jika aku bermaksiat, maka aku khawatir Dia akan mengadzabku. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan kemballah’. Tetapi mereka tetap enggan.
Ketika datang hari berikutnya, mereka datang lagi kepada ’Ali, kemudian datanglah Qanbar dan berkata,’Demi Allah, mereka kembali mengatakan perkataan seperti itu’. ’Ali pun berkata,’Masukkan mereka kemari’. Tetapi mereka masih mengatakan seperti itu juga. Ketiga hari ketiga, beliau berkata,’Jika kalian masih mengatakannya, aku benar-benar akan membunuh kalian dengan cara yang paling buruk’. Tetapi mereka masih berkeras masih menjalaninya. Maka ’Ali berkata,’Wahai Qanbar, datangkanlah kepadaku para pekerja yang membawa alat-alat galian dan alat-alat kerja lainnya. Lantas, buatkanlah untuk mereka parit-parit yang luasnya antara pintu masjid dengan istana’. Beliau juga berkata,’Galilah dan dalamkanlah galiannya’.
Kemudian ia memerintahkan mendatangkan kayu bakar lantas menyalakan api di parit-parit tersebut. Ia berkata,’Sungguh aku akan lempar kalian ke dalamnya atau kalian kembali (pada agama Allah)’. Maka ’Aliy melempar mereka ke dalamnya, sampai ketika mereka telah terbakar, ia pun berkata :
Ketika aku melihat perkara yang munkar
Aku sulut apiku dan aku panggil Qanbar
Ini adalah sanad yang hasan” [Fathul-Baari, 12/270].
Ibnu Hajar berkata saat menjelaskan biografi Ibnu Saba’ :
”Ibnu ’Asakir berkata dalam Tarikh-nya : ’Asalnya dari Yaman, dulunya dia seorang Yahudi kemudian dia menampakkan kesialaman. Kemudian dia berkeliling ke negeri-negeri muslimin untuk memalingkan mereka dari ketaatan kepada penguasa dan menyusupkan keburukan di tengah-tengah mereka. Dia memasuki kota Damaskus untuk tujuan tadi pada masa ’Utsman’.
Kemudian ia (Ibnu ’Asakir) meriwayatkan dari jalan Saif bin ’Umar At-Tamimi dalam Al-Futuh dengan kisah yang panjang, tetapi sanadnya tidak benar. Juga dari jalan Ibnu Abi Khaitsamah, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ’Abbaad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ’Ammar Ad-Duhni, ia mengatakan : Aku mendengar Abu Ath-Thufail berkata : Aku melihat Al-Musayyib bin Najbah datang menyeretnya (yaitu Ibnu Saba’), sementara ’Aliy sedang berada di atas mimbar. Lantas ia (’Aliy) berkata : ’Ada apa dengannya ?’. Al-Musayyib berkata : ’Dia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya’. Ibnu ’Asaakir juga berkata : Telah menceritakan kepada kami ’’Amru bin Marzuuq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, ia berkata : ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ta’ala ’anhu berkata : ’Apa urusanku dengan al-hamil yang hitam ini – yaitu ’Abdullah bin Saba’ - ?. Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar radliyalaahu ta’ala ’anhuma’. Dari jalan Muhammad bin ’Utsmaan bin Abi Syaibah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-’Allaa’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Ayyaasy, dari Mujaalid, dari Asy-Sya’bi, ia berkata : ’Orang pertama yang berbuat kedustaan adalah ’Abdullah bin Saba’.
