Eksistensi Jin Menurut Syari’at Islam

9 komentar

Dalil Eksistensi Jin dalam Al-Qur’an
1.    QS. Al-Ahqaaf : 29
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran”.
2.    QS. Al-An’aam : 130
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آَيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا
“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini”.
3.    QS. Ar-Rahmaan : 33
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
“Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”.
4.    QS. Al-Jin : 1
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا
“Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata : Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan”.

At-Tafwidl dan Makna Hakiki

33 komentar

Allah ta’ala mengutus Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan kepada umatnya apa yang telah diturunkan kepada beliau berupa Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman :
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” [QS. An-Nahl : 44].
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” [QS. An-Nahl : 64].

Permainan Kata Al-Khuu’iy dalam Permasalahan Perubahan Al-Qur’an

3 komentar

Kita – sebagai umat muslim – tidak habis pikir dengan doktrin teologi golongan yang mengaku beragama Islam namun meyakini adanya perubahan dalam Al-Qur’an. Ya benar, mereka adalah Syi’ah. Telah mutawatir nukilan para ulama mereka terdahulu akan keyakinan ini. Salah satu dasar hukum yang mereka pakai adalah :
عَلِيُّ بْنُ الْحَكَمِ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جَبْرَئِيلُ ( عليه السلام ) إِلَى مُحَمَّدٍ ( صلى الله عليه وآله ) سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ
‘Aliy bin Al-Hakam, dari Hisyaam bin Saalim, dari Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam), ia berkata : “Sesungguhnya Al-Qur’an yang diturunkan melalui perantaraan Jibril (‘alaihis-salaam) kepada Muhammad shallallaahu (‘alaihi wa aalihi) terdiri dari 17.000 (tujuh belas ribu) ayat” [Al-Kaafiy, 4/456].

Surat Tilang : Slip Merah & Slip Biru

8 komentar

Mungkin banyak dari sebagian warga masyarakat pengguna jalan raya yang selama ini melintasi aspal ibukota atau kota-kota di daerah mereka masing-masing, yang belum/tidak mengetahui adanya slip merah dan slip biru Surat Tilang. Dokumen tersebut akan diberikan apabila terjadi kesalahan dan mereka dihadapkan dengan pengadil jalan raya dan dinyatakan bersalah (TILANG).
Selama ini yang terjadi adalah apabila kita melakukan kesalahan di jalan raya tak terkecuali pengguna roda empat atau roda dua, mereka akan dihadapkan pada dua pilihan.
Pertama; mau tidak mau berdamai dengan petugas (tidak mau ditilang)
Kedua; pasrah untuk di tilang (jalan damai tidak tercapai)

Hukum Menqashar Shalat dalam Perjalanan

20 komentar

Al-Imam An-Nasaa’iy rahimahullah berkata :
أخبرني أحمد بن يحيى الصوفي قال حدثنا أبو نعيم قال حدثنا العلاء بن زهير الأزدي قال حدثنا عبد الرحمن بن الأسود عن عائشة أنها اعتمرت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم من المدينة إلى مكة حتى إذا قدمت مكة قالت يا رسول الله بأبي أنت وأمي قصرت وأتممت وأفطرت وصمت قال أحسنت يا عائشة وما عاب علي 
Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Yahyaa Ash-Shuufiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Allaa’ bin Zuhair Al-Azdiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman Al-Aswad, dari ‘Aaisyah : Bahwasannya ia pernah melakukan perjalanan ‘umrah dari Madinah menuju Makkah. Saat saat tiba di Makkah ia berkata : “Wahai Rasulullah, demi ayahku dan ibuku, engkau mengqashar shalat sedangkan aku menyempurnakannya. Engkau berbuka sedangkan aku tetap berpuasa”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai ‘Aaisyah, engkau telah berbuat kebaikan. Dan itu tidak tercela bagiku” [As-Sunan no. 1456].

Hadits Kewajiban Saksi dalam Pernikahan

3 komentar

Artikel ini sebenarnya adalah kelanjutan pembicaraan yang ada di Rujuk Dalam Thalaq Raj’iy (Thalaq Satu Dan Dua) (terutama di bagian komentar).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها وشاهدي عدل فنكاحها باطل، فإن دخل بها فلها المهر، وإن اشتجروا فالسلطان ولي من لا ولي له
“Wanita mana saja yang menikah tanpa ijin dari walinya dan dua orang saksi yang ‘adil, maka pernikahan baathil. Apabila seorang laki-laki telah mencampurinya, maka ia wajib membayar mahar untuknya. Dan bila mereka berselisih, maka sulthan adalah wali bagi mereka yang tidak mempunyai wali”.

Sekilas Tentang Pemikiran ‘Klenik’ Al-Kulainiy dalam Kitab Al-Kaafiy

6 komentar

Dunia ramal-meramal adalah dunia perdukunan yang diharamkan dalam Islam. Para dukun sering kali mengklaim mengetahui hakekat sesuatu yang tersembunyi dengan dalih ‘bisikan’. Sebagian mereka menggunakan pilihan kata : ‘wahyu’. Dengan senjata inilah para dukun melakukan pengibulan secara besar-besaran bahwa mereka mengetahui semua perbendaharaan ilmu keghaiban kepada para pasiennya. Kata para dukun itu, mereka dapat mengetahui apa yang terjadi esok dan kemarin hari. Tak ada yang terlewat jika mereka berkehendak. Sekali lagi, dengan dalih kedekatan mereka dengan para ‘pembisik’ itu. Parahnya, para pasien ini mengangguk-angguk saja tanpa ada sedikit pun rasa penolakan. Lebih parah lagi, mereka yang terlibat dalam praktek perdukunan ini ada yang mengaku diri beragama Islam !!

Siapakah Mujtahid yang Akan Diberi Satu Pahala Atas Ijtihadnya Jika Keliru ?

5 komentar


Dari ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.
“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”.[1]
Hadits ini berbicara tentang permasalahan seorang qadliy. Namun seorang mufti (pemberi fatwa) juga bisa tercakup padanya dengan terkumpulnya sebab bahwasannya perkataan mereka berdua diperintahkan untuk menghasilkan hukum syar’iy. Oleh karena itu, perkataan mereka diberikan ‘udzur jika keliru.

Jika Wanita Berobat...........

4 komentar

عن جابر؛ أن أم سلمة استأذنت رسول الله صلى الله عليه وسلم في الحجامة. فأمر النبي صلى الله عليه وسلم أبا طبية أن يحجمها.
قال: حسبت أنه قال: كان أخاها من الرضاعة، أو غلاما لم يحتلم.
Dari Jaabir : Bahwasannya Ummu Salamah meminta ijin kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk berbekam (hijaamah). Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Thayyibah untuk membekamnya. 
Perawi berkata : Aku (Jaabir) menyangka bahwa beliau bersabda : “Ia (Abu Thayyibah) adalah saudara sepersusuannya atau anak yang belum ihtilam (belum baligh)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2206, Abu Dawud no. 4105, Ibnu Maajah no. 3480, Ahmad 3/350, Ibnu Hibbaan no. 5602, Al-Baihaqiy 7/96, dan Abu Ya’laa no. 2267].

Beberapa Jenis Ikhtilaf dan Motifnya

0 komentar

1.    Ikhtilaf (perselisihan) yang disebabkan oleh hawa nafsu :
Ada kalanya perselisihan lahir dari ketamakan diri untuk mewujudkan obsesi pribadi ataupun perkara lain yang sifatnya individual. Dan terkadang juga yang menjadi pemicu munculnya perselisihan adalah keinginan untuk dikenal sebagai orang yang pandai, memiliki ilmu, dan mengerti agama. Perselisihan semacam ini - bagaimanapun bentuk dan ragamnya - tidak diragukan lagi termasuk perbuatan tercela. Sebabnya adalah karena didominasi oleh dorongan hawa nafsu, padahal hawa nafsu itu tidak mendatangkan kebaikan sama sekali. Allah ta’ala berfirman :
وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah“ [QS. Shaad : 26].

Keutamaan Abu Bakr dan ‘Umar yang Disebutkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Depan ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum

27 komentar

Al-Imam Ibnu Majah rahimahullah berkata :
حدثنا هشام بن عمار ثنا سفيان عن الحسن بن عمارة عن فراس عن الشعبي عن الحارث عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر وعمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين إلا النبيين والمرسلين لا تخبرهما يا علي ما داما حيين
Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan (bin ‘Uyainah), dari Al-Hasan bin Al-‘Umaarah, dari Firaas, dari Asy-Sya’biy, dari Al-Haarits, dari ‘Aliy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Abu Bakr dan ‘Umar adalah dua orang pemimpin bagi orang-orang dewasa penduduk surga, dari kalangan terdahulu maupun yang kemudian selain para Nabi dan Rasul. Jangan engkau khabarkan hal ini kepada mereka wahai ‘Aliy, selama mereka masih hidup” [Sunan Ibni Maajah no. 95].


Kaidah-Kaidah dalam Pengkafiran

7 komentar

Pertama : Pengkafiran adalah hukum syar’i dan merupakan hak murni milik Allah ta’ala, tidak dimiliki oleh individu atau kelompok tertentu.
Konsekuensi dari kaidah ini adalah seseorang tidaklah dikafirkan kecuali yang memang telah dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
وهذا بخلاف ما كان يقوله بعض الناس كأبي إسحاق الإسفراييني ومن اتبعه يقولون لا نكفر إلا من يكفر فإن الكفر ليس حقا لهم بل هو حق لله وليس للإنسان أن يكذب على من يكذب عليه ولا يفعل الفاحشة بأهل من فعل الفاحشة بأهله بل ولو استكرهه رجل على اللواطة لم يكن له أن يستكرهه على ذلك ولو قتله بتجريع خمر أو تلوط به لم يجز قتله بمثل ذلك لأن هذا حرام لحق الله تعالى ولو سب النصارى نبينا لم يكن لنا أن نسبح المسيح والرافضة إذا كفروا أبا بكر وعمر فليس لنا أن نكفر عليا


Beberapa Riwayat tentang Kafirnya Abu Thaalib dan Pastinya Ia Masuk Neraka Jahannam

2 komentar

١ - عن سعيد ابن المسيب، عن أبيه قال : ما حضرت أبا طالب الوفاة، جاءه رسول الله صلى الله عليه وسلم، فوجد عنده أبا جهل وعبد الله بن أبي أمية بن المغيرة، فقال: (أي عم، قل لا إله إلا الله، كلمة أحاج لك بها عند الله). فقال أبو جهل وعبد الله بن أبي أمية: أترغب عن ملة عبد المطلب، فلم يزل رسول الله صلى الله عليه وسلم يعرضها عليه، ويعيدانه بتلك المقالة، حتى قال أبو طالب آخر ما كلمهم: على ملة عبد المطلب، وأبى أن يقول: لا إله إلا الله، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (والله لأستغفرن لك ما لم أنه عنك). فأنزل الله: {ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين}. وأنزل الله في أبي طالب، فقال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: {إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء}.
1.      Dari Sa’id bin Al-Musayyib, dari ayahnya ia berkata : Ketika Abu Thaalib hampir mati, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya dan beliau mendapati Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughiirah di sisi Abu Thaalib. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallaah; satu kalimat yang aku dapat berhujjah membelamu kelak di hadapan Allah”. Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berkata : “Wahai Abu Thaalib, apakah engkau membenci agama ‘Abdul-Muthallib ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak henti-hentinya mengulangi kalimat tersebut agar Abu Thaalib mengucapkannya, namun keduanya (Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Umayyah) juga mengulang apa yang telah mereka katakan sebelumnya. Hingga akhir perkataan Abu Thaalib saat kematiannya adalah : di atas agama ‘Abdul-Muthallib, dan menolak untuk mengucapkan Laa ilaaha illallaah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allah, sungguh aku akan memintakan ampun kepadamu selama tidak dilarang”. Maka Allah menurunkan ayat : “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam” (QS. At-Taubah : 113). Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Thaalib. Dan Allah berfirman kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Qashshash : 56) [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 4675, 4772; Muslim no. 24; Ahmad 5/433; dan yang lainnya].

Teruntuk Mereka yang Bekerja di Kantor Pajak

206 komentar

Islam telah mengharamkan segala bentuk kedhaliman dengan memakan harta orang lain tanpa hak. Allah ta’ala berfirman :
وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقاً مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil…..” [QS. Al-Baqarah : 188].
يا عبادي ! إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما، فلا تظالموا
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku haramkan kedhaliman bagi diri-Ku dan Aku jadikan hal itu keharaman pula atas di antara diri kalian. Maka, jangan saling mendhalimi…” [Hadits Qudsiy, diriwayatkan oleh Muslim no. 2578 dari Jaabir radliyallaahu ‘anhu].