Hadits Pertama
مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي
“Barangsiapa yang menziarahi kuburku, wajib baginya untuk mendapatkan syafa’atku”.
As-Sakhaawiy berkata : “Diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh, Ibnu Abid-Dunyaa, dan yang lainnya dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa. Hadits tersebut juga terdapat pada Shahih Ibni Khuzaimah, dimana dalam kitab tersebut diisyaratkan tentang kedla’ifannya”. [Al-Maqaashidul-Hasanah hal. 413 no. 1125. Lihat juga At-Talkhiishul-Habiir, 2/508 no. 1077].
Khusus perkataan As-Sakhaawiy bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, maka hal itu tidak benar. Tidak diketemukan hadits semisal dalam Shahih Ibni Khuzaimah. Adz-Dzahabiy menyebutkan bahwa Ibnu Khuzaimah menyebutkannya dalam kitab Mukhtasharul-Mukhtashar [lihat Miizaanul-I’tidaal, 4/226].
Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Sunan-nya 3/334 no. 2695 dan Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ 4/1321 no. 1748 dengan sanadnya, dari Musaa bin Hilaal Al-‘Abdiy, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’.
Terdapat perselisihan riwayat Muusaa bin Hilaal, dimana Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’ 8/69 no. 1834, Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 3862, Ibnu Khuzaimah dalam Mukhtasharul-Mukhtashar (sebagaimana disebutkan Adz-Dzahabiy dalam Miizaanul-I’tidaal, 4/226 dan Ibnu Hajar dalam Al-Lisaan, 8/228), dan Ad-Daulaabiy dalam Al-Kunaa 2/64 (sebagaimana disebutkan dalam Lisaanul-Miizaan, 8/229) meriwayatkan dengan sanadnya, dari Muusaa bin Hilaal, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’.
Penyebutan rawi ‘Ubaidullah Al-‘Umariy dalam sanad Ad-Daaruquthniy dan Al-‘Uqailiy adalah keliru. Ibnu ‘Adiy setelah meriwayatkan hadits tersebut dengan penyebutan ‘Abdullah Al-‘Umariy berkata : “Dan ‘Abdullah adalah lebih shahih (penyebutannya daripada ‘Ubaidullah)” [Al-Kaamil, 8/69]. Begitu pula Ibnu Abi Haatim saat menyebutkan biografi Muusaa bin Hilaal, bahwa ia meriwayatkan dari ‘Abdullah Al-‘Umariy [Al-Jarh wat-Ta’diil, 8/166].
Apalagi Ad-Daulaabiy telah secara jelas menyebutkan : ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy Abu ‘Abdirrahmaan - saudara ‘Ubaidillah.
Hal ini dikuatkan oleh Adz-Dzahabiy dimana ia berkata saat menyebutkan biografi Muusaa bin Hilaal : “Ia meriwayatkan dari Hisyaam bin Hassaan dan ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy………… Dan yang paling diingkari padanya adalah haditsnya yang berasal dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’ : “Barangsiapa yang menziarahi kuburku, wajib baginya untuk mendapatkan syafa’atku” [Miizaanul-I’tidaal, 4/225-226].
Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata : “Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dari jalannya dan berkata : ‘Seandainya hadits ini shahih, karena dalam hati (ada sesuatu) dari sanadnya’. Kemudian ia menguatkan bahwasanya hadits tersebut merupakan riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy Al-Mukabbar, seorang yang dla’iif” [At-Talkhiishul-Habiir, 2/508].
Beliau (Ibnu Hajar) juga menukil alasan perajihan ‘Abdullah daripada ‘Ubaidullah dari sebagian huffadh karena Muusaa bin Hilaal hanya menjumpai ‘Abdullah Al-Mukabbar, tidak ‘Ubaidullah. Hal itu dikarenakan ‘Ubaidullah telah meninggal lebih dulu dua puluhan tahun sebelum ‘Abdullah [lihat Liisaanul-Miizaan, 8/231].
Asy-Syaikh Hammaad Al-Anshaariy menyandarkan riwayat ini pada ‘Abdullah Al-Umariy dalam Kasyfus-Sitr (yang tercetak dalam Rasaailun fil-‘Aqiidah, hal. 156).
Hadits ini dla’iif (lemah) dikarenakan :
1. ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy.
Mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umariy ini, ia diperselisihkan para ulama akan kredibilitasnya. Ada yang men-ta’dil-nya, ada pula yang men-jarh-nya. Beberapa di antara mereka akan disebutkan :
Al-Bukhaariy berkata : “Adalah Yahyaa bin Sa’iid melemahkannya” [At-Taariikh Al-Kabiir, 5/441 dan Adl-Dlu’afaa’ Ash-Shaghiir no. 188]. Ia juga berkata : “Seorang yang ditinggalkan, aku tidak meriwayatkan darinya sama sekali” [Tartiib ‘Ilal At-Tirmidziy Al-Kabiir, lembar 75]. Al-‘Ijilliy berkata : “Tidak mengapa dengannya” [Ats-Tsiqaat, no. 729]. Abu Zur’ah menyebutkannya dalam Asaamiyudl-Dlu’afaa’ (no. 167).
Ya’quub bin Sufyaan (Al-Fasawiy) berkata : “Aku mendengar seseorang berkata kepada Ahmad bin Yuunus : “Apakah ‘Abdullah Al-‘Umariy dla’iif ?”. Ia menjawab : “Orang yang men-dla’if-kannya hanyalah orang-orang Rafidlah karena kebenciannya terhadap bapak dan kakek-kakeknya. Jikalau engkau melihat jenggot, warna jenggot, dan rupanya, niscaya akan engkau ketahui ia seorang yang tsiqah” [Al-Ma’rifah wat-Taariikh, 2/665].
At-Tirmidziy berkata : “Ia di-dla’if-kan oleh Yahyaa bin Sa’iid dari sisi hapalan haditsnya” [Al-Jaami’ At-Tirmidziy no. 113]. Ia juga berkata : “Ia bukan seorang yang kuat menurut para para ulama ahli hadits. Ia seorang yang jujur” [idem, no. 172].
An-Nasaa’iy berkata : “Tidak kuat (laisa bil-qawiy)” [Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukiin, no. 341]. Ahmad bin Hanbal berkata : “Shaalih, tidak mengapa dengannya. Telah diriwayatkan hadits darinya. Namun ia tidak seperti ‘Ubaidullah” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 5/109-110]. Abu Haatim berkata : “’Abdullah Al-‘Umariy lebih aku cintai dibandingkan ‘Abdullah bin Naafi’. Ditulis haditsnya, namun tidak boleh berhujjah dengannya” [idem, 5/110].
Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Shuwailih (shalih)” [At-Taariikh, riwayat Ad-Daarimiy, no. 523 dan Taariikh Baghdaad, 10/20]. ‘Aliy bin Al-Madiiniy berkata : “Dla’iif” [Taariikh Baghdaad, 10/20]. Ya’quub bin Syaibaah berkata : “Tsiqah lagi jujur, dan dalam haditsnya idlthiraab (goncang)” [idem]. Shaalih bin Muhammad Al-Baghdaadiy berkata : “Layyin (lemah), dan bercampur haditsnya (mukhtalithul-hadiits)” [idem, 10/20-21]. Dan yang lainnya.
Yang rajih dalam hal ini, ia seorang yang jujur dan mempunyai keutamaan, namun lemah dari sisi hapalannya. Ibnu Hajar memberi kesimpulan : “Dla’iif ‘aabid” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 528 no. 3513].
2. Musa bin Hilaal Al-Bashriy Al-’Abdiy.
Abu Hatim berkata tentangnya : “Majhul” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 8/166 no. 734]. Ibnu ‘Adiy berkata : “Aku berharap, tidak mengapa dengannya (laa ba’sa bihi)” [Al-Kaamil fii Dlu’afaa’ir-Rijaal, 8/69]. Al-’Uqailiy berkata : Tidak sah haditsnya, dan tidak ada muttabi’ padanya (yaitu pada hadits ini)” [Adl-Dlu’afaa’, 4/1321 no. 1748]. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ (2/445 no. 6541).
Catatan : Asy-Syaikh Al-Albaaniy menyatakan kelemahan di sisi lain, yaitu idlthiraab Muusaa bin Hilaal dalam penyebutan syaikhnya, apakah ’Abdullah atau ’Ubaidullah - karena di sini sulit untuk mencari jalan tarjih-nya [lihat Irwaaul-Ghaliil, 4/337].
Muusaa bin Hilaal mempunyai mutaba’ah dari Muslim bin Saalim Al-Juhhaniy sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 12/291 no. 13149. Muslim ini disebutkan dengan Maslamah. Hadits ini tidak shahih karena keberadaan Muslim/Maslamah bin Saalim Al-Juhhaniy. Ibnu Abi Haatim menyebutkannya dalam Al-Jarh wat-Ta’diil 8/269-270 no. 1231 tanpa menyebutkan adanya jarh maupun ta’dil. Artinya, ia seorang perawi majhuul di sisinya. Abu Daawud As-Sijistaaniy berkata : ”Tidak tsiqah” [Tahdziibut-Tahdziib, 10/131 no. 232].
Selain itu, sanad Muslim di sini tersisipi Saalim, antara Naafi’ dan Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhumaa. Besar kemungkinan ini berasal dari Muslim bin Saalim, si perawi dla’iif.
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-Bazzaar dalam Musnad-nya (2/57 – Kasyful-Astaar) dari jalan ’Abdullah bin Ibraahiim, dari ’Abdurrahman bin Zaid, dari ayahnya, dari Ibnu ’Umar. Dalam sanadnya terdapat ’Abdullah bin Ibraahiim Al-Ghiffaariy, seorang yang dla’iif, sebagaimana dikatakan oleh Al-Haitsamiy dalam Majma’uz-Zawaaid (4/2).
Saya (Abul-Jauzaa’) katakan : Bahkan ia sangat dla’iif. Ibnu Hajar berkata : ”Matruuk” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 490 no. 3216]. Lihat biografinya dalam Tahdziibul-Kamaal, 14/274-276 no. 3152.
Hadits Kedua
مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ وَفَاتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي
”Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji, dan kemudian ia menziarahiku setelah matiku, maka itu seperti halnya menziarahiku pada saat aku masih hidup”..
Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 12/406-407 no. 13497, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 5/246 & Syu’abul-Iman no. 3858, Ibnu ’Adiy dalam Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’ 3/268 no. 505, dan Ad-Daaruquthniy dalam As-Sunan 3/333 no. 2693; semuanya dari Hafsh bin Sulaimaan, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Mujaahid, dari Ibnu ’Umar secara marfuu’.
Hadits ini palsu (maudluu’), dikarenakan Hafsh bin Sulaimaan.
Al-Baihaqiy berkata : ”Hafsh menyendiri dalam periwayatan hadits tersebut, dan ia seorang yang dla’iif” [Al-Kubraa, 5/246]. Al-Bukhaariy berkata : ”Mereka (para ulama) meninggalkan haditsnya” [At-Taariikh Al-Kabiir, 2/363 no. 2767]. Muslim berkata : ”Matruukul-hadiits” [Al-Kunaa, lembar 71]. At-Tirmidziy berkata : ”Dilemahkan dalam hadits” [Jaami’ At-Tirmidziy no. 2905]. An-Nasaa’iy berkata : ”Matruukul-hadiits” [Adl-Dlu’afaa’ wal-Matrukuun, no. 134]. Ahmad bin Hanbal berkata : ”Matruukul-hadiits” [Al-’Ilal no. 2298]. Ibnu Khiraasy berkata : ”Pendusta, memalsukan hadits” [Miizaanul-I’tidaal, 1/558 no. 2121]. Ahmad bin Hanbal berkata : ”Matruukul-hadiits” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/173 no. 744]. Yahyaa bin Ma’iin berkata : ”Tidak tsiqah” [idem]. Dan yang lainnya.
Ditambah lagi, Laits bin Abi Sulaim juga seorang perawi dla’iif. Ahmad bin Hanbal berkata : ”Mudltharibul-hadiits, namun orang-orang meriwayatkan darinya”. Yahya bin Ma’iin berkata : ”Dla’iif, namun ditulis haditsnya”. Abu Ma’mar Al-Qathii’iy berkata : ”Ibnu ’Uyainah mendla’ifkan Laits bin Abi Sulaim”. Dan yang lainnya [selengkapnya lihat Tahdziibul-Kamaal, 24/279-288 no. 5017].
Hafsh bin Sulaimaan dalam hadits tersebut mempunyai mutaba’ah dari ’Aaisyah binti Yuunus yang diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 12/406 no. 13496 dan Al-Ausath 1/222-223 no. 287. Hadits ini sangat lemah, sanadnya gelap, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Haafidh Ibnu ’Abdil-Haadiy dalam Ash-Shariimul-Munkiy (hal. 63).
Al-Haitsamiy berkata : ”Dalam sanadnya terdapat ’Aaisyah binti Yuunus, tidak aku ketemukan biografinya” [Majmaa’uz-Zawaaid, 4/2].
Selain ’Aaisyah; ’Aliy bin Al-Hasan bin Haaruun Al-Anshaariy dan Al-Laits Ibn Binti Al-Laits bin Abi Sulaim juga tidak diketemukan biografinya.
Adapun Ahmad bin Rusydiin, ia adalah Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaaj bin Rusydiin Al-Mishriy. Ibnu Abi Haatim berkata : ”Aku tidak meriwayatkan darinya ketika mereka membicarakannya” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 2/75]. Ibnu ’Adiy berkata : ”Mereka mendustakannya, dan aku mengingkari beberapa hal darinya” [Lisaanul-Miizaan, 1/133 no. 538].
Juga, Laits bin Abi Sulaim, seorang yang jujur (shaduuq) namun bercampur hapalannya [lihat Taqriibut-Tahdziib, hal. 817-818 no. 5721].
Hadits Ketiga
مَنْ زَارَنِي بِالْمَدِيْنَة مُحْتَسِباً كُنْتُ لَهُ شَهِيْداً أَوْ شَفِيْعاً يَوْمَ الْقِيَامَة
”Barangsiapa yang berniat untuk menziarahiku di Madinah, maka aku akan menjadi saksi atau pembela baginya di hari kiamat”.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 3860 dan Al-Jurjaaniy dalam At-Taariikh 1/433; semuanya dari jalan Muhammad bin Ismaa’iil bin Abi Fudaik, dari Abul-Mutsannaa Sulaimaan bin Yaziid Al-Ka’biy, dari Anas bin Maalik secara marfuu’.
Hadits ini lemah, karena dalam sanadnya terdapat Abul-Mutsanna Sulaiman bin Yaziid Al-Ka’biy. Ad-Daaruquthniy berkata : ”Dla’iif” [Al-’Ilal, 5/lembar 121]. Abu Hatim berkata : ”Munkarul-hadiits, tidak kuat” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 4/149 no. 645]. Ibnu Hibban berkata : ”Tidak boleh berhujjah dengannya dan juga riwayatnya kecuali sebagai i’tibar” [Al-Majruuhiin, 2/505 no. 1264]. Namun ia juga menyebutkannya dalam kitab Ats-Tsiqaat (6/395). Ibnul-Jauziy memasukkanya dalam Adl-Dlu’afaa’ wal-Matrukuun 2/25 no. 1550. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ 1/446 no. 2632. Ibnu Hajar berkata : ”Dla’iif” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1200 no. 8406].
Hadits Keempat
مَنْ حَجَّ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي
”Barangsiapa yang melaksanakan haji namun tidak menziarahiku, sungguh ia telah berpaling dariku”.
As-Sakhawi berkata : ”Dan bagi Ibnu ’Adiy dalam Al-Kaamil, Ibnu Hibbaan dalam Adl-Dlu’afaa’, Ad-Daruquthni dalam Al-’Ilal serta Gharaaibul-Malik, dan yang lainnya; kesemuanya dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma secara marfu’ : ’ Barangsiapa yang melaksanakan haji namun tidak menziarahiku, sungguh ia telah berpaling dariku’. Hadits ini tidak shahih” [Al-Maqaashidul-Hasanah, hal. 428 no. 1178].
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 2/414 dan Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat 2/217.
Adz-Dzahabiy menyebutkan sanad Ibnu ’Adiy :
”Telah berkata Ibnu ’Adiy : Telah menceritakan kepada kami ’Aliy bin Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin An-Nu’maan bin Syibl : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepadaku Maalik, dari Naafi’, dari Ibnu ’Umar secara marfuu’ : ’ Barangsiapa yang melaksanakan haji namun tidak menziarahiku, sungguh ia telah berpaling dariku’”.
Kemudian Adz-Dzahabiy memberikan penilaian : ”Hadits ini palsu (maudluu’)” [Miizaanul-I’tidaal, 4/265 no. 9095].
Kepalsuan hadits ini berasal dari An-Nu’man bin Syibl Al-Baahiliy Al-Bashriy. Muusaa bin Haaruun berkata : ”Ia tertuduh (muttaham)”. Ibnu Hibbaan berkata : ”Ia datang dengan banyak bencana”. Namun menurut Ad-Daaruquthniy, cacat hadits ini berasal dari Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’maan Asy-Syibl [Miizaanul-I’tidaal, 4/265 dan Lisaanul-Miizaan, 8/285].
Ad-Daaruquthniy telah menuduhnya – yaitu Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man - (melakukan dusta) dan sangat melemahkannya [lihat Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’, 2/369 no. 5954 dan Tahdziibut-Tahdziib, 9/433 no. 710]. Ibnu Hajar memberi kesimpulan : ”Matruuk” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 894 no. 6315].
Insya Allah bersambung................
[Abu Al-Jauzaa’ Al-Atsariy – http://abul-jauzaa.blogspot.com].
ثنا القاضي المحاملي نا عبيد الله بن محمد الوراق نا موسى بن هلال العبدي عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من زار قبري وجبت له شفاعتي
حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي، قال : حدثنا جعفر بن محمد البزوري، قال : حدثنا موسى بن هلال البصري، عن عبيد الله بن عمر، عن نافع عن ابن عمر، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من زار قبري فقد وجبت له شفاعتي.
ثنا محمد بن موسى الحلواني، ثنا محمد بن إسماعيل بن سمرة، ثنا موسى بن هلال عن عبد الله العمري، عن نافع، عن ابن عمرقال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ....
أخبرنا ابو سعد الماليني انا ابو احمد بن عدي الحافظ نا محمد بن موسى الحلواني نا محمد بن إسماعيل بن سمرة نا موسى بن هلال عن عبد الله العمري عن نافع عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من زار قبري وجبت له شفاعتي
حدثنا علي بن معبد بن نوح قال حدثنا موسى بن هلال قال حدثنا عبد الله بن عمر العمرى أبو عبد الرحمن أخو عبيد الله عن نافع عن ابن عمر