Abu Ya’laa Al-Muushiliy berkata dalam Musnad-nya : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Asadiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Shaalih, dari Al-Haarits bin ’Abdirrahman, dari Abul-Jalas, ia berkata : Aku mendengar ’Ali berkata kepada ’Abdullah bin Saba’ :
’Demi Allah, beliau tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatupun yang beliau sembunyikan dari manusia. Benar-benar aku mendengar beliau bersabda : Sesungguhnya sebelum terjadinya kiamat ada tiga puluh pendusta’; dan engkau adalah salah satu dari mereka’. Abu Ishaq Al-Fazaariy berkata : Dari Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za’raa’, dari Zaid bin Wahb : Bahwasannya Suwaid bin Ghafalah masuk menemui ’Ali radliyallaahu ’anhu di masa kepemimpinannya. Lantas ia berkata : ’Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakr dan ’Umar (dengan kejelekan). Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua. Diantara mereka adalah ’Abdullah bin Saba’ dan dialah orang pertama yang menampakkan hal itu’. Lantas ’Aliy berkata : ’Aku berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan’. Kemudian beliau mengirim utusan kepada ’Abdullah bin Saba’ dan mengusirnya ke Al-Madaain. Ia juga berkata : ’Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku selamanya’. Kemudian ia bangkit menuju mimbar sehingga manusia berkumpul. Lantas ia menyebutkan kisah secara panjang lebar yang padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua (Abu Bakar dan ’Umar), dan akhirnya ia berkata : ’Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta’. Berita tentang ’Abdullah bin Saba’ ini sangatlah masyhur dalam buku-buku sejarah dan dia tidak mempunyai satu riwayat hadits pun, walhamdulillah. Dia mempunyai pengikut yang dikenal dengan Saba’iyyah yang meyakini sifat ketuhanan ’Aliy bin Abi Thalib dan ’Aliy telah membakarnya dengan api pada masa kekhalifahannya” [Lisaanul-Miizaan, 4/483-485 no. 4253, tahqiq : ’Abdul-Fattaah Abu Ghuddah; Maktabah Al-Mathbuu’aat Al-Islaamiyyah, Cet. 1/1424].
Ada lagi syubhat lain yang mengatakan bahwa dalam riwayat Al-Humaidiy [Al-Musnad, 1/461 no. 543, tahqiq : Husain Saliim Asad] terdapat perkataan ‘Ammaar Ad-Duhniy yng menegaskan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu tidak membakar kaum penyembah berhala dan atheis itu (yaitu Saba’iyyah).
Dan diriwayatkan bahwa Ammar Ad Duhni berkata kalau Imam Ali tidak membakar mereka hanya membuat lubang lalu memasukkan mereka ke dalamnya dan mengalirkan asap ke lubang tersebut kemudian membunuh mereka [Musnad Al Humaidi 1/244 no 533]. Ammar Ad Duhni adalah tabiin kufah yang otomatis menyaksikan persitiwa tersebut sehingga kesaksiannya patut diambil dan melalui penjelasannya Imam Ali tidak membakar kaum murtad yang dimaksud. Wallahu’alam.
‘Ammaar Ad-Duhniy termasuk tingkatan shighaarut-taabi’iin yang meninggal pada tahun 133 H. Adapun ‘Aliy adalah shahabat pada thabaqah yang pertama, meninggal pada tahun 40 H. Lantas bagaimana bisa dipastikan bahwa ‘Ammaar menyaksikan peristiwa tersebut ? Alih-alih menyaksikan peristiwa, kepastian ‘Ammaar pernah bertemu/melihat dengan ‘Aliy bin Abi Thaalib saja masih menjadi pertanyaan besar. Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal (21/208-209) dan juga Ibnu Hajar dalam Tahdziibut-Tahdzib (7/406) tidak menyebutkan ‘Aliy bin Abi Thaalib sebagai syaikh dari ‘Ammaar Ad-Duhniy.
Apakah jenis kesaksian seperti ini bisa dianggap/dipertimbangkan ? Ibnu Hajar setelah menyebutkan riwayat Al-Humaidiy dan Ismaa’iiliy dari Sufyaan yang menyebutkan mudzkarah antara ‘Amru bin Diinaar, Ayyuub, dan ‘Ammaar Ad-Duhniy – dan juga perkataan Ad-Duhniy di atas - , menjelaskan bahwa ‘Amru bin Diinaar menyanggah perkataan Ad-Duhniy dengan hadits dan syi’ir [lihat Fathul-Baariy, 6/151]. Tentu saja perkataan ‘Amru bin Diinaar lebih patut untuk diambil karena berkesesuaian dengan dalil daripada perkataan ‘Ammaar Ad-Duhniy rahimahumallaah.
Ada syubhat terakhir yang mengatakan :
Jika kita menerima kedua perkataan ini maka yang dimaksud oleh Imam Ali dengan “benarlah Ibnu Abbas” adalah membenarkan hadis yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW bahwa tidak boleh menyiksa dengan siksaan Allah SWT dan orang murtad cukup dibunuh saja karena Beliau Imam Ali juga mengetahui hadis tersebut. Dan yang dimaksud dengan perkataan “kasihan Ibnu Abbas” adalah Imam Ali mengasihani Ibnu Abbas yang terlalu mudah mempercayai apa saja yang disampaikan kepadanya.
Riwayat yang dimaksudkan adalah :
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim : Telah mengkhabarkan kepada kami Ayyuub, dari ‘Ikrimah : Bahwasannya ‘Aliy ‘alaihis-salaam pernah membakar orang-orang yang murtad dari Islam. Lalu sampailah berita itu kepada Ibnu ‘Abbaas hingga ia berkata : "Sungguh, aku tidak akan membakar mereka dengan api. Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah’. Dan aku memerangi mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah ia’. Maka sampailah perkataan itu pada ‘Aliy, dan ia berkata : ‘Waiha Ibna ‘Abbaas’ [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4351].
Apa makna waiha Ibn ‘Abbaas (وَيْحَ ابْنِ عَبَّاسٍ) ? Kata وَيحٌ dalam bahasa ‘Arab bisa bermakna iba, kasih sayang, kecelakaan, pujian, atau kaguman; tergantung konteks kalimatnya. Di sini – sesuai konteks kalimatnya – kata tersebut bermakna pujian, kekaguman, dan sekaligus pembenaran, sebab kata وَيحٌ telah dijelaskan dalam riwayat yang dibawakan oleh At-Tirmidziy dengan : صَدَقَ ابْنُ عَبَّاسٍ (‘Benarlah Ibnu ‘Abbas’). Oleh karena itu, antara riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidziy ini bukan riwayat yang bertolak belakang, namun saling menjelaskan satu dengan yang lainnya [lihat An-Nihaayah fii Ghariibil-Hadiits oleh Ibnul-Atsiir, hal. 993, taqdim : Aliy Al-Halabiy, Daar Ibnil-Jauziy, Cet. 1/1421; Al-Mu’jamul-Wasiith hal. 1061, Maktabah Asy-Syuruuq Ad-Dauliyyah, Cet. 4/1425; dan Lisaanul-‘Arab oleh Ibnul-Mandhur, hal. 4937-4938, Daarul-Ma’aarif].
Kalaupun misal kata ini dibawa kepada makna iba atau kasih sayang, maka ini tidak ‘nyambung’ dengan makna penerjemahan si penebar syubhat di atas. Dalam bahasa Arab, makna tarahhum atau tawajju’ ini diberikan kepada orang yang meninggal atau tertimpa musibah. Intinya, syubhat di atas muncul karena ketidakpahaman dalam bahasa ‘Arab.
Masih ada beberapa keterangan lain dalam buku hadits, biografi, atau sejarah yang tidak ditampilkan di sini. Semuanya menunjukkan satu keterangan yang pasti bahwa ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu memang pernah membakar orang-orang zindiq di masa kekhalifahannya. Membantah satu kenyataan dan kebenaran tidaklah menghasilkan apa-apa kecuali kepayahan dan kepenatan.
Di sini mengandung satu pelajaran berharga bagi kita bahwa di kalangan shahabat itu ada yang lebih, ada pula yang kurang dalam hal ilmu. Ada di antara mereka yang punya satu ilmu yang tidak dimiliki shahabat lain. Tidaklah ada satu shahabat pun yang memiliki semua perbendaharaan ilmu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak terkecuali dalam hal ini ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Dalam satu atau beberapa hal, ada ilmu yang tidak diketahuinya yang itu berada di tangan shahabat lainnya, sehingga menyebabkan ijtihadnya keliru.
‘Aliy bin Abi Thaalib bukanlah sosok ma’shum yang semua pendapat, perkataan, atau perbuatannya diterima dan tidak salah. Dalam riwayat hadiitsul-ifk, ‘Aliy dan Usaamah pernah dimintai pendapat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang permasalahan yang sedang beliau hadapi terkait dengan ‘Aaisyah. Usaamah memberikan pendapat agar beliau mempertahankan ‘Aaisyah, sedangkan ‘Aliy berpendapat sebaliknya. Ternyata beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam setelah mempertimbangkannya lebih memilih pendapat Usaamah yang akhirnya Allah ta’ala menurunkan wahyu untuk membebaskan ‘Aaisyah dari segala macam tuduhan. Dapat kita lihat bahwa pendapat/pertimbangan yang diberikan Usaamah bin Zaid kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lebih tepat dibandingkan Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhumaa. Banyak sebenarnya contoh yang dapat diberikan dari perkara-perkara yang semisal. Namun kita – Ahlus-Sunnah – bukanlah orang yang gemar mensensus kekeliruan para shahabat dan menyebarkannya. Jika bukan karena ghulluw yang dilakukan orang-orang Syi’ah terhadap ‘Aliy bin Abi Thaalib dan sebagian keturunannya, niscaya kita tidak berhajat untuk menuliskannya di sini.
Semoga apa yang dituliskan di sini ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abu al-jauzaa’ – 30 Mei 2010 – direvisi tanggal 27 Mei 2011].
وَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَأُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ حِينَ اسْتَلْبَثَ الْوَحْيُ يَسْتَشِيرُهُمَا فِي فِرَاقِ أَهْلِهِ قَالَتْ فَأَمَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ فَأَشَارَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالَّذِي يَعْلَمُ مِنْ بَرَاءَةِ أَهْلِهِ وَبِالَّذِي يَعْلَمُ فِي نَفْسِهِ لَهُمْ مِنْ الْوُدِّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُمْ أَهْلُكَ وَلَا نَعْلَمُ إِلَّا خَيْرًا وَأَمَّا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ لَمْ يُضَيِّقْ اللَّهُ عَلَيْكَ وَالنِّسَاءُ سِوَاهَا كَثِيرٌ وَإِنْ تَسْأَلْ الْجَارِيَةَ تَصْدُقْكَ قَالَتْ فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِيرَةَ فَقَالَ أَيْ بَرِيرَةُ هَلْ رَأَيْتِ مِنْ شَيْءٍ يَرِيبُكِ مِنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَهُ بَرِيرَةُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ إِنْ رَأَيْتُ عَلَيْهَا أَمْرًا قَطُّ أَغْمِصُهُ عَلَيْهَا أَكْثَرَ مِنْ أَنَّهَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ تَنَامُ عَنْ عَجِينِ أَهْلِهَا فَتَأْتِي الدَّاجِنُ فَتَأْكُلُهُ
“Dan, ketika itu Rasulullah shallaallaahu 'alaihi wa sallam memanggil ‘Aliy bin Abi Thaalib dan Usaamah bin Zaid untuk mengajak keduanya bermusyawarah dalam rangka memisahkan (menceraikan) isterinya selama wahyu belum turun. Adapun Usaamah bin Zaid, ia menunjuki kepada Rasulullah shallaallaahu 'alaihi wa sallam dengan apa yang ia ketahui akan jauhnya istri beliau dari perbuatan tersebut dan dengan apa yang ia ketahui tentang kecintaannya kepada beliau. Usaamah berkata : 'Wahai Rasulullah, mereka adalah isteri-isterimu, kami tidak mengetahui kecuali kebaikan'. Adapun ‘Aliy bin Abi Thaalib, ia berkata : ‘Allah 'azza wa jalla tidak akan memberi kesempitan kepadamu. Masih banyak wanita-wanita lain selain dirinya. Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada budakmu, pasti dia akan jujur". Aisyah berkata : "Kemudian Rasulullah shallaallaahu 'alaihi wa sallam memanggil Bariarah. Beliau bertanya : "Wahai Bariirah, apakah engkau melihat ada sesuatu yang meragukan bagimu dari diri ‘Aaisyah?". Bariirah menjawab : ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak melihat pada dirinya suatu yang kurang selain tak lebih saat ia masih kecil umurnya, ia ketiduran dari menunggu adonan tepung di keluarganya lantas ada binatang jinak yang memakan tepung itu" [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2770. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhaariy dalam beberapa tempat dalam Shahih-nya